• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Berkaca Karhutla Canberra, BPPT Usulkan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Potensi Hotspot Riau

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan memiliki beberapa fungsi yakni memindahkan curah hujan demi mengantisipasi banjir serta dapat diterapkan pula untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti yang terjadi di Riau.


Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Kantor BPPT, Jakarta, Jumat (24/1/2020).


"Ini upaya kita dorong untuk penguatan ekosistem dan harapan saya sebelum terjadinya hotspot (titik panas) di Riau nanti di Maret dan TMC sudah dilaksanakan," kata Hammam.


TMC, kata Hammam, diterapkan saat munculnya titik api atau hot spot yang terdeteksi di kawasan hutan dan lahan. Melalui teknologi ini, awan hujan akan diturunkan pada titik-titik panas itu untuk menghindari meluasnya karhutla.


"Sehingga kita akan membasahi lahan-lahan gambut dan hutan di sana dan mereka (tanah) cukup basah dan tidak berpotensi untuk munculnya titik api," jelas Hammam.


Hammam kemudian menekankan bahwa karhutla merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahunnya di sebagian wilayah Indonesia.


Fenomena ini bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara lainnya.


Sehingga menurutnya, sinergi semua pihak diperlukan untuk upaya pencegahan bencana karhutla.


"Ini harus membangun seluruh unsur dan komponen terkait penanggulangan bencana sebagai negara yang tangguh bencana," kata Hammam.


Hammam pun mencontohkan karhutla yang kini terjadi di Australia, penanggulangan di negara itu hanya mengandalkan water bombing.


"Di Australia, bisa kita lihat penanganan karhutla dilakukan dengan water bombing. Dari berbagai media yang kita cermati, hasilnya tidak signifikan. Water bombing lebih berat karena kita harus mematikan api," tutur Hammam.


Berkaca dari peristiwa karhutla yang terjadi di Canberra Australia, Hammam menyebut bahwa TMC perlu dilakukan guna mencegah terulangnya bencana karhutla yang wempst melanda provinsi Riau, Sumatra Selatan, Jambi dan beberapa wilayah lainnya.


Dari data cuaca BMKG, potensi titik panas yang kerap menjadi bencana karhutla berpotensi terjadi pada Februari ini.


Hammam mengharapkan pemanfaatan TMC ini dapat dioptimalkan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya karhutla.


"Kami usulkan pemanfaatan TMC ini dapat dioptimalkan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya karhutla di wilayah tersebut," papar Hammam.

 

Penguatan TMC


BPPT menggelar FGD tentang Penguatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Disampaikan Hammam dalam sambutannya, penguatan TMC dibutuhkan khususnya dari sisi anggaran dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).


TMC tengah didorong untuk dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selanjutnya, "Kami minta Komisi VII (DPR) menyampaikan dukungan TMC sebagai sebuah kegiatan rutin dalam APBN baik untuk mengatasi kekeringan karhutla (kebakaran hutan dan lahan), mitigasi banjir, dan semua aspek yang melingkupi untuk menjawab tantangan siklus bencana yang sifatnya permanen,".


Hal itu karena setiap tahunnya Indonesia berpotensi dilanda bencana, sehingga ekosistem yang berfokus pada tindakan penanggulangan sangat  diperlukan.

 

"FGD (diskusi kelompok terarah) ini diharapkan akan menghasilkan kesimpulan rekomendasi bagaimana kota bagian yang tak terpisahkan dalam upaya mencapai sebuah ketangguhan terhadap bencana dalam konteks pembangunan nasional," ujar Hammam.


Pesatnya perkembangan teknologi diharap mampu menjawab tantangan ke depan terkait upaya penanggulangan bencana alam. Salah satunya dengan modifikasi cuaca. 


"Kami sangat berharap kemajuan teknologi dalam segala aspek dan teknologi TMC bukan hanya satu disiplin tapi bicara perubahan iklim dan automasi dan data sains dan kecerdasan buatan dan internet of things dan seluruh terkait operasi rekayasa cuaca tersebut," ujar dia.

 

Kepala BPPT juga mengungkapkan bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca ini akan dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI), untuk melakukan predictive modelling, dengan data yang diperoleh dari BMKG


 

Rencana pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam operasi TMC, akan berbasis machine learning. BPPT sudah mengumpulkan banyak data dari tahun ke tahun bersama BMKG, Lapan dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

 

Data ini digunakan untuk mempelajari pola cuaca kita sepanjang tahun, musim hujan maupun panas, yang menghasilkan model prediksi bagi mesin AI. Misalnya titik api (hotspot) di Riau biasanya terjadi bulan Maret, teknologi AI akan mengeluarkan alarm/peringatan dini sebelumnya.

 

Jadi dengan AI, upaya pencegahan dapat dioptimalkan. Sehingga sebelum lahan gambut terbakar, Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca lebih dulu dilakukan, guna membasahi lahan gambut yg berpotensi mnjadi titik hotspot, penyebab Karhutla.


Perlu diketahui bahwa Pemerintah sejak 3 Januari lalu telah melaksanakan TMC untuk mencegah terjadinya banjir yang sempat melanda Jabodetabek pada awal Januari 2020.


Dari hasil pelaksanaan, ditunjukkan bahwa pelaksanaan operasi TMC berhasil mereduksi 44 persen curah hujan. Perlu diketahui, operasi TMC ini merupakan ikhtiar mencegah banjir tanpa menghentikan hujan. (HUMAS BPPT)

 

TPSA, BBTMC, Operasi TMC, Kebakaran Hutan, Hammam Riza


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT