• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Sinergitas dan Kolaborasi Dalam Penanggulangan Bencana

 

BPPT melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) hingga saat ini telah melakukan operasi TMC sebanyak 13 kali yang dimulai sejak 3 Januari 2020. Seperti yang kita lihat di media sosial bahwa TMC ini dianggap mengusir hujan walaupun sebetulnya tidak demikian, kata Kepala BPPT Hammam Riza saat rapat dengan BNPB, Lembaga Negara dan Instansi Pemerintah terkait bencana banjir Jabodetabek di awal 2020, di Jakarta (16/01).

 

Lanjut Hammam, yang kita lakukan adalah mengurangi hujan untuk menanggulangi dampak banjir dengan melakukan operasi TMC. Dalam pelaksanaanya, operasi TMC ini fokus di wilayah Jabodetabek agar awan yang berpotensi masuk ke Jabodetabek tidak menghasilkan hujan yang sangat lebat.

 

Jadi potensi curah hujan dalam sepakan ke depan menurut Hammam, masih berpotensi intensitas lebat terumata daerah pesisir Barat Sumatera, Sumatera Bagian Selatan dan periode 17 sampai 20 januari, serta di Jawa bagian barat dengan tengah periode 20 – 22 januari masih potensi cuaca ekstrim baik karena angin atau aliran angin dari Afrika kemarin

 

Untuk Jabodetabek pengaruh dampak dari China dan Hongkong, karenanya kita harus benar benar mendukung operasi TMC ini. Terakhir masih ada potensi peningkatan curah hujan yang ekstrem terdiri dari 6 lokasi yaitu Sumatera Utara, Lombok, Aceh, ambon, Maluku Utara dan Papua, jelasnya.

 

Sementara, Kepala BNPB Doni Monardo menyampaikan bahwa bencana adalah urusan bersama, kemampuan masing masing lembaga secara individu sudah sangat bagus tetapi perlu meningkatkan kolaborasi dan sinergitas dalam satu Tim Pemerintah yang solid untuk memberikan rasa aman, rasa nyaman dan keselamatan masyarakat.

 

Menurutnya, pemerintah harus mampu memberikan informasi yang akurat, resmi dan dapat dipercaya, untuk itu kaidah kaidah ilmiah harus terus dijaga dan harus terukur. Informasi ini tidak hanya berguna bagi masyarakat tetapi juga sangat dibutuhkan oleh para turis sehingganya rasa aman, nyaman dan keselamatan dapat terwujud.

 

Doni menyebut bahwa pembagian peran harus jelas sesuai kewenangan masing-masing Institusi, yakni: (1) BMKG memiliki kemampuan untuk monitoring ancaman bencana hidrometeorologi. (2) Badan Geologi ESDM memiliki kemampuan untuk memantau dan mitigasi bencana geologi dan gunung api serta tanah longsor. (3) LAPAN memiliki kemampuan untuk deteksi dini dan analisis ancaman bencana melalui citra satelit serta pengembangan teknologi yang terkait pemantauan ancaman bencana seperti Radar Cuaca, drone, dan sebagainya yang layak kita beri kesempatan untuk digunakan di Indonesia sebagai bagian dari kedaulatan teknologi kebencanaan.

 

(4) LIPI memiliki banyak peneliti dan hasil penelitian dasar yang sangat berguna untuk lebih memahami risiko bencana yang sangat diperlukan bagi masyarakat maupun kebijakan publik yang sensitif terhadap risiko bencana. (5) BIG memiliki diberikan mandat sebagai pengelola data peta di Indonesia, di mana BNPB sebagai wali data peta ancaman bencana dan risiko bencana. (6) BPPT banyak memiliki perekayasa untuk dapat menghasilkan karya karya inovatif untuk solusi masalah bencana diantaranya TMC, pembukaan lahan tanpa bakar dan sebagainya.

 

Sebagai informasi, acara tersebut juga dihadiri Kepala BMKG Dwikora Kamawati, Kepala BPPT, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, Kepala BIG Hasanuddin Z Abidin, Sekretaris Jenderal, Sekretaris Menteri, Deputi atau pejabat yang mewakili Kementerian/Lembaga, Pejabat di lingkungan BNPB, perwakilan World Bank serta Forum Masyarakat. (Humas/HMP)

 

Tag:

BPPT, TPSA, BBTMC, Banjir Jabodetabek, Hammam Riza, BNPB, Doni Monardo

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT