• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Teknologi Untuk Dorong Peningkatan Produktivitas Pertanian

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan teknologi kini memiliki peranan penting dalam mendukung optimalisasi dalam segala sektor, termasuk pertanian.

 

Ia menjelaskan melalui penerapan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini, hambatan yang biasa dihadapi para petani hingga pelaku usaha bisa diminimalisir.

 

Ditemui usai melepas ekspor komoditas pertanian di Pabrik PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Divisi Bogasari, Jakarta Utara, Rabu (27/11/2019), ia menilai teknologi mampu mendorong optimalisasi pada lahan pertanian.

 

Melalui pemanfaatan teknologi, para petani bisa meminimalisir gagal panen yang biasa ditimbulkan akibat bencana kekeringan.

 

Salah satu teknologi yang bisa diterapkan untuk mengantisipasi bencana kekeringan adalah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC).

 

Ditemui di tempat terpisah Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan selama ini layanan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Indonesia kerap digunakan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), maupun untuk pengisian waduk.

 

Dirinya pun menyambut baik pernyataan Menteri Syahrul yang mulai melirik penggunaan teknologi hujan buatan untuk bidang pertanian.

 

"Teknologi modifikasi cuaca bisa diterapkan di sektor pertanian untuk dapat meningkatkan hasil produksi. Ini sudah terbukti berdampak baik, dan telah dilakukan oleh Tiongkok dan Thailand," terang Hammam

 

Ditambahkannya, penerapan TMC di Thailand dilakukan setiap tahun dari bulan April-Oktober di seluruh area pertaniannya untuk memastikan tercukupinya kebutuhan air, guna menjamin hasil produksi pertanian.

 

"Persiapan, strategi, dan kontinuitilah yang menjadikan Thailand dikenal maju dan berhasil dalam hal produk hasil pertaniannya," papar Hammam.

 

Hammam pun mengatakan medio Agustus lalu Pemerintah melalui BPPT, BMKG, dan BNPB sudah merencanakan dan mempersiapkan teknologi modifikasi cuaca untuk pertanian. Namun dari pantauan radar BMKG, sulit sekali untuk mendapatkan bibit awan di iklim seperti saat ini.

 

"Kerja sama kami dengan BMKG sudah terjalin baik, bahkan Oktober lalu kita sudah melakukan MoU pengembangan teknologi modifikasi cuaca berbasis kecerdasan buatan yang disebut Smart TMC," terang Hammam.

 

Ditambahkan olehnya saat ini Smart TMC memang ditujukan sebagai solusi atasi karhutla. Tapi sistem ini bisa saja dikembangkan lebih lanjut untuk mendeteksi dan mengintervensi kekeringan di lahan produktif pertanian.

 

"Karena kita konsepnya sistem cerdas, menggunakan komponen industri 4.0, mulai dari kecerdasan buatan (AI), Big Data, dan internet of things (IoT), bisa saja kedepannya unsur pertanian kita masukkan kedalamnya. Itu semua possible, dan bisa terealisasi dengan kerja bersama," ujarnya.

 

Hammam juga yakin keinginan Menteri Syahrul, mengenai prediksi terhadap cuaca dan iklim, potensi kekeringan, serta polanya dapat terwujud.

 

"Semua paramater pertanian menganai data waktu tanam hingga panen, lokasi tanam, pola iklim dan cuaca, semuanya akan dikumpulkan di Big Data. Selanjutnya dengan bantuan analisa teknologi AI, akan menghasilkan rekomendasi kapan dan daerah mana yang membutuhkan teknologi modifikasi cuaca," detil Hammam.

 

Kepala BPPT pun berterima kasih atas dukungan Menteri Syahrul yang mendukung langkah BPPT sebagai institusi pemerintah yang berfokus pada bidang kaji terap teknologi dalam memutakhirkan teknologi tepat guna di era disrupsi teknologi ini.

 

"Pada dasarnya kami sebagai lembaga kaji dan terap teknologi siap bersinergi bersama Kementerian dan Lembaga untuk mendorong kesuksesan pemanfaatan teknologi. Terlebih ini untuk kemajuan Indonesia, IPTEK siap menjadi penghela pertumbuhan ekonomi Indonesia," pungkas Hammam

 

 

Teknologi Modifikasi Cuaca

 

 

Perlu diketahui bahwa TMC yang dilakukan oleh BPPT, adalah sebuah pemanfaatan teknologi yang berupaya  inisiasi ke dalam awan. Agar proses yang terjadi di awan lebih cepat, dibandingkan dengan proses secara alami. 

 

Tri Handoko Seto selaku Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, menguraikan bahwa hujan buatan tidak dapat diartikan secara harfiah sebagai pekerjaan membuat hujan. Karena teknologi ini  berupaya untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan.

 

"Hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca ini adalah, dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air) sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan," papar pria yang akrab dipanggil Seto tersebut.

 

Selain itu Operasi TMC ini tentunya juga tidak lepas dari ketersediaan yang diberikan oleh alam. Artinya jika awannya banyak, kita juga akan dapat  menginkubasi lebih banyak dan otomatis akan menghasilkan hujan yang lebih banyak juga, begitupun sebaliknya.

 

Kemudian terkait dengan kesiapan BPPT dalam melakukan operasi TMC, Seto menyebut pihaknya perlu melakukan beberapa persiapan terlebih dahulu seperti koordinasi dan hal teknis lainnya.

 

Persiapan teknis ini seperti memodifikasi pesawat untuk dapat digunakan dalam melaksanakan Operasi TMC. Setelah itu adalah  mendatangkan pesawat ke lokasi,  menyiapkan sumberdaya manusia, serta menyiapakan bahan semai.

 

"Untuk melakukan Operasi TMC pun butuh pesawat  yang biasanya dimodifikasi khusus untuk operasi TMC, guna mengangkut kru serta bahan semai, berupa garam halus yang nantinya akan disemai di dalam awan," paparnya.


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT