• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Kualitas Air Tanah Nasional Cenderung Rendah, BPPT Beri Solusi Ketersediaan Air Layak Minum 

 

Air minum merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus tercukupi. Dalam Millenium Developments Goals (MDGs) yang berakhir di September 2015, tingkat pemenuhan kebutuhan air minum untuk perdesaan masih di bawah yang ditargetkan yakni 68,8%.

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Tim Air Bersih dan Sanitasi menyebut permasalahan yang sering dijumpai adalah kualitas air tanah maupun air sungai yang digunakan masyarakat kurang memenuhi syarat sebagai air minum yang sehat. "Bahkan di beberapa tempat tidak layak untuk diminum," sebut Ketua Tim Tim Air Bersih dan Sanitasi, Rudi Nugroho pada helatan jumpa pers di Kantor BPPT, Jakarta, (17/03).

 

Untuk mengatasi masalah tersebut, BPPT sebut Rudi, telah mengkaji terap Teknologi Biofiltrasi dan  Teknologi Ultrafiltrasi. Kedua teknologi yang dihasilkan oleh Pusat Teknologi Lingkungan BPPT tersebut diyakini Rudi dapat meningkatkan kualitas air baku yang tercemar limbah domestik, untuk  selanjutnya diolah menjadi air siap minum.  "Teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan ketersediaan air minum yang layak dan bersih di Indonesia," tegas Rudi.

 

Target universal access atau akses 100% terhadap sumber air minum yang aman lanjutnya, bukanlah hal mudah yang bisa dicapai. Kendala utama yang dihadapi adalah kualitas air baku yang semakin menurun karena beban pencemaran yang semakin tinggi. "Secara jumlah, sering kali kita menghadapi kekurangan air baku terutama pada musim kemarau, sementara di musim hujan kita menghadapi masalah banjir," paparnya.

 

Institusi penyedia Air Minum atau PDAM tutur Rudi, juga memiliki berbagai kendala. Banyak PDAM  harus menanggung harga produksi yang lebih tinggi daripada tarif atau harga air dari masyarakat. Masalah berikutnya adalah tingkat kebocoran yang masih cukup tinggi yakni rata-rata 33%.  Selain itu sambungnya, masih banyak masyarakat yang tidak terjangkau oleh sistem perpipaan PDAM yang tinggal di daerah pesisir maupun pelosok yang kualitas air bakunya kurang memadahi seperti gambut atau bahkan payau/asin.

 

"Untuk mengatasi hal tersebut, perlu lompatan besar dan sinergi yang kuat semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, maupun masyarakat untuk memberikan solusi konkrit," ujarnya di hadapan awak media.

 

Rudi juga mengungkapkan bahwa BPPT terus mengembangkan berbagai teknologi untuk memberikan solusi peningkatan akses air minum. "Selain teknologi Biofiltrasi dan Ultrafiltrasi untuk perbaikan kualitas air baku PDAM, BPPT juga mengkaji terap teknologi online monitoring untuk pengendalian pencemaran air baku, teknologi daur ulang air limbah untuk substitusi kebutuhan air bersih, serta teknologi pengolahan air gambut maupun air payau/asin untuk masyarakat terpencil serta daerah perbatasan," pungkasnya. (Humas/HMP)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT