Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Fenomena Banjir Sebagai Salah Satu Dampak Pemanasan Global

Global warming atau pemanasan global menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, dampak dari pemanasan global menyebabkan iklim tidak teratur, seperti musim kemarau yang berkepanjangan dan musim hujan yang terus-menerus.

 

Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL-BPPT) , Rudi Nugroho, mengungkapkan apabila musim hujan terjadi sangat panjang dan tanah resapan di kota-kota sudah terbatas, maka otomatis akan terjadi genangan yang mengakibatkan banjir.

"Ini sudah menjadi rahasia umum bahwa dampak dari pemanasan global mengakibatkan iklim tidak teratur dengan hujan yang berdurasi panjang dan menyebabkan banjir di mana-mana. Belum lagi ditambah oleh pembangunan gedung-gedung yang mengakibatkan daerah resapan air semakin berkurang," kata Rudi.

Lalu, bagaimana cara sederhana untuk mengatasi banjir yang berasal dari curah hujan yang sangat tinggi?

"Cara sederhana untuk mengatasi banjir yang diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi adalah dengan membangun sumur-sumur resapan air di pemukiman-pemukiman warga. Seluruh penduduk harus diedukasi sehingga sadar dengan pentingnya sumur resapan untuk mengatasi banjir," ujar Rudi.

Selain itu, tambah Rudi, masyarakat juga harus diedukasi tentang pentingnya suatu teknik atau metode penampung air hujan dan peresapan air hujan. Teknik ini harus digalakkan kepada masyarakat untuk menggunakannya masing-masing rumah.

"Selama ini BPPT melalui PTL telah membuat konsep yang diberi nama Sistem Pemanfaatan Air hujan (SPAH). SPAH terdiri dari tiga unit, 1) sistem penampungan (talang dan bak penampung); 2) peresapan air hujan; 3) pengolahan air atau mengubah kualitas air hujan menjadi lebih baik dan dapat diminum," kata Rudi.

Tahun 2010 lalu, BPPT bekerjasama dengan Kementrian Ristek mensosialisasikan teknik SPAH ke sekolah-sekolah. Tujuannya agar para murid bisa teredukasi bahwa air hujan itu bisa diolah dan dimanfaatkan dalam rangka untuk melakukan penghematan air.

"Bentuk pengolahan itu tergantung pada target air yang diinginkan. Apakah untuk menyiram tanaman, cuci mobil, madni, dan air minum. Kalau hanya untuk menyiram tanaman tentu hanya dengan menggunakan filter konvensional, sedangkan untuk bisa menjadi air minum harus dilakukan ultrafiltrasidikombinasi dengan ultraviolet agar bakteri di dalam air hilang," jelas Rudi.

Sebagai informasi, sejak 2010 lalu, ada satu pesantren di wilayah Pandegelang yang memanfaatkan teknik SPAH selama tiga tahun ini. Mereka memanfaatkan air hujan untuk keperluan sehari-hari, seperti menyiram tanaman hingga dijadikan air minum. (tw/SYRA/Humas)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id