• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Bersama PTPN V Ubah Limbah Cair Kepala Sawit Menjadi Sumber Listrik Terbarukan

Pilot Plan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas Palm Oil Mild Efluent (POME) yang dibangun BPPT bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V telah berhasil menyalurkan 700 KW listrik untuk mendukung operasional Pabrik Palm Kernel Oil di Tandun, milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V.

 

Pemanfaatan listrik PLT Biogas ini pun diresmikan bersama oleh Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Risen dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro, Kepala BPPT Hammam Riza, dan Direktur Utama PTPN V Jatmiko K. Santosa di Pekebunan Kelapa Sawit (PKS) Terantam, Kab. Kampar, Riau, Jumat (06/03).

 

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan PLT Biogas ini merupakan upaya dari BPPT untuk menerapkan energi baru terbarukan (EBT), kali ini dengan konsep waste to energy, mendukung Perpres No. 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

 

“Target biogas pada bauran energi EBT sebesar 23% pada tahun 2025, dan itu membutuhkan biogas sekitar 489,8 juta m3. Saya yakin apabila PLT Biogas ini diterapkan juga di seluruh PKS yang potensial, target tersebut akan tercapai,” ujar Hammam.

 

Hammam pun mengungkapkan hingga saat ini limbah cair pabrik kelapa sawit masih dibuang dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal dari limbah tersebut dapat diproses menjadi bahan bakar antara lain biogas, hidrogen, methanol, atau dikonversi menjadi listrik.

 

“Bila seluruh limbah POME dapat diproses menjadi listrik maka akan menghasilkan 1,5 GW. Kemudian, kalau ingin dimanfaatkan sebagai bahan bakar, maka dapat menghasilkan sekitar 3,24 juta ton LPG atau 56,54% dari total kebutuhan LPG nasional. Ini dampaknya besar, untuk menekan impor,” terangnya.

 

Lebih lanjut Kepala BPPT juga mengapresiasi disain PLT Biogas yang dikerjakan oleh Pusat Teknologi Sumber Daya Energi dan Industri Kimia BPPT. Di atas kertas disain ini diklaim mampu menghasilkan listrik sebanyak 700 kW, namun saat beroperasi, listrik yang dihasilkam mampu mencapai 890 kW atau 121% dari kapasitas disain.


“Ini merupakan prestasi dalam rangka proven technology biogas covered lagoon yang dilengkapi dengan sistem pengaduk khusus untuk menanggulangi penurunan produksi, sehingga produksi biogas dapat berjalan optimal sepanjang tahun,” terangnya

 

Untuk meningkatkan kualitas biogas, Hammam menjelaskan bahwa pilot plant ini dilengkapi dengan unit pemurnian dan bioscrubber yang dapat menurunkan impurities, sehingga gas yang dihasilkan dapat diumpankan ke engine untuk menghasilkan listrik dengan aman.

 

“Semua teknologi yang disematkan disini selain mengusung konsep waste to energy juga telah menerapkan kaidah industri 4.0. Dengan bantuan Internet of Things (IoT), operasional PLT Biogas telah terkoneksi langsung secara realtime di Jakarta dan Puspiptek Serpong. Jadi kita bisa memantau dan mengontrol tanpa harus on site,” papar Hammam.

 

Kepala BPPT pun mengatakan PLT Biogas ini memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mencapai 60% dengan total biaya investasi teknologi sebesar Rp 27 Miliar. PLT Biogas ini berpotensi untuk menghemat bahan bakar sekitar Rp 12,4 Miliar/tahun.

 

“Selain mendapatkan energi dari limbah sawit, Keuntungan lain yang dapat dinikmati adalah pengurangan emisi yang sangat signifikan, serta potensi penjualan kredit karbon sebesar 18.000 t-CO2/tahun atau sekitar Rp. 2,5 Miliar,” ujar Kepala BPPT.

 

Ekonomi Tidak Berujung

 

Dalam kesempatan yang sama, Menristek/Kepala BRIN Bambang P.S. Brodjonegoro mengapresiasi langkah PTPN V yang berani berpetualang memanfaatkan teknologi bersama BPPT hingga menghasilkan listrik dari limbah sawit.

 

“Ini sebuah investasi teknologi, PTPN V dapat manfaat luar biasa karena ada penghematan listrik, dan limbah sawit pun akhirnya termanfaatkan. Kalau semua limbah bisa dikonversikan menjadi gas, maka akan ada potensi ketersediaan listrik untuk wilayah sekitar, setidaknya masyarakat Kampar,” ujar Menteri Bambang.

 

Dirinya pun menilai ketersediaan listrik secara mandiri ini selaras dengan konsep circular economy atau ekonomi yang tidak ada ujungnya. Karena yang kita pelajari selama ini hanya konvensional, dimana semuanya akan berujung pada limbah (hasil buangan).

 

“Apa yang dilakukan hari ini, ekonomi tidak berhenti di sampah. Sampah diolah jadi listrik, listrik menghemat biaya produksi, produktivitas sawit meningkat, PTPN V mampu membeli tandan buah segar dari masyarakat dengan harga lebih tinggi, masyarakat sejahtera, daya beli meningkat, dan limbah pun bermanfaat,” detilnya.

 

Kedepan, Menteri Bambang berharap, tidak hanya limbah cari dari sawit saja yang dimanfaatkan, namun juga limbah padatnya. Limbah cair sebagai biogas dan limbah padat menjadi biomassa.

 

“Kalau ini bisa diterapkan di PKS yang ada, maka teknologi ini mampu menjadi jawaban permasalahan limbah sawit, baik cair dan padat. Dampak beruntun selanjutnya adalah kebutuhan listrik perusahaan dapat terpenuhi secara mandiri, dan membantu mengatasi ketersediaan listrik di daerah terpencil, terutama masyarakat yang bermukim di areal perkebunan sawit,” harapnya.

 

Senada dengan harapan pemerintah, Direktur Utama PTPN V Jatmiko K. Santosa menyampaikan, perusahaannya senantiasa fokus dalam penerapan sawit lestari, termasuk dalam pengelolaan limbah sawit baik cair maupun padat.

 

"Kami senantiasa berupaya memanfaatkan teknologi, ini tidak hanya bagi perusahaan, namun juga yang berdampak bagi masyarakat," ujar Jatmiko.

 

Dirinya berterima kasih kepada BPPT yang bersama-sama telah membangun PLT Biogas POME di Terantam yang mampu menggerakkan mesin Pabrik Palm Kernel Oil/PPKO Tandun.

 

“Dari PLT ini perusahaan dapat menghemat Rp 6 miliar biaya operasional PPKO setahun, ini dampaknya besar bagi kami,” terangnya

 

Lebih lanjut, PTPN V dengan BPPT juga akan membangun pembangkit Co-Firing di Sei Pagar, yang mampu menjadi alternatif sumber energi penggerak boiler menggantikan cangkang sawit.

 

“PLT Biogas kami sudah diapresiasi oleh Holding Perkebunan, ditambah lagi dengan rencana pembangkit Co-Firing. Saya yakin teman-teman di PTPN lain yang sulit menjual hasil listrik berlebih akan segera mereplikasi konsep ini, karena dampaknya langsung ke produksi minyak sawit,” detilnya.

 

Dibandingkan swasta, menurut Jatmiko PTPN V lebih produktif, namun masalahnya di biaya produksi. Semoga dengan bantuan dari BPPT, akan memberikan solusi teknologi yang ramah lingkungan.

 

“Saat ini kita mulai dari limbah sawitnya dulu, kedepan kita manfaatkan produk turunan dari sawit lainnya,” tutupnya. (Humas/HMP)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT