Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Tawarkan Inovasi Rumah Tahan Gempa untuk Lombok, Buatan Lokal

 

 

Guncangan gempa Lombok menyisakan banyak kerusakan hunian tempat tinggal dan fasilitas umum. Hingga kini sebagian besar warga masih tinggal di tenda pengungsian.
 
 
Menyikapi hal ini BPPT melalui Pusat Teknologi Material (PTM), coba menawarkan inovasi Rumah Tahan Gempa. Diungkap Direktur Pusat Teknologi Material BPPT Mahendra Anggaravidya, rumah ini konstruksi dan materialnya ramah terhadap gempa.
 
 
"Rumah ini disusun per panel, kalaupun roboh tidak mencelakai penghuni. Karena material ringan yang terbuat dari komposit sandwich. Kalaupun ada yang jatuh menimpa berat panel hanya 2 kilogram. Jadi tidak begitu berbahaya," paparnya di Kantor BPPT, Jakarta, Kamis (30/09/2018).
 
 
Posisi rumah ini urainya, disambung dalam ikatan yang utuh, jadi ketika terkena beban gempa, sambungan tersebut tidak tercerai berai, atau tidak terjadi roboh.
 
 
"Bahannya sandwich panel buatan BPPT yang bermitra dengan industri lokal. Dalam hal ini BPPT berperan dalam memformulasikan bahan komposit, lalu menyusun desain dan di produksi massal oleh industri lokal. Jadi ya hampir 80 persen TKDN," ujarnya.
 
 
Dari uji simulasi beban gempa menunjukkan, setelah Simulasi Percepatan 2,28 G dalam frekuensi 0,1-10 Hz dengan metode (spectrum) serta kombinasi beban mati, hidup dan angin. Hasil simulasi dan analisis struktur menggunakan SAP2000, menunjukkan struktur tetap aman  dengan kombinasi frame dan sandwich.
 
 
Meski ini sifatnya simulasi, PTM BPPT tengah membuat permodelan bertipe 21 dan 36 rencananya untuk dibawa ke Lombok. Pembangunan rumah komposit ini membutuhkan waktu 1 minggu per unit. 
 
 
Untuk itu kata Mahendra, dibutuhkan sinergi dari pemangku kepentingan seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, BNPB dan BUMN untuk segera dipasang di Lombok. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa model rumah tersebut memang kokoh dan layak huni di wilayah gempa.
 
 
"Selain itu juga kami inginkan ada dukungan khusus yang sifatnya pendanaan, khususnya untuk memperbanyak jumlah unit yang akan dijadikan bantuan," ungkapnya.
 
 
Satu unit rumah dirinci olehnya, membutuhkan anggaran sekitar 40 jutaan untuk rumah komposit tipe 21. Sedangkan untuk tipe 36 akan menghabiskan dana 70 jutaan per unitnya.
 
 
"Selain kedua tipe tersebut, kami juga bisa membuat ukuran yang di kustom. Biaya permeternya dua jutaan. Bisa untuk ukuran besar untuk pembuatan fasilitas umum seperti Puskesmas atau tempat ibadah," urainya.
 
 
Intinya kata Mahendra, pihaknya yakin bahwa rumah komposit ini harusnya dapat menjadi model untuk diterapkan di wilayah rawan gempa.
 
 
"Rumah komposit inovasi BPPT ini patut menjadi perhatian pemangku kepentingan. Agar dapat di perbanyak di wilayah rawan gempa di seluruh Indonesia," pungkasnya.
 
 
Sebagai informasi unit rumah komposit inovasi BPPT ini sudah dipasang dan serah terima di Pemkot Bogor, di Kelurahan Pasir Jaya. Sebagai mitra adalah BPBD Kota Bogor, yang bertujuan untuk  memiliki wilayah tanggap bencana dalam bentuk hunian sementara, yakni dua unit rumah tipe 3 x 4 dan 5 x 6.  Saat ini rumah tersebut masih kokoh dan difungsikan sebagai fasilitas umum oleh pemerintah setempat. (Humas/HMP)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id