Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT: Pengelolaan Logam Tanah Jarang Harus Dikuasai Bangsa Indonesia

Bandung.  Di Indonesia, pengelolaan Logam Tanah Jarang (LTJ) memang masih sedikit. Penguasaan teknologi LTJ di Indonesia belum mencapai skala komersial. Di negara-negara maju, energi bukan lagi sekadar berupa bahan bakar fosil, uranium, plutinoum, angin dan air. LTJ bahkan dikategorikan sebagai cadangan energi. LTJ dianggap sebagai material penting di masa depan.

 

Negara sekelas Cina pun seperti disari dari berbagai sumber sempat menurunkan ekspor Logam Tanah Jarang (LTJ), saat itu dunia bereaksi keras. Tiga kekuatan ekonomi dunia yakni Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang bersama-sama menggugat China ke WTO. Mereka menuduh keputusan China membatasi ekspor LTJ bertujuan memproteksi industri teknologi dalam negerinya dan merupakan bentuk persaingan usaha tidak sehat. Namun China tetap bersikukuh dengan kebijakannya membatasi ekspor LTJ.

 

 

Melihat besarnya potensi LTJ ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menginisiasi temu stakeholder untuk membahas pengelolaan LTJ di Indonesia. Deputi Teknologi Informasi, Energi, dan  Material Hammam Riza, mengatakan seperti kita ketahui 75 % bahan baku untuk kebutuhan industri di Indonesia masih impor, ini tentunya mengkonsumsi produk domestik bruto (PDB) yang sangat besar. 

 

"Oleh kerena itu kita perlu mendorong industri agar menjadi tuan rumah bagi seluruh kebutuhan bahan baku industri, salah satunya industri pengelolaan LTJ", jelasnya saat membuka Temu Mitra Pusat Teknologi Material BPPT, Jawa Barat, (03/4).

 

 

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Material (PTM-BPPT) Asep Riswoko, mengatakan bahwa potensi sumberdaya alam Indonesia, dimana value added dari LTJ harus didorong menjadi suatu produk unggulan nasional yaitu produk LTJ yang memiliki nilai tambah.

 

“Produk LTJ yang kita kembangkan dalam bentuk cerium oxide, dimana bentuk tersebut telah menjadi produk yang sudah dapat digunakan oleh industri sebagai bahan baku untuk keperluan eletronika, display, sensor dan masih banyak lagi,” jelasnya.

 

 

Hasil produk olahan LTJ tersebut imbuhnya, jelas memiliki keunggulan. “Dalam waktu dekat kami akan membuat konsorsium untuk mengembangkannya dalam skala industri,” cetusnya.

 

Asep juga meyakini bahwa pengelolaan LTJ pasti dapat dikuasai oleh bangsa ini. “Intinya tujuan kita adalah untuk meningkatkan daya saing industri dan kemandiraan bangsa,” harapnya.

 

 

Menanggapi Direktur PTM BPPT, Kepala Rekayasa dan Pengembangan Teknologi PT. Timah, Robertus Bambang Susilo juga menyatakan pandangan serupa akan potensi LTJ. “Kami siap berkomitmen mengembangkan LTJ, kerena ini diperlukan oleh industri maju saat ini dan yang akan datang. Kita harus segera memulai dan menguasai teknologi ini, sampai kapan kita akan menjadi importir terus dan itu tidak murah,” ungkapnya. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id