• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Paparkan Inovasi Pangan dan Kesehatan (II)

Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan secara ringkas kiprah BPPT, dalam pengembangan teknologi pertanian, pangan dan kesehatan di kancah nasional. Pada gelaran acara THE 3rd BIOECONOMIC INNOVATIONS ON AGROINDUSTRIAL TECHNOLOGY AND BIOTECHNOLOGY 2019, ditekankan olehnya bahwa negara yang kuat sektor industrinya, juga ditopang oleh pembangunan sektor pertanian dan pangan yang kuat.

 

“Komoditas pangan adalah komoditas strategis yang setidaknya  harus dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Dengan memperhatikan jumlah penduduk dan kekayaan alam, semestinya sektor pertanian menjadi salah satu  tulang punggung negara kita,” ungkapnya di Auditorium Gedung II BPPT, Jakarta, Rabu (05/02/2019).

 

Pada kesempatan yang sama Deputi TAB BPPT, Soni S. Wirawan menuturkan bahwa giat ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya percepatan hilirisasi capaian produk dan teknologi kepada para pemangku kepentingan.

 

“Hilirisasi merupakan tahapan penting bagi pengkajian teknologi, karena tanpa tahapan ini maka keseluruhan kajian hanya akan menjadi bahan laporan dan publikasi belaka, dan tidak memberikan dampak ekonomi secara signifikan, serta mengacu pada kebijakan pemerintah,” ungkapnya.

Kegiatan gelar teknologi ini disebut Deputi TAB, akan didahului dengan paparan program Kedeputian TAB 2020 -2024 pada bidang teknologi pertanian,pangan, obat dan kesehatan.

“Tema yang akan disampaikan urainya, adalah inovasi teknologi di bidang pangan berbasis protein, pangan padat gizi, obat herbal, bahan baku obat dan bio industri untuk mendukung industri manufaktur berkelanjutan,” ujarnya.

Sebagai informasi secara ringkas kiprah BPPT dalam pengembangan teknologi pertanian, pangan dan kesehatan di kancah nasional adalah; Dalam bidang pertanian dan pangan, Tim Peneliti dan Perekayasa BPPT telah berhasil mengembangan ikan nila SALINA, ikan nila yang mampu hidup di air payau bahkan di air laut. Ikan nila SALINA semula dirancang untuk menggantikan komoditas ikan bandeng dan udang windu.

Kedua komoditas ini makin tidak tahan dengan kualitas lingkungan tambak yang memburuk sehingga banyak tambak telantar karena budidaya bandeng dan udang tidak lagi memungkinkan. Dalam pengembangan selanjutnya ikan nila SALIN ini dapat hidup di air laut, sehingga budidaya menggunakan jaring apung sangat memungkinkan untuk dilakukan.

Dalam bidang teknologi kesehatan, BPPT telah melakukan kerjasama dengan berbagai industri farmasi dan herbal dalam pengembangan berbagai produk teknologi kesehatan. Di samping itu, peneliti dan perekayasa Kedeputian TAB juga telah mengembangkan beras analog dengan berbahan baku singkong, sagu atau jagung.

Dengan bentuk seperti buliran beras padi, maka dari sisi kenampakannya tetap serupa beras namun lebih sehat karena mempunyai indeks glikemik yang lebih rendah. Pengembangan mie berbahan baku sagu dan cassava instan juga telah dikembangkan oleh perekayasa pangan di Kedeputian TAB.

Sebelumnya disampaikan juga oleh Kepala BPPT bahwa hasil kajian BPPT harus diterapkan di masyarakat, baik di kalangan industri atau masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu BPPT sangat mendorong akan adanya hilirisasi hasil riset ke masyarakat.

“Forum semacam inilah yang diharapkan akan menjadi salah satu jembatan antara kalangan akademisi dengan masyarakat industri. Konsep triple helix yakni melalui sinergi positif antara kalangan Academician, Business dan Government, atau akademisi, industri dan pemerintah akan kami jalankan secara optimal,” pungkasnya.


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT