Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Inovasi Teknologi Ex-vitro BPPT Dukung Kemandirian Benih Nasional

 

 

Tahun 2018 dicanangkan sebagai tahun perbenihan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam upaya mendukung suksesnya program tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) siap membantu perbanyakan benih melalui teknologi ex-vitro yang telah diterapkan oleh daerah dan swasta.

 

“Banyak daerah telah kita kenalkan dengan ex-vitro, sebut saja Kabupaten Bantaeng yang berhasil memperbanyak benih talas savira, dan telah menjadi komoditas ekspor ke Jepang. Lalu Kabupaten Bangka yang ingin membangkitkan kembali kejayaan lada. Terakhir ini, BPPT bersama Kota Batu melakukan perbanyakan benih kentang,” jelas Ahmad Riyadi dalam paparannya pada acara Talkshow: Inovasi Teknologi Untuk Kemandirian Benih Nasional di Jakarata Convention Center, Kamis (05/04).

 

Diterangkan Perekayasa Balai Bioteknologi BPPT ini, teknologi ex-vitro merupakan proses perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan menggunakan bagian tanaman (eksplan) yang mempunyai fase pertumbuhan cepat, di ikuti dengan pemberian stimulasi pertumbuhan, proses perbanyakan dengan pemotongan, yang dilakukan dalam kondisi aseptis di luar laboratorium.

 

 “Tanggapan petani pun sangat positif, teknologi ex-vitro yang sebenarnya kontennya high technology (mengambil dasar dari in-vitro / kultur jaringan) tetapi kita buat sesederhana mungkin, sehingga bisa dilakukan oleh petani di daerahnya masing-masing,” terang Ahmad.

 

Sejalan dengan amanat Menteri Pertanian, Amran Sulaiman yang mengatakan tahun 2018 tidak ada lagi pengadaan benih, tapi produksi benih. Ahmad mengatakan bahwa produksi perbanyakan benih menggunakan teknologi ex-vitro secara umum bisa diaplikasikan ke berbagai macam komoditas, namun beberapa daerah meminta BPPT secara khusus untuk mengaplikasikan teknologi ini pada komoditas yang khas di daerah tersebut.

 

“Kabupaten Bangka meminta langsung kepada BPPT untuk membantu perbanyakan benih lada putih muntok ex-vitro, dan sejak tahun 2016 produksi benih sudah mencapai 350 ribu. Begitu juga dengan sarana perbanyakan benih kentang ex-vitro Kota Batu pun telah mencapai kapasitas produksi sebanyak 100 ribu benih/tahun,” ujarnya melengkapi.

 

Inovasi Teknologi ABG (Academic, Business dan Government) Untuk Kemandirian Benih Nasional

 

Dalam acara yang sama, BPPT turut mengundang pembicara dari sejumlah pemangku kepentingan, yaitu unsur ABG (Academic, Business dan Government). Institut Pertanian Bogor (IPB) datang sebagai wakil dari akdemisi, dan PT East West Seed sebagai wakil dari pelaku bisnis. Dari pihak pemerintah, Kementerian Pertanian juga turut hadir selain BPPT sendiri.

 

Kementerian Pertanian yang diwakili oleh Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Mastur menyebutkan bahwa untuk mendukung tahun perbenihan, Kementan mempunyai tiga strategi inovasi perbenihan, yaitu perakitan varietas, perbanyakan benih, serta bank gen dan pemetaan genom.

 

“Indonesia sudah bisa melakukan gnome editing. Ini membuktikan kita mampu melakukan bioteknologi modern,” ungkap Mastur.

 

Mastur menambahkan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementan tidak dapat berjalan sendiri, tapi harus dibantu oleh lembaga pendidikan dan badan penelitian lainnya untuk mensukseskan tahun perbenihan ini.

 

Kepala Divisi Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Holtikultura, Fakultas Pertanian IPB, Satriyas Ilyas sebagai pihak akademisi memaparkan model Seed Center untuk menuju kemandirian benih nasional.

 

“Seed Center IPB ditujukan sebagai pusat pembenihan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan benih pertanian yang berkualitas untuk petani. Para ahli pertanian di Indonesia juga dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk mengembangkan benih varietas baru yang yang dapat meningkatkan pertanian,” jelas Satriyas.

 

Ditambahkan Satriyas, Seed Center yang berlokasi di Dramaga, Kabupaten Bogor ini diminta oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk dikopi (ditiru) di perguruan tinggi lain, tidak hanya di Jawa saja, karena Indonesia luas.

 

Glenn Pardede selaku Managing Director PT East West Seed Indonesia dari pihak bisnis mengungkapkan baru setengah kebutuhan nasional benih bisa dipenuhi dari dalam negeri, dan perbenihan sendiri membutuhkan investasi yang sangat besar.

 

“Benih harganya memang murah, tapi tisetnya yang paling mahal. Perusahaan benih di belanda, menganggarkan sebanyak 30 persen dari total budget produksinya untuk riset saja,” ujarnya membandingkan.

 

Lebih lanjut Glenn mengungkapkan produk yang dihasilkan harus dapat menguntungkan petani. Sebagai contoh produk benih tomat kami, Timoty F1 –dahulu terbaik di kelasnya, yang mempunyai masa panen selama 70-85 hari pun mulai dikeluhkan petani. Kami pun akhirnya melakukan inovasi dengan mengeluarkan penelitian lebih lanjut, sehinga muncul benih Servo F1 yang mempunyai masa panen lebih cepat selama 65 hari, warna lebih menarik, bentuk bagus dan besar, serta rasa lebih enak dapat kami pasarkan untuk memenuhi kebutuhan petani.

 

“Kunci kami bisa survive selama 28 tahun di bisnis benih adalah inovasi, dan harus dipastikan inovasi itu harus diserap oleh petani,” tegas Glenn.

 

Sebagai informasi Talk Show: Inovasi Teknologi Untuk Kemandirian Benih Nasional merupakan salah satu rangkaian dari acara Forum Nasional Inovasi Teknologi Kesehatan, Pangan, Polimer dan Energi yang diselenggarakan BPPT untuk mensinergikan unsur ABG. Acara ini mengambil tempat dalam gelaran pameran The 5th Indonesia Laboratory Scientific Analytic Equipment and Service Exhibition and Conference di Jakarta Convention Center pada tanggal 4-6 April 2018. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id