Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Upayakan Kandidat Senyawa Baru Obat Anti Malaria dan Disentri

Kepala Balai Bioteknologi BPPT Agung Eru Wibowo memberikan laporan terakhir perkembangan kerjasama BPPT-JICA dalam pencarian kandidat senyawa obat anti malaria di Gedung BPPT, Jakarta. 21-08-2017. (HumasBPPT-SAS)

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berupaya temukan kandidat senyawa baru untuk obat anti malaria. Dikatakan oleh Kepala Balai Bioteknologi BPPT, Agung Eru Wibowo, hal ini dilakukan karena obat yang ada sekarang dianggap sudah memiliki resistensi.

 

“BPPT tengah menguji ekstrak mikroba atau bakteri sebagai obat penyakit infeksi, yaitu malaria dan diare. Riset ini dilakukan oleh BPPT, yang bekerja sama dengan dua lembaga internasional dari Jepang dalam program Inovasi Pengembangan Obat Anti Malaria dan Anti Amoeba, yakni Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED),” ujar Agung dalam acara Simposium Internasional Pengembangan Bahan Baku Obat berbahan Alam" di Jakarta, Senin 21 Agustus 2017.

 

Ia juga menyampaikan bahwa penyakit malaria dan diare menjadi penyakit infeksi terbesar di dunia, termasuk Indonesia. Kedua penyakit ini memang sudah ditemukan obatnya. Akan tetapi, resistensi obat (keadaan di mana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik) semakin tinggi. Bahkan, kata Agung, obat malaria dan diare yang terbaru sudah didapati yang resisten.

 

Indonesia jelas mimiliki keanekaragam hayati, baik tanaman dan mikroba, yang berpotensi sebagai obat. Untuk itu BPPT melalui lab bioteknologi sedang menyeleksi dan mengkaji senyawa aktif dari koleksi isolat mikroba yang bisa dijadikan kandidat obat baru anti malaria dan anti disentri (anti amoeba).

 

"Kerja sama dalam kerangka Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) ini dilakukan dalam waktu lima tahun. Dalam dua tahun berjalan ini sejumlah riset sudah dilakukan," kata Agung.

 

Lebih rinci diuraikan, dari 25.000 koleksi isolat mikroba yang dimiliki BPPT, sudah dilakukan ekstrak terhadap 12.000 isolat mikroba dan 200 ekstrak di antaranya memiliki potensi senyawa aktif. Pihaknya berharap, dari jumlah itu bisa ditemukan senyawa aktif untuk anti malaria dan anti amebiasis atau anti disentri.

 

"Dari 200 kandidat itu, perusahaan farmasi pasti memilih yang benar-benar potensial," ujarnya.

 

Sementara Kepala Program Inovasi Pengembangan Obat Anti Malaria dan Anti Amoeba BPPT, Danang Waluyo mengungkapkan, keragaman isolat mikroba Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang dimiliki oleh luar negeri.

 

"Dalam 12 tahun terakhir kita ekplorasi dari Aceh hingga Papua mengumpulkan isolat mikroba di 60 lokasi dan 30 pulau yang dikenal mampu menghasilkan senyawa obat," katanya.

 

Menurutnya, untuk dapat menghasilkan obat butuh melewati berbagai uji praklinis dan klinis. Ia berharap pada tahun kelima bisa mendapat senyawa kandidat - untuk malaria dan diare - yang sudah murni dan diuji toksisitasnya pada hewan uji. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id