• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Beras Analog BPPT untuk Dukung Program Diversifikasi Pangan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Pusat Teknologi Agroindustri di Kedeputian Agroindustri dan Bioteknologi telah melakukan berbagai kegiatan guna mendukung program diversifikasi pangan melalui inovasi teknologi formulasi dan desain alat untuk pengolahan pangan berbahan baku lokal, seperti jagung, singkong dan sagu.

 

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti mengatakan program diversifikasi sudah diamanatkan di dalam undang-undang pangan terbaru yaitu, UU No 18 Tahun 2012 tentang penyelenggaran pangan. BPPT berkontribusi mengawal salah satu elemen penyelenggaraan pangan melalui pengembangan pangan lokal atau diversifikasi pangan.

 

"Dalam melakukan program diversifikasi pangan, BPPT memilih komoditas non beras dan non terigu, karena kita tahu terigu itu masih impor dan tanaman gandum penghasil terigu belum  memungkinkan dibudidayakan Indonesia. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ada di Indonesia, seperti jagung, singkong dan sagu, untuk diolah menjadi bahan pangan menyerupai beras. Dan, itu yang disebut beras analog, karena bentuknya menyerupai beras," kata Listyani, di acara Media Gathering bertajuk Ketahanan Pangan Melalui Diversifikasi Pangan dan Peningkatan Produk Hewani, di Gedung BPPT, (16/6).

 

Listyani menyampaikan pengolahan pangan jagung, singkong dan sagu menjadi beras analog dilakukan untuk merubah mindset masyarakat dari mengkonsumsi beras menjadi mengkonsumsi beras analog yang berasal dari pangan lokal. Namun, upaya itu masih memiliki tantangan besar, karena tidak mudah untuk menggantikan beras yang sudah menjadi pangan utama masyarakat.

 

"Melalui beras analog ini, paling tidak menjadi satu pilihan bagi masyarakat ketika sedang mengalami kendala dalam impor beras yang sudah beberapa dialami Indonesia. Namun, saya optimis beras analog yang berasal dari umbi-umbian bisa disukai oleh masyarakat yang sebenarnya sudah terbiasa mengkonsumsi jagung, sagu dan ubi tersebut," ujar Listyani.

 

Lalu, kapan beras analog mulai bisa dibeli oleh masyarakat secara luas? Listyani berharap tidak akan terlalu lama lagi, sekitar satu-dua tahun lagi setelah industri besar yang sudah memproduksi beras analog secara konsisten.

 

"Saat ini harga beras analog dalam hitungan ekonominya masih lebih tinggi dan belum bisa bersaing dengan beras. Kalau dihitung harganya berkisar Rp20.000 per kilogram, sementara beras harganya masih dibawahnya sekitar Rp10.000. Tapi, saya yakin apabila ada industri besar yang mulai memproduksi, ada up scaling dan terintegrasi dalam menggarap beras analog, maka hitungan ekonominya akan bersaing dengan beras. Sehingga kedepannya beras analog bisa menjadi pilihan yang baik untuk masyarakat," harap Listyani.

 

Selain mengembangkan teknologi untuk pengolahan pangan lokal sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pangan, BPPT juga mengembangkan teknologi produksi benih dan pembesaran Ikan Nila SALINA sebagai wujud untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat.

 

"Ikan Nila SALINA merupakan ikan nila yang dapat tumbuh pada lingkungan perairan bersalinitas (keasinan) tinggi antara 20-25 ppt. Ikan Nila SALINA memiliki kandungan protein 78,76 persen, lemak 6,19 persen, serat kasar 4,20 persen dan kandungan asam lemak omega 3,6,9 serta EPA/DHA yang bagus untuk pertumbuhan anak," jelas Listyani.

 

Saat ini, Ikan Nila SALINA sudah mendapat sertifikasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sehingga untuk memperoleh bibitnya bisa didapatkan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan. (Humas)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT