Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Tantangan dan Harapan Teknologi Informasi Geospasial di Masa Depan

Indonesia wajib untuk terus meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi terkait penyediaan informasi geospasial. Pasalnya, kebutuhan akan teknologi informasi geospasial terus meningkat penggunaannya. Sekarang informasi geospasial menjadi bagian dalam menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga mampu mendorong efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran negara.

 

Ridwan Djamaluddin Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT mengatakan, sejak tahun 1990, BPPT sebagai lembaga kaji terap teknologi, sudah memiliki posisi mengembangkan laboratorium teknologi maju penginderaan jauh dan sistem informasi geospasial. Upaya BPPT tersebut sangat relevan dan sistematis untuk menyiapkan informasi geospasial bagi masyarakat, bahkan untuk saat ini.

 

"Dalam hal penyediaan informasi geospasial, saat ini BPPT sudah memiliki teknologi Remote Sensing Hyperspectral yang mampu membedakan sebuah objek untuk pemetaan hutan, Radar Interferometri untuk mitigasi bencana, dan Laser Airbone Depth Sounder untuk pemetaan air dangkal," kata Ridwan di Acara Lokakarya Nasional bertajuk Kemajuan Teknologi Informasi Geospasial dan Penerapannya di Indonesia dalam Mendorong Efektivitas dan Efisiensi Penggunaan Anggaran, di Auditorium Gedung 2 BPPT, Jakarta, (9/9).

 

Ridwan menambahkan, tujuan dari acara Lokakarya Nasional ini adalah untuk memilih teknologi geospasial yang tepat, meningkatkan efisiensi dan mengusulkan teknologi terapan. Terutama untuk dalam hal menentukan kebijakan tata kelola informasi geospasial dan ketersediaan teknologi terkini.

 

"Teknologi telah meningkatkan kemampuan penyediaan informasi geospasial dan mengubah paradigma 'survei dan pemetaan' menjadi 'penyedia informasi geospasial'. Teknologi juga telah mengubah tata cara pemanfaatan dan tata kelola informasi geospasial," ungkapnya.

 

Ridwan juga menyampaikan, informasi geospasial di Indonesia memiliki beberapa tantangan operasional di masa depan, seperti untuk memetakan wilayah Indonesia yang sangat luas dan heterogen. "Penyelenggaraan penyediaan dan pengelolaan informasi geospasial juga harus mencakup industrialisasi, desentralisasi, partisipasi," ujarnya.

 

Senada dengan Ridwan, Deputi III Kepala UKP4 Agung Hardjono mengatakan, desentralisasi penting karena daerah yang paling tahu tentang kemampuan dan potensi yang dimiliki. "Cara yang paling efisien untuk memantau daerah adalah dengan menggunakan teknologi informasi geospasial," ucapnya.

 

Agung mencontohkan beberapa kegunaan informasi geospasial, seperti di bidang pendidikan, informasi geospasial memberikan data jumlah murid, guru, dan dana BOS, di setiap daerah. Di bidang kesehatan, memuat koordinat Puskesmas, tenaga dokter dan bidan. Bahkan, informasi geospasial dapat melacak asal mula bencana kebakaran hutan di Riau beberapa waktu yang lalu.

 

Sementara, Heru Prasetyo Kepala BP REDD+ berpendapat, apabila Indonesia ingin menyiapkan informasi geospasial, maka perlu memperhatikan perencanaan kedepan yang matang. Mengapa? karena geospasial itu temporer (berubah-ubah), apa yang ada saat ini belum tentu ada lagi di masa depan.

 

"Isu perubahan iklim yang digaung-gaungkan oleh ilmuwan dunia beberapa dekade lalu merupakan revolusi para ilmuwan. Hal tersebut membuat semua orang bertanya, apa yang harus dilakukan dan diperbuat? Oleh karena itu, penyiapan teknologi informasi geospasial harus dapat menjawab temuan dari ilmuwan mengenai perubahan iklim dan membuat kebijakan-kebijakan untuk mengatasinya," jelas Heru.

 

Menjawab tantangan akan informasi geospasial, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Asep Karsidi mengungkapkan bahwa untuk membangun sistem informasi geospasial tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Informasi geospasial membutuhkan dukungan teknologi yang handal, terutama untuk akuisisi dan pemprosesan data.

 

"Perkembangan informasi geospasial membuka peluang tumbuhnya industri dan layanan jasa. Diharapkan kedepannya, Indonesia mampu membangun teknologi sendiri, karena saat ini teknologi geospasial masih didominasi oleh teknologi milik luar negeri," tutup Asep. (tw/SYRA/Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id