• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Sagu Juga Mampu Menjadi Sumber Pangan Nasional

Pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan nasional masih kalah jauh dengan beras. Padahal, sagu merupakan sumber pangan asli Indonesia yang persediaannya melimpah, ekonomis, dan kandungannya jauh lebih baik dari beras karena tinggi karbohidrat (87,4 persen) dan rendah kadar gula.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Listyani Wijayanti mengatakan, saat ini, tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia berjumlah 130 kg per kapita per tahun. Itu merupakan angka yang tinggi dibanding tingkat konsumsi beras dunia rata-rata 60 kg per kapita per tahun. 


"Swasembada beras juga menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kebutuhan yang semakin meningkat seiring pertambahan penduduk, alih fungsi lahan persawahan untuk kepentingan lain seperti pemukiman, fasilitas umum dan industri. Selain itu, ketersediaan air untuk persawahan juga menghadapi ancaman dengan meningkatnya kebutuhan air untuk rumah tangga dan industri. Belum lagi menghadapi gangguan akibat perubahan iklim global yang banyak mengakibatkan gagal panen, misalnya bencana banjir dan kekeringan," kata Listyani, di acara Talkshow Festival Pangan Sagu Nusantara 2014, (3/5).

Masalah di atas, tambah Listyani, telah membawa pada kebutuhan yang tinggi untuk mengembangkan sumber pangan lain yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Harapan besar dari potensi sumber pangan lain yang ada di Indonesia adalah sagu.

BPPT sebagai lembaga kaji terap teknologi memiliki tugas untuk melakukan pengembangan teknologi pengolahan hasil pertanian menjadi bahan makanan. Saat ini, BPPT sedang bersinergi dengan Dirjen Perkebunan, Kementerian Perindustrian dan Pemerintah Daerah Sorong Selatan, mengembangkan pilot project untuk pemberdayaan UKM produksi pati sagu di Dusun Sayal Kabupaten Sorong Selatan serta pengembangan produsen produk pangan dari sagu.

"Dengan pilot project ini diharapakan konsep pengembangan sagu (khususnya di Papua) dapat digunakan sebagai referensi pola pemberdayaan UKM sagu dan pola kerjasama petani dan pengusaha secara nasional," ujar Listyani.

Listyani juga menyampaikan, ada tiga kunci utama dalam pengembangan sagu di Indonesia. Pertama, harus ada industri setingkat perusahaan untuk mengelola sagu. Kedua, hilirisasi pengolahan sagu dan memperkaya varian-varian sagu. Ketiga, mendorong masyarakat untuk menyukai pangan dari sagu. "Jadi, pada intinya kalau mau mengembangkan sagu harus ada industrinya, proses teknologi sagu, dan harus bisa membawanya ke pasar," tuturnya.

Listyani mengingatkan agar pemangku kebijakan terkait harus segera menaikkan pamor sagu, meningkatkan produksi sagu, dan mengembangkan industrinya dengan intervensi teknologi. 

"Kita harus waspada agar produk sagu tidak 'dicuri' atau dikembangkan oleh negara lain. Konon kabarnya negara Malaysia telah mengembangkan gula berbasis sagu dengan rendemen mendekati 100 persen. Mari kita bersama-sama melakukan riset yang berkolaborasi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah (ABG) dalam pengembangan sagu sebagai sumber pangan nasional," tutup Listyani. (tw/SYRA/Humas)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT