Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Focus Group Discussion: Dukungan Teknologi Dalam Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS dan Malaria

Tiga beban utama (triple burden) kesehatan nasional adalah adanya pergeseran demografi (meingkatnya jumlah penduduk lansia), meningkatnya penyakit tidak menular (stroke, jantung, diabetes, kanker, dll) dan masih tingginya penyakit menular (infeksi). Dalam rangka membangun komunikasi dan sinergi antar lembaga riset, perguruan tinggi dan industri untuk mendukung program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular di Indonesia, BPPT melalui Pusat Teknologi Farmasi dan Medika telah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) “Dukungan Teknologi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dan Malaria” pada tanggal 25-26 November 2013 di Hotel Morrissey Jakarta.

 

 

Dr. Listyani Wijayanti, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi menyampaikan bahwa BPPT mempunyai peran penting dalam pengembangan teknologi kesehatan, termasuk teknologi untuk penanggulangan penyakit menular. Oleh karena itu, BPPT senantiasa berkomunikasi dan membangun sinergi dengan Kementrian Kesehatan yang mempunyai otoritas dan platform dalam pembangunan bidang kesehatan. Selain itu, BPPT juga selalu berkoordinasi dengan lembaga riset lain, perguruan tinggi dan industri. Skema ABG selalu diutamakan dalam perumusan program dan kerjasama riset.

FGD hari pertama mengangkat tema “Dukungan Teknologi dalam pencegahandan penanggulangan HIV/AIDS”.  Diketahui bahwa HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan serius di tingkat global, regional dan nasional. Selain jumlah kasus yang terus meningkat, pergeseran pola penularan dari perilaku seks tidak sehat dan penggunaan obat terlarang ke penularan dari ibu ke anak menjadi perhatian serius. Tahun 2015, WHO bersama negara-negara anggota menetapkan target untuk dapat menurunkan infeksi baru HIV pada laki-laki dan perempuan muda sebesar 50%, pada bayi dan anak sebesar 90% dan menurunkan angka kematian sebesar 50%. Upaya meningkatkan deteksi, ketersediaan obat antiretroviral (ARV) dan pemeriksaan penunjang lain terus dilakukan selain edukasi dan pendekatan soisal. Keragaman subtype dan kecepatan mutasi virus HIV serta munculnya resistensi obat ARV menjadi tantantan bagi peneliti dalam pengembangan vaksin dan obat ARV. Infeksi oportunistik kandidiasis mulut-esofagus dan tuberkulosis dan ko-infeksi HIV dengan hepatitis B dan C merupakan potensi fenomena klinis yang dikhawatirkan bisa berkembang.

Hadir pada FGD tersebut narasumber Pretty Multihartina, Ph.D - Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan – Balitbangkes, praktisi klinis dr. Haridana Indah SM SpPD-KAII, FINASIM dari RS Kanker Dharmais dan Dr. dr. Budiman Bela, Sp.MK(K) dari IHVCB-Universitas Indonesia. Sebagai institusi pengkaji teknologi dan anggota KPAN, BPPT merencankan melakukan kajian teknologi untuk mendukung program penanggulangan HIV/AIDS, diantaranya teknologi untuk deteksi dini HIV dan pengembangan kandidat senyawa obat antiretroviral (ARV).

Pada hari kedua, FGD mengangkat tema “Dukungan teknologi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan malaria”.Dr. Bambang Marwoto, MEng.Apt - Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika menyampaikan bahwa selain membangun sinergi,  kegiatan FGD ini dimaksudkan untuk menggali informasi, masukan, pandangan dan usulan konsep sebagai bahan penyusunan program yang sistematis dan tepat untuk mendukung upaya penanggulangan malaria secara nasional.

Secara umum kasus malaria di Indonesia sudah menurun, namun demikian beberapa wilayah tertentu masih menunjukkan tingkat endemisitas yang tinggi. Pendekatan control vector dan penatalaksanaan deteksi serta pengobatan merupakan program intensif yang terus dilakukan. Narasumber yang hadir adalah Prof. dr. Emiliana Tjitra, M.Sc. Ph.D dari Badan Litbang Kemenkes, Dr. dr. Loeki Enggar Fitri, Sp.Par.K. dari Universitas Brawijaya dan Dr. Aty Widyawaruyanti, Msi.,Apt dari ITD Universitas Airlangga dan Dr. Agung Eru Wibowo, MSi., Apt dari Pusat Teknologi Farmasi dan Medika-BPPT. Pembahasan dan diskusi yang menarik terkait penatalaksanaan pengobatan malaria dikaitkan dengan meningkatnya efikasi klinis dan resistensi, potensi pengembangan diagnostic plasmodium, pengembangan fitofarmaka dan beberapa hasil penelitian terkait pathogenesis, resistensi, jalur metabolism dan potensi target aksi obat baru serta upaya pengembangan vaksin telah dilaksanakan secara intensif. Aspek teknis tekonologi terkait jenis dan staging plasmodium yang banyak serta kompleksitas genetik plasmodium merupakan kendala utama dalam pengembangan vaksin.

Penanggulangan malaria harus dilakukan secara komprehensif pada semua aspek dan lini terkait, yaiu (i) aspek sosial, budaya, pendidikan dan ekonomi masyarakat, (ii) aspek teknis perbaikan lingkungan dan kontrol vector, (iii) aspek teknis deteksi dini, upaya pencegahan dan pengobatan. Untuk itu, kesiapan kelembagaan, regulasi, program, SDM, teknologi, infrastrutur dan dana sangat diperlukan untuk kelancaran penanggulangan dan percepatan eliminasi malaria di Indonesia.

Dalam perspektif kegiatan dan sumber daya riset di Indonesia, kegiatan riset dan pengembangan teknilogi yang potensial dilakukan adalah pengembangan diagnostic untuk deteksi plasmodium dan pencarian kandidat senyawa obat dengan mekanisme baru bersumber pada bioresources Indonesia.

Peserta berharap komunikasi seperti FGD seperti ini bisa dilaksanakan secara regular dan terarah untuk terwujudnya sinergi dan percepatan menuju eliminasi malaria di Indonesia.

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id