• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Dukung Daya Saing Industri, BPPT Lakukan Audit Teknologi

BPPT telah melakukan perannya dalam audit teknologi terhadap pilot plant Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals and Minerals (PT TMM). Hal tersebut sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU SISNAS IPTEK).

 

Kepala BPPT Hammam Riza dalam kunjungannya ke PT TMM mengatakan, hasil audit teknologi yang dilakukan BPPT ini bertujuan untuk mengetahui posisi teknologi STAL diantara teknologi lain dalam pengolahan bijih laterit nikel serta memberikan masukan terkait dengan penggunaan teknologi tersebut (06/04).

 

Menurutnya, audit tersebut dilakukan guna mendorong Program Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) utamanya pemanfaatan dan peningkatan nilai tambah mineral pada bijih laterit nikel.

 

Nikel merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk komponen baterai mobil listrik, dimana Indonesia juga sedang melakukan percepatan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019.

 

Salain itu, Indonesia juga memiliki cadangan bijih nikel besar yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan prekursor bahan baku baterei. Menurutnya, teknologi STAL ini mampu merecovery nikel cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diterapkan dalam skala besar di Indonesia guna meningkatkan nilai tambah komponen dalam negeri dan mendukung percepatan program pengembangan KBLBB.

 

Hammam berharap kerjasama ini tidak hanya berhenti sampai audit pilot plant saja, namun BPPT siap mendampingi PT. TMM ke arah komersialisasi, pungkasnya.

 

Hal senada diungkapkan Direktur Utama PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (TMM), Petrus Tjandra bahwa agar sinergisitas yang sudah dibangun tidak berhenti di sini saja, tetapi dapat terus berlangsung, terutama dalam pengembangan turunan dari produk-produk STAL. Hal tersebut menurutnys agar dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kedaulatan negara dengan basis riset dan inovasi.

 

Dikatakan Petrus, Indonesia membutuhkan kehadiran inovasi-inovasi teknologi pengolahan yang mumpuni seperti teknologi STAL, sebuah teknologi karya anak bangsa yang mampu memanfaatkan kekayaan alam dengan mengolahnya guna menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.

 

Rekomendasi Audit Teknologi

Hasil audit teknologi STAL menunjukkan bahwa pada tahap proses pelindian, teknologi ini dapat menghasilkan recovery nikel mulai 89 hingga 91% dan kobalt sebesar 90 hingga 94 %. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan teknologi atmospheric leaching (AL) yang dapat menghasilkan recovery nikel antara 50 hingga 70%, namun masih lebih rendah dari teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dapat mencapai 94 hingga 96%. 

 

Dari data tersebut menunjukkan bahwa metode STAL lebih baik dibandingkan dengan metode AL dan cenderung mendekati HPAL. Pilot plant STAL ini telah mampu menghasilkan MHP dengan kandungan Ni hingga lebih dari 35%. Produk MHP ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

 

Adapun hasil audit memberikan rekomendasi bahwa pilot plant perlu dilakukan uji coba berkala secara kontinyu dan terkontrol sehingga produk yang dihasilkan dapat optimum dan stabil. Pilot plant perlu dilengkapi dengan sistem kontrol, sehingga peralatan dan proses dapat berjalan dengan otomatis.

 

Selain pada proses, sistem kontrol juga diperlukan untuk monitoring gas buang sekaligus untuk dapat meningkatkan safety dan ketahanan alat karena sistem bekerja dengan larutan asam dengan pH rendah.

 

Seperti pada teknologi lain dalam pengolahan bijih laterit nikel, penggunaan teknologi STAL memerlukan manajemen pengelolaan limbah atau residu yang baik. Aspek ini diperlukan karena jumlah residu yang dihasilkan dari proses pengolahan bijih laterit nikel berjumlah sangat banyak.

 

Monitoring pada kualitas feed laterit nikel, produk antara serta residu yang dihasilkan dari proses harus dilakukan secara rutin sebagai bagian dari kontrol kualitas dan pemantauan limbah. Untuk itu pilot plant perlu dilengkapi dengan laboratorium yang dapat digunakan melakukan pengujian dasar.

 

Dari hasil audit yang dilaksanakan BPPT, penerapan teknologi STAL pada skala yang lebih besar memerlukan kapasitas alat dan desain yang perlu disesuaikan dengan tingkat keekonomian agar penggunaan STAL dapat benar-benar bermanfaat di sektor industri pengolahan bahan mineral.

 

Teknologi STAL pada tahap industri atau komersialisasi akan dapat mendukung program pemerintah terkait dengan peningkatan penggunaan produk dalam negeri serta peningkatan nilai tambah bahan mineral lokal. (Humas BPPT)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT