• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Pandemi Covid-19 Picu Kebangkitan Riset dan Inovasi Anak Negeri

Di tengah terjangan pandemi Covid-19, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan peran pentingnya. Melalui sinergi kelembagaan bernama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk penanganan Covid-19 (TFRIC19) yang melibatkan lembaga penelitian, perguruan tinggi, penelitian dan pengembangan Kementerian Kesehatan, Badan Usaha Milik Negara, sektor swasta, serta berbagai  start-up di bidang kesehatan lainnya dan telah menghasilkan berbagai produk buatan dalam negeri untuk mengatasi wabah virus yang terus merebak.

 

Adapun produk alat kesehatan  untuk mengatasi pandemic diantaranya ada Non-PCR diagnostic test Covid-19 (dalam bentuk dip stick dan micro-chip) dan PCR test kit, laboratorium uji PCR dan sequencing serta telemedicine. Terkait hal tersebut, TFRIC-19 menggelar webinar serial Inovasi Indonesia dalam Menghadapi Pandemi dengan tema Kebangkitan Teknologi Kesehatan Karya Anak Negeri (29/07).

 

Salah satu Perekayasa BPPT Ivan Faizal yang juga bertugas di Sub Task Force 1 TFRIC-19 menyampaikan bahwa guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan rapid test yang dilakukan secara massif.

 

Disamping itu, guna mendukung pencegahan pandemi juga telah dikembangkan i-Covid-19 yang saat ini sedang mengajukan persyaratan mendapatkan nomor ijin edar ke Dirjen Farmalkes Kementerian Kesehatan. RDT iCovid-19 diproduksi dalam dua bentuk yaitu RDT total antibody (mengukur antibody total, campuran dari IgG dan IgM) dan RDT combodalam satu kaset berisi dua strip terpisah untuk deteksi igG dan IgM, ujarnya.

 

Dikesempatan yang sama, Perekayasa BPPT Pratondo Busono yang juga bertugas di Sub TF-5 TFRIC-19 menyebut latar belakang dikembangkannya telemedicine adalah untuk mengatasi pandemic Covid-19 yang sudah menjadi pandemi global yang telah membebani sistem pelayanan kesehatan seluruh dunia dengan penyebaran yang begitu cepat.

 

Selain itu, guna memenuhi kebutuhan alat kesehatan yang sangat terbatas dan sesuai dengan instruksi Presiden melalui Gugus Tugas Percematan Penanganan Covid-19, agar Indonesia dapat mengembangkan alat kesehatan sacara mandiri.

 

Sejak tahun 2017 sebutnya, BPPT telah mengembangkan telemedicine dan telah dilakukan uji kinerja, uji keamanan selain itu juga telah dilakukan uji lapangan dengan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No 20 Tahun 2019 bahwa telemedicine adalah pemberian pelayanan kesehatan jarak jauh oleh profesional kesehatan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi meliputi pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit dan cedera, penelitian dan evaluasi, dan pendidikan berkelanjutan penyedia layanan kesehatan untuk kepentingan peningkatan kesehatan individu dan masyarakat.

 

Telemedicine ini di Indonesia belum diadopsi secara maksimal dan disaat pandemi ini telemedicine mendapatkan peran penting dengan beberapa manfaat telemedicine diantaranya dapat mengatasi keterbatasan komunikasi antara dokter dan pasien, meningkatkan efesiensi serta mempermudah monitoring pasien, jelas Pratondo.

 

Saat ini juga telah dikembangkan telemedicine yang terintergrasi dengan beberapa medical divice seperti USG dan EKG serta KTP-el  dan sudah diterapkan di rumah sakit  di Tangerang Selatan, pungkasnya. (Humas BPPT) 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT