• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Memasuki Peralihan Musim, BPPT- Kementerian LHK Sinergi Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tetap jadi prioritas kerja pemerintah, sebagaimana arahan Presiden RI Joko Widodo dimasa sulit karena penyebaran Covid-19, namun pelayanan prioritas tidak boleh terganggu. Kerja lapangan dan koordinasi tim supervisi tetap jalan guna mengantisipasi Karhutla, terutama di wilayah rawan, kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam acara Pembahasan Rencana Pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Rencana Pengembangan Sistem dan Peralatan Untuk Penanganan Permanen Pengendalian Karhutla, yang dilakukan secara virtual (26/06).

 

Lebih lanjut dikatakan Menteri LHK, bahwa salah satu upaya menangani Karhutla yakni TMC yang berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), operasi TMC ini dipusatkan untuk lahan gambut atau daerah yang telah diprediksi akan mengalami kekeringan parah serta dilakukan modifikasi yang dilakukan pada periode peralihan musim akan lebih efektif guna menjaga lahan-lahan gambut tetap dalam kondisi basah, sehingga mengurangi resiko karhutla.

 

Untuk Karhutla kita tidak bisa menunggu, harus dari sekarang upaya antisipasi dengan menggunakan TMC, ujarnya.

 

Sementara, Kepala BPPT Hammam Riza mengapresiasi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya yang telah menindak lanjuti pertemuan dengan Ratas dan pertemuan langsung dengan Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Menristek/Kepala BRIN bersama dengan Panglima TNI guna mendapatkan dukungan yang luar biasa untuk mendukung Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dalam rangka penangulangan kebakaran hutan dan lahan.

 

Terkait pelaksanaan operasi TMC menurut Hammam, diperlukan antisipasi untuk kemunculan titik hot spot yang cukup massif, disini kita perlu mengantisipasi di periode Juli sampai dengan Oktober dimana secara histori titik hot spot di Sumatera dan Kalimantan secara rata-rata pada periode 2006 - 2019 menunjukan tingkat yang tinggi. Maka, operasi TMC yang optimal dapat dilaksanakan pada bulan Juli hinga September.

 

Untuk itu, perlu bersama-sama membangun big data guna mengatasi kebakaran hutan dan lahan, nantinya big data baik itu melalui sensor yang digunakan FDRS, SIPULAGA dan lainnya bisa diintegrasikan melalui application programing interface sehingga data ini betul-betul menjadi data bersama dan jumlahnya maupun kecepatan update data berlangsung dengan sangat baik serta membantu dalam pengambilan keputusan penting sebagai bagian dari pada dashboard nasional untuk kebakaran hutan dan lahan, jelasnya.

 

Kedepan, diharapkan BPPT dapat melaksanakan pengadaan armada untuk TMC dan pada tahapan berikutnya dapat melaksanakan pengadaan untuk pesawat yang memang cocok menggunakan flare sekaligus menjadi flying laboratory yang memang sangat dibutuhkan. Saat ini belum ada flying laboratory di BPPT maupun di Kementerian/Lembaga lain dan kelanjutan dari kelengkapan armada ini dapat dipenuhi juga dengan pesawat buatan Indonesia produk PT DI. (Humas BPPT).


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT