• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Dukung Perkembangan Teknologi Jembatan Bentang Panjang

 

Sebagai negara kepulauan dan guna mempermudah transportasi antar pulau atau antar sungai diperlukan sebuah infrastruktur yang kuat, nyaman dan aman untuk digunakan, diantaranya yakni jembatan. Karenanya, perancangan jembatan memiliki peranan yang penting di dalam dunia teknik sipil di Indonesia.

 

Jembatan bentang panjang adalah satu prasarana transportasi darat yang penting guna memperlancar angkutan logistik, membuka daerah terisolir serta sebagai penghubung akses transportasi yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi.

 

Terkait hal tersebut BPPT melalui Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika (B2TA3) menggelar forum fungsional dengan tema Women in Wind & Bridge Engineering dengan narasumber Arvila Delitriana dari PT Cipta Graha Abadi, di Puspiptek, Tangerang Selatan (4/12).

 

Kepala B2TA3 BPPT Fadilah Hasim menyambut baik serta mengapresiasi kehadiran dari sosok perancang jembatan melengkung LRT Jakarta. BPPT menurutnya telah berkontribusi dalam pembangunan jembatan bentang panjang, di antaranya pada uji aerodinamika Jembatan Suramadu di Jawa Timur.

 

Fadilah berharap dari forum ini dapat menjadi forum yang positif dan produktif sehingga dapat berdiskusi dan saling bertukar pikiran untuk perkembangan teknologi jembatan bentang panjang di Indonesia kedepannya.  

 

Sementara, Arvilla Delitriana merupakan sosok penting di balik jembatan lengkung LRT Jabodetabek yang diklaim sebagai yang terpanjang di dunia. Jembatan lengkung LRT membentang sepanjang 148 meter dan memiliki radius lengkung 115 meter.

 

Namanya didalam dunia perjembatanan mungkin sudah tak asing lagi. Karena, ia telah berkiprah selama hampir 20 tahun dalam pembuatan jembatan dan karyanya pun tak perlu diragukan lagi. Banyak jembatan di Indonesia yang merupakan hasil rancangannya.

 

Dalam paparannya, Arvila mengutarakan dalam menentukan tipe jembatan ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni kondisi geometri dilokasi rencana jembatan, kondisi subsurface di lokasi rencana jembatan, fungsi jembatan, estetika jembatan, ekonomis dan dapat dilaksanakan serta aspek legal.

 

Jika dilihat dari kondisi geometri menurutnya bahwa tipe jembatan ditentukan dari ketentuan alinyemen harisontal dan vertikal yang sudah ditetapkan dalam penentuan trase jembatan serta clearance atas dan bawah jembatan yang membatasi tinggi jembatan.  

 

Tentunya, jembatan yang melewati sungai atau laut yang dilewati atau tidak dilewati pelayaran akan memiliki pertimbangan pemilihan tipe dan bentang yang berbeda. Serta jembatan yang melewati jalan raya saat pelaksanaan pekerjaan jembatan tidak boleh menggangu jalan dibawahnya dan memiliki batasan tinggi bersih yang disyaratkan, ungkap Arvila.

 

Untuk kondisi subsurface, dikatakannya bahwa dari hasil bathymetri dapat dilihat ada palung atau tidak. Sebaiknya pondasi jembatan menghindari palung yang dalam, dengan kondisi ini bentang jembatan yang akan menyesuaikan.

 

Lanjutnya dari sisi estetika, jembatan dapat terlihat dari efesiensi struktur, kesederhanaan serta pengulangan model jembatan. Jembatan panjang yang melalui pusat kota, sungai atau lokasi lainnya seringkali menjadi landmark dari lokasi tersebut. Sehingga unsur estetika yang baik secara visual dan keindahan menjadi sesuatu hal yang penting, jelasnya. (Humas/HMP)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT