Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Lebih Akurat dari BUOY, BPPT Siapkan Alat Deteksi Tsunami Berbasis Kabel Laut

 

 

Berkaca pada kesekian kali nya kerentanan kawasan pesisir Indonesia dalam menghadapi bencana khususnya tsunami, jelas butuh solusi teknologi. Skema pemodelan ataupun simulasi kedatangan tsunami, rasanya tidak cukup akurat untuk menanggung puluhan, ratusan, bahkan ribuan korban nyawa.

 

Ditegaskan oleh Deputi BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Dr. Hammam Riza, butuh infrastruktur yang mampu memberi peringatan dini akan datangnya gelombang tsunami.

 

"BPPT punya pengalaman dalam membuat BUOY pendeteksi tsunami. Dan siap jika ditunjuk untuk membuatnya lagi," katanya dalam acara Pemaparan Teknologi Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami yang digelar di Gedung BPPT, Jakarta, Kamis (04/10/2018).

 

Dituturkan oleh Deputi TPSA, peran BUOY sangat penting dalam hal memberi data yang akurat, ketika gelombang berpotensi tsunami muncul. Hal ini tentunya akan menunjang dan menguatkan data pemodelan yang dilakukan sebelumnya.

 

Diungkap oleh Hammam bahwa BPPT sempat memimpin tim pembangunan dan operasionalisasi Buoy Tsunami Indonesia. Perekayasa dan Peneliti di BPPT mampu membuatnya kala itu.

 

Saat ini untuk program pengembangan BUOY deteksi tsunami, BPPT melakukan inovasi dengan teknologi Cable Based Tsunameter (CBT). CBT ini telah dikembangkan di beberapa negara dan dimanfaatkan antara lain oleh Kanada, Jepang, Oman dan Amerika Serikat. Dalam forum komunikasi antar perekayasa CBT di seluruh dunia disepakati CBT menjadi pilihan sebagai alternatif terhadap permasalahan yang dihadapi oleh BUOY, yakni vandalisme dan mahalnya BUOY.

 

Draft resolusi pemanfaatan CBT juga telah diajukan dalam pertemuan Sidang Executive Council (EC) World Meteorological Organization (WMO) EC-70 pada 20-29 Juli di Jenewa dan Dewan Eksekutif Inter governmental oceanographic commission atau Komisi Kelautan Antar Pemerintah (IOC) ke 51, Juli lalu di Paris dan telah disetujui menjadi afirmasi internasional. Implementasi resolusi WMO dan IOC/UNESCO dalam pemanfaatan CBT juga perlu melibatkan International Telecommunication Union (ITU).

 

 

Intinya BPPT menilai pentingnya penguasaan teknologi yang optimal untuk kesiapsiagaan bencana. Teknologi peringatan dini atau early warning system, dalam hal ini BUOY, mutlak diperlukan untuk langkah mitigasi awal, serta menghindarkan potensi korban nyawa yang besar.

 

"Kesiapsiagaan bencana harus diawali dengan adanya langkah mitigasi, sangat penting agar masyarakat di wilayah yang berpotensi bencana, memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini atau early warning system, baik untuk tsunami maupun untuk bencana lain," jelasnya.

 

Lebih lanjut diungkap bahwa saat ini BPPT tengah mengembangkan teknologi kabel laut untuk sensor gempa dan tsunami. Hammam kemudian mengharap agar BPPT diberikan kesempatan utk menjalankan tugas dan fungsinya dalam merekayasa teknologi untuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

 

"Sistem peringatan dini tsunami berbasis kabel laut ini nantinya akan lebih efisien dalam konteks biaya operasionalnya. BPPT mampu berbuat lebih untuk membuat produk inovasi dalam rangka mitigasi bencana. Saya ingatkan, kita tidak bisa menghentikan bencana. Namun dengan pengetahuan dan teknologi, kita bisa membuat alat deteksi tsunami untuk mengurangi korban," ujarnya. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id