Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT: Teknologi Antisipasi Gempa Mutlak Dibutuhkan

 

 

Bencana gempa bumi kembali menyayat bumi pertiwi. Kali ini gempa tektonik mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, yang kemudian memicu gelombang tsunami, menerjang Kota Palu dan Donggala.

 

Menyikapi hal tersebut Sekretaris Utama BPPT yang juga menjadi Plh. Kepala BPPT, Wimpie Agoeng Nugroho menyatakan rasa duka yang mendalam atas bencana yang terjadi.

 

“BPPT turut menyampaikan duka cita atas bencana yang terjadi di Donggala dan Palu. Semoga masyarakat tetap waspada dan bantuan cepat tersalurkan,” ucapnya di Jakarta, (29/09/2018).

 

 

 

Lebih lanjut Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza mengatakan bahwa bencana ini mesti membuat kita berkaca akan pentingnya teknologi yang mampu mengurangi dampak kebencanaan seperti ini.

 

 

“Kedepan atau bahkan sesegera mungkin, sinergi yang kuat antar berbagai pemangku kepentingan untuk menggunakan teknologi. Teknologi mampu  berperan signifikan dalam upaya mengurangi risiko bencana gempa bumi,” tegasnya.

 

 

 

*Selama ini kita melulu disibukkan dengan upaya penanganan pasca gempa, sementara upaya antisipasi masih sangat minim, bahkan belum menjadi fokus perhatian. BPPT katanya, telah memiliki berbagai teknologi yang siap digunakan untuk mengantisipasi bencana gempa bumi serta tsunami.*

 

 

*BPPT pun sempat mengawali program BUOY InaTEWS utk peringatan dini tsunami. Setelah itu BPPT terus melakukan kajian gempa di Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai milik BPPT di Yogyakarta, serta mengkaji Multi Hazard Early Warning System (MHEWS).*

 

 

 

“Upaya tersebut, harus bisa digalang melalui sinergi dengan berbagai K/L, Pemerintah Daerah dan Industri, sehingga produk-produk Teknologi yang dihasilkan dapat diproduksi dengan biaya yang rendah, bersifat masai, memenuhi standar kualitas Industri, dan memiliki keberlangsungan serta ketersediaan yang bersifat permanen,” paparnya via pesan instan di Jakarta, Sabtu (27/09/2018).

 

 

Inovasi Teknologi kebencanaan yang telah dimiliki kompetensi maupun sistemnya oleh BPPT disebut Hammam mulai dari teknologi Sijagat untuk mengkaji keandalan gedung bertingkat kala hadapi gempa, serta Sistim deteksi dan peringatan dini gempa dan tsunami melalui teknologi cable base tsunami meter.

 

 

BPPT pun mengoptimalkan peran Teknologi bagi kesiapan kita dalam menghadapi bencana, yang juga dapat menumbuhkan sebuah kekuatan industri baru, yakni Industri yang bergerak di bidang Kebencanaan Indonesia.

 

 

“Teknologi ini bertujuan untuk; Pertama, membangun ketangguhan dalam menghadapi kemungkinan gempa bumi melalui mitigasi, pencegahan dan kesiapsiagaan. Kedua, memberikan dukungan percepatan bagi proses tanggap darurat, dan ketiga yakni penerapan teknologi dalam proses pemulihan pasca bencana,” rincinya.

 


Gempa Donggala

 

Sebagai informasi, Gempabumi telah terjadi pada pk. 17:02 WIB (10:02 UTC), hari Jumat 28/09/2018 di Sekitar Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Gempabumi ini menurut berbagai sumber (BMKG, GFZ, USGS) bermagnitude M 7.5 – 7.7, berpusat di sekitar 0.178 LS; 119.840 BT pada kedalaman 10 km. Gempabumi 

ini terjadi di zona sekitar Sesar Palu-Palukoro dengan kecepatan geser sekitar ~10 mm/th.

 

Menurut Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT, Wahyu W. Pandoe gempabumi ini mekanismenya sesar geser dengan arah dominan Barat Laut – Tenggara dengan perkiraan empiris luas bidang patahan 125 x 20 km^2. Dengan kedalaman dangkal sekitar 10 km, maka nilai asumsi kekakuan batuan adalah rendah. 

 

Gempabumi ini momen magnitudenya adalah sekitar 2.5x10^20 Nm yang enerjinya setara dengan 3x10^6 Ton-TNT atau 200 kali Bom atom Hiroshima.

 

Berdasar simulasi model (analitik-numerik), Palu – Kabupaten Donggala dsk mengalami deformasi vertikal berkisar antara -1.5 sd 0.50 m. Daratan di sepanjang pantai di Palu Utara, Towaeli, Sindue, Sirenja, Balaesang, diperkirakan mengalami penurunan 0.5-1 m dan di Banawa mengalami penaikan 0.3cm. Gempabumi ini berpusat di darat dengan sekitar 50% proyeksi bidang patahannya berada di darat dan sisanya di laut. Komponen deformasi vertikal gempabumi di laut ini berpotensi menimbulkan tsunami. 

Berdasarkan hasil model, tinggi tsunami di sepanjang pantai antara beberapa cm hingga 2.50 m. Tsunami berpotensi lebih tinggi lagi karena efek turunnya daratan di sekitar pantai dan amplifikasi gelombang akibat batimetri serta morfologi teluk.

 

"Masyarakat perlu waspada atas gempabumi susulan dan potensi keruntuhan infrastruktur/bangunan di sekitarnya, serta terus memantau dan mengikuti informasi dari otoritas resmi BMKG/BNPB/BPBD setempat," himbau Deputi TIRBR BPPT.

 

 

Teknologi Antisipasi Gempa

 

Beberapa produk inovasi teknologi unggulan yang dimiliki BPPT ini antara lain:

 

1. SIJAGAT, Teknologi Kajian Keandalan Gedung Bertingkat Terhadap Ancaman Gempa Bumi. Teknologi ini digunakan untuk mengukur keandalan sebuah Gedung terhadap ancaman gempa bumi, dan memberikan solusi berupa rekomendasi teknis.

 

 

2. SIKUAT, Teknologi Monitoring Gedung Bertingkat Terhadap Bencana Gempa Bumi. Merupakan system monitoring kesehatan Gedung yang dilakukan dengan memasang segera diketahui.

 

 

3. Sistim deteksi dan peringatan dini gempa dan tsunami melalui teknologi maju cable base tsunami meter. Merupakan teknologi maju yang dapat memberikan informasi gempa bumi dengan lebih cepat dan akurat, serta mampu mendeteksi adanya tsunami.

 

 

4. Rumah Komposit Polimer Tahan Gempa. Merupakan solusi Teknologi Rumah Tahan Gempa - BPPT yang menekankan kepada kekuatan bangunan melalui teknologi Polimer dan kecepatan pembangunan.

 

 

5. Polintek - Anti seismic Poiymer Technology. Sebuah solusi teknologi yang ditawarkan mitra BPPT, PT. Darta, yang mengembangkan teknologi maju di bidang polimer, sebagai bahan tahan goncangan (Anti - Seismic).

 

 

6. Teknologi Non Structure Rapid Assessment. Merupakan teknologi berbasis mobile yang merupakan sistim penilaian bagi kesiapan sebuah gedung dalam memberikan keselamatan kepada orang-orang yang berada di dalamnya.

 

 

7. Rapid-Timer, Merupakan teknologi hasil kolaborasi BPPT dengan Panasonic Gobel Indonesia, bagi pemetaan cepat pasca gempa bumi, dengan menggunakan teknologi mobile BTS.

 

 

8. Berbagai teknologi yang bermanfaat pada kondisi tanggap darurat seperti Biskuit Neo (Biskuit tahan lapar) dan Arsinum (air siap minum). (Humas/HMP)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id