Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Kepala BPPT: Teknoprener Muda Indonesia Harus Terus Berinovasi

Indonesia membutuhkan banyak pemuda untuk dijadikan sebagai teknoprener atau pengusaha yang berbasis ilmu pengetahuan teknologi dan inovasi (Iptekin). Aktivitas Teknoprener penting sebagai upaya mendorong daya saing bangsa. Salah satu cara untuk mewujudkan itu adalah dengan penguatan sistem inovasi dengan menciptakan koherensi kebijakan inovasi dalam perspektif hubungan antara pemerintah pusat dan daerah.

 


Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar, mengatakan penguatan sistem inovasi perlu menjadi komitmen bersama para pemimpin dan pemangku kepentingan untuk menentukan arus utama pembangunan Indonesia ke depan.

"BPPT terus bekerjasama dengan mitra-mitranya di daerah dalam mengimplementasikan penguatan sistem inovasi dengan tujuan menumbuhkembangkan contoh kisah sukses di daerah otonom. Dengan begitu, diharapkan muncul para pengusaha-pengusaha muda berbasis Iptekin yang dapat menjadi solusi utama dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia," kata Marzan, di acara Leaders Forum bertajuk "Menumbuhkembangkan Daerah Berinovasi dan Bisnis Inovatif Kalangan Usia Muda", di Gedung BPPT, Jakarta, (15/4).

Marzan menyampaikan, saat ini BPPT telah melakukan berbagai program untuk menciptakan pengusaha berbasis Iptekin, mulai dari teknoprener camp, inkubator teknologi, pembangunan teknopolitan di Kota Pelalawan, dan menjadikan teknoprener sebagai kurikulum di Universitas Sebelas Maret (UNS).

"BPPT terus mendorong terbangunnya teknopreneurs sebagai upaya untuk melakukan pembangunan di daerah-daerah. Sekarang daerah tidak perlu lagi meminta bantuan kepada BPPT untuk melakukan pembangunan dalam hal teknologi. Saat ini, BPPT juga sudah memiliki Puspitek Serpong sebagai smart area untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas dengan didukung infrastruktur yang sudah mumpuni," ungkap Marzan.

Senada dengan Marzan, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta,mengatakan pengusaha-pengusaha muda berbasis Iptekin harus diciptkan. Sebab, jika suatu negara ingin maju maka minimal harus memiliki dua persen pengusaha dari jumlah penduduknya.

"Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) juga telah melakukan program teknoprenership untuk menciptakan pengusaha muda di bidang teknologi. Selain itu, kami juga akan menggiatkan inovasi berbasis Iptekin dalam upaya penguatan sistem inovasi nasional dengan membangun pusat-pusat unggulan teknologi dari hulu ke hilir," kata Gusti.

Gusti juga menyampaikan, saat ini, Kemenristek berupaya mendorong agar anggaran untuk riset Sains, Teknologi dan Inovasi (STI) di Indonesia menembus 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Karena, sekarang anggaran untuk riset STI hanya mencapai 0,15 persen dari total PDB.

"Kemenristek tidak putus asa dengan dana yang kecil. Strategi untuk mendapat bantuan dana riset STI adalah dengan membentuk konsorsium-konsorsium dengan lembaga pemerintah untuk mendapatkan tambahan dana," tutup Gusti. (Tw/SYRA/Humas)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id