Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT UPAYAKAN OPTIMALISASI PEMANFAATAN ENERGI ANGIN

“Tingginya pertumbuhan penduduk dan perekonomian di Indonesia membuat kebutuhan akan energi listrik meningkat cukup pesat. Di sisi lain, cadangan energi fosil semakin menipis. Oleh sebab itu, pengembangan energi dari sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) seperti energi angin menjadi sangat urgen untuk ditingkatkan,” Ungkap Kepala BPPT, Marzan A Iskandar pada acara penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama antara WHyPGen dan para mitra sebagai rangkaian Kegiatan WHyPGen Project Board Meeting di BPPT, (14/05).

Meskipun negara kita memiliki potensi EBT yang cukup melimpah, sayangnya menurut Marzan pemanfaatannya masih belum optimal. Seperti energi angin misalnya, kontribusi terhadap pasokan energi total pada tahun 2030 hanya sekitar 174 GWh atau setara dengan 0,01% dari total bauran energi nasional. Padahal apabila dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, pembangkitan listrik dengan menggunakan energi angin cenderung lebih ramah lingkungan dan rendah karbon.

Dengan dasar tersebut dan sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, BPPT melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP) menyelenggarakan proyek Wind Hybrid Power Generation  Market Development Intiatives (WhyPGen). Proyek yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan sumber energi angin dengan cara mempercepat pemanfaatan teknologi pembangkit listrik tenaga angin/bayu yang terhubung jala-jala atau on-grid, khususnya melalui kombinasi dengan teknologi pembangkit listrik lainnya seperti energi surya, hidro ataupun diesel.

Target utama proyek WHyPGen (2012-2015) adalah pembangkitan  energi listrik berbasis teknologi WHyPGen sebesar 18,115GWh atau setara dengan pengurangan emisi CO² sebesar 16.050 metric ton, dari aplikasi sistem WHyPGen kapasitas terpasang sebesar 9,4 MW.  

Terkait dengan energi angin untuk kelistrikan, disampaikan Marzan bahwa perkembangannya sangat lamban, baru mencapai sekitar 2 MW, dengan aplikasi off grid, hibrid maupun on grid, dan hampir sebagian besar merupakan kegiatan ujicoba hasil penelitian dan pengembangan (R&D) bukan skema komersial. “Kendalanya selain harga teknologi turbin angin yang masih relatif tinggi dan belum adanya dukungan pendanaan baik dari dalam maupun luar negeri, karakteristik angin yang fluktuatif dan site specific juga menjadi kendala tersendiri,” ungkapnya.

Karena itu melalui proyek WHyPGen ini telah dan akan dilaksanakan assessment sekaligus pemetaan potensi tenaga angin di lokasi-lokasi yang teridentifikasi memiliki sumber energi angin yang potensial, yaitu daerah-daerah dengan kecepatan angin rata-rata tahunan minimal 5 m/s. Hasil dari kajian dan pemetaan ini, akan disampaikan dan dipromosikan kepada pihak pemerintah maupun investor swasta, untuk mendorong investasi dalam pemanfaatkan potensi energi angin yang ada di Indonesia.

Saat ini WHyPGen telah memetakan potensi energi angin di 8 lokasi yang terdapat di daerah Nusa Tenggara Timur, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat dan Bali. Dari hasil pemetaan tersebut, teridentifikasi bahwa NTT memiliki potensi angin yang cukup bagus dan dapat dikembangkan menjadi pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang lebih dari 50 MW. Demikian juga halnya di Banten, memiliki potensi untuk PLTB dengan kapasitas sampai dengan 100MW. Bahkan di Jawa Barat terdapat beberapa lokasi yang cukup potensial untuk dikembangkan PLTB dengan total kapasitas lebih dari 100MW.

Dalam pelaksanaan proyek WhyPGen, BPPT tidak berjalan sendiri tentunya melibatkan para pemangku kepentingan utama (key stakeholder) yang berkepentingan dengan pemanfaatan energi angin, seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, khususnya Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero), serta Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI). “Institusi-institusi tersebut kami libatkan sebagai anggota dari Project Board untuk proyek WHyPGen, dimana salah satu peran utama dari Project Board adalah untuk memberikan arahan strategis kepada proyek WHyPGen dalam mencapai target-target yang telah ditetapkan”, tutup Marzan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala B2TE BPPT, Soni Solistia Wirawan selaku project national directormengatakan bahwa dalam perjalanannya pelaksanaan kegiatan dimonitor oleh project board yang anggotanya terdiri dari UNDP, Bappenas, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, PT PLN dan METI. “Kita punya project meeting board minimal satu kali untuk memonitor kegiatan ini.  Diharapkan kajian ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat atau pemerintah daerah dan para investor yang ingin berinvestasi,” jelasnya.

Adapun mitra yang melakukan penandatangan pada kesempatan tersebut antara lain Direktur PT Bakrie Power, Ali Herman Ibrahim, CEO PT Viron Energi, Poempida Hidayatulloh serta General Manager PT PLN Persero Distribusi Bali, I.B.G Mardawa Padangratha. Selain itu, sebelumnya juga telah dilakukan penandatanganan dengan Pemerintah Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Penandatanganan-penandatanganan tersebut adalah dalam rangka bekerjasama untuk membangun PLTB di Indonesia. Hadir pada acara tersebut Deputi Kepala BPPT Bidang TIEM, Unggul Priyanto serta para mitra terkait.  (SYRA/humas)

 

 

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id