6953
Hits

BPPT dan Kemenperin Kerjasama Tingkatkan Hilirisasi Produk Karet untuk Industri

Konsekuensi dari semakin meningkatnya penggunaan transportasi udara lanjut Hammam, salah satunya berdampak pada semakin meningkatnya jumlah kebutuhan penggantian ban pesawat, baik dengan ban baru maupun ban yang telah di-retread.  Hammam menambahkan, untuk saat ini kebutuhan ban pesawat di Indonesia untuk jenis Boeing saja diperkirakan bisa mencapai sekitar 40.000 unit per tahun sedang untuk jenis-jenis lain diperkirakan total mencapai 30.000 unit per tahun. Sementara untuk “retread ban pesawat” menggunakan Jumlah karet alam  sekitar 80 – 90 %, dan sisanya digunakan bahan karet sintetis dan bahan aditif lainnya.   

 

“Ban pesawat, yang merupakan salah satu komponen pesawat yang sangat penting dalam proses landing maupun take off.  Dengan tidak berfungsinya ban pesawat dengan baik maka sudah dapat dipastikan akan terjadi kecelakaan pesawat yang akan merenggut korban jiwa. Oleh karena itu, spesifikasi standar teknis ban pesawat baik baru maupun vulkanisir, waktu penggunaan ban pesawat yang tepat berdasarkan rentang waktu setiap pergantian ban, serta pengujian dan inspeksi sebagai tindakan preventive maintenance memegang peranan yang sangat penting dalam keselamatan penerbangan,” rinci Hammam dalam sambutannya.

 

Di tempat yang sama Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kemenperin Harjanto  menyebut industri ban karet khususnya ini merupakan pekerjaan pemerintah karena kita negara terbesar ke dua penghasil karet, ternyata memang terjadi tekanan terhadap harga komoditas karet. Sekarang ini bagaimana kita dapat melakukan diversivikasi pemanfaatan komoditas karet, kami selalu ditanyakan di komisi VI DPR, bagaimana memanfaatkan karet alam yang ada.

 

 

Selama ini lanjut Harjanto kita selalu megandalkan karet sebagai salah satu komoditas ekspor kita, ternyata harga karet dunia yang sedang tertekan tentunya pemerintah berusaha bagaimana kita bisa membangun hilirisasi dalam negeri, “salah satu caranya adalah dengan bersinergi dengan lembaga Litbang Indonesia  karena dengan demikian ini akan tercipta nilai tambah dari karet”, tutup Harjanto. (Humas/HMP)