• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Badan Penerapan Pengkajian Teknologi (BPPT) mendapat tugas dari pemerintah untuk menyediakan teknologi dalam pencanangan program Gerakan Nasional Indonesia Bersih (GNIB). Sebagai bentuk pertanggungjawaban, BPPT menggelar pameran hasil teknologi. 

BPPT menggelar pameran sekaligus seminar nasional terkait inovasi teknologi lingkungan untuk mendukung program GNIB di Gedung 2 BPPT, Jl MH Thamrin, Jakpus, Senin (15/12/2014). Berbagai produk teknologi unggulan pengolahan air limbah, kebersihan sungai, dan penangan sampah dipamerkan dalam acara ini.

"Masalah sampah dan limbah cair itu sebenarnya masuk sebagai masalah dasar kehidupan. Umumnya masyarakat Indonesia masih kurang kesadaran budaya bersih. Maka pemerintah melalui Instruksi Presiden No 13 Tahun 2011 mencanangkan program nasional GNIB sejak tahun 2011," ujar Sekretaris Utama BPPT Soni S Wirawan saat membuka acara. 

Soni mengatakan BPPT telah melakukan berbagai langkah dan pengembangan untuk mendukung program GNIB ini. Mulai dari pembuatan buku pedomanan GNIB, pengelolaan limbah padat, dan pengelolaan sampah terpadu seperti pembuatan kompos.

"Kita juga buat bank sampah dari kantor-kantor atau industri yang dilakukan oleh cleaning service yang juga bisa menghasilkan uang untuk mereka. Juga penerapan 3R (reduce, reuse, recycle) melalui rekondisi funiture kantor. Pengelolaan limbah cair dan limbah air, di mana kita bisa mengelola limbah sampai 3 kubik/hari," kata Soni.

BPPT juga disebut Soni melakukan pengembangan teknologi pengolahan air limbah yang efisien, mudah, dan murah pengoperasiannya dengan kualitas air hasil olahan yang memenuhi baku mutu lingkungan. Inovasi tersebut tak hanya dilakukan di gedung-gedung milik BPPT sendiri namun telah juga dipakai oleh beberapa industri di Jabodetabek dan perkantoran. 

"Penghematan air dan monitoring di gedung BPPT sejak 2011 yang bisa dilakukan untuk flushing toilet, penyiraman air taman, cuci kendaraan dll. BPPT juga telah mengembangkan teknologi pengolahan sampah meliputi sistem pengelolaan sampah dari sumber, bank sampah, komposting dan pemanfaatan sampah menjadi energi yang telah diaplikasikan di kota Purbolinggo," Soni memaparkan.

Untuk menjawab tantangan kurangnya air bersih, BPPT pun telah mengembangkan efisiensi pemanfaatan sumberdaya air. Seperti melalui pemanfaatan air hujan, pengolahan air dari berbagai sumber air baku, daur ulang air limbah dan upaya-upaya penghematan air lainnya. 

"BPPT hasil penelitian banyak, tapi packaging, sosialisasi dan promosi yang masih kurang. Contoh kita ada pengelolaan air bersih misal dari air banjir untuk mandi dan cuci tangan, walau belum bisa untuk minum. Tiap banjir, alat mobile kita langsung ke lokasi dan diterapkan, dibawa pake truk. Ada juga teknologi proses limbah-limbah berbahaya misal yang berwarna dari tekstil," jelas Soni.  

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) mendukung langkah-langkah yang dilakukan BPPT. Hal tersebut dikatakan Staf Ahli Menteri LHK Bidang Energi Bersih dan Terbarukan, Sabar Ginting yang mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya dalam acara ini. 

"Kami sangat mendukung semangat seminar dan pameran ini untuk memotivasi masyarakat hidup bersih dengan upaya bersama. Prinsipnya sampah harus dikelola dari sumbernya mengingat makin berkurangnya TPA (tempat pembuangan akhir dan dampak pencemaran sampah)," ucap Sabar membacakan sambutan Siti.

Dalam sambutannya yang dibacakan tersebut, Siti menyatakan pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah di daerahnya masing-masing. Siti juga mengingatkan bahwa saat ini paradigma mengenai sampah perlu diubah di mana filosofi yang perlu ditanamkan adalah bahwa sampah bisa menguntungkan masyarakat jika dikelola dengan baik. 

Hal tersebut sekaligus memberikan keuntungan bagi Pemda untuk mengurangi sampah yang kian tak terbendung mengingat pertumbuhan masyarakat dan industi semakin besar.

"Pemerintah merasa perlu menginisiasi GNIB sebagai upaya membumikan paradigma tentang sampah. Program bank sampah juga menjadi ekonomi kerakyatan karena kegitana ini membuat peluang kerja bagi pelaku. Hasil dari komposing merupakan pembuatan ekonomi kreatif dari sampah," ungkap Siti dalam amanatnya. Berbagai teknologi yang dipamerkan BPPT hari ini seperti teknogi ultrafiltrasi dengan alat pengolahan air keruh tanpa bahan kimia), IPAL (instalasi pengolahan air limbah) dengan teknologi online monitoring kualitas air, arsinum (air siap minum), dan biofilter (alat pengolah limbah domestik).  

Selain itu juga ada teknologi AOPS (advanced oxidation processed) yang merupakan alat pengolah limbah warna, teknologi elektrokoagulasi untuk pengolahan air dari tumpukan sampah (lindi) untuk mereduksi warnanya, sepeda ultrafiltrasi, dan algae mobile photobioreactor untuk mendaur cemaran industri dengan mikroalgae. 

Seminar yang akan digelar siang ini dihadiri dari berbagai stake holder seperti dari perkantoran, Rumah Sakit, hotel, dan pelaku industri serta lembaga-lembaga terkait lainnya. Masyarakat umum pun dipersilakan datang jika ingin melihat pameran yang akan digelar hingga sore ini.  

Dalam pameran ini juga diperlihatkan sosialisasi mengenai daur ulang sampah, baik sampah rumah tangga, sampah perkantoran, industri, hingga sampah kota. Sampah-sampah tersebut bisa dijadikan kompos atau pupuk organik dan juga biogas (konversi sampah makanan menjadi energi). Selain itu juga ada stand ekonomi kreatif yang menghasilkan barang-barang dari daur ulang sampah seperti tas dari bekas bungkus kopi.

Sumber : http://indonesiaberinovasi.com/read/2015/04/1640/gerakan-nasional-indonesia-bersih-bppt-pamerkan-inovasi-teknologi-lingkungan



Kepala Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT),Dr Arie Herlambang, M.Si menyebutkan, sebanyak 222 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia telah rusak. 

"Pada tahun 1980-an, DAS yang rusak hanya sekitar 20, tapi sekarang, meningkat menjadi 222," ujar Arie pada Seminar "Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Kelestarian Bumi Indonesia" di Gedung Geostech, kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (22/4/2015). 

Menurut dia, sebagian besar DAS yang rusak berada di Pulau Jawa. Penyebab utamanya adalah masalah ekonomi sosial. 

"Kepemilikan lahan menjadi penyebab utama banyaknya DAS yang rusak," ujarnya menambahkan.

Jika DAS rusak, sambung dia, maka akan sulit untuk memperbaikinya lagi. Padahal, kebutuhan akan air semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Ari Herlambang menjelaskan, ada dua permasalahan air di Indonesia yakni kurangnya kuantitas air dan kualitas air. 

"Oleh karenanya, kami mengadakan seminar ini, yang bertujuan untuk saling bertukar pikiran dan mencari jalan keluar dari permasalahan air tersebut," imbuhnya. 

Dewasa ini, BPPT memiliki sejumlah teknologi untuk mengatasi permasalahan air tersebut, antara lain teknologi geospasial untuk mengetahui di mana lokasi air, kemudian geolistrik untuk mengetahui sumber air, serta teknologi daur ulang.

Teknologi daur ulang sendiri telah digunakan di beberapa tempat yang mengalami kekurangan air, namun yang sangat disesalkan  bahwa teknologi tersebut justru belum diterapkan di daerah yang kaya akan air. 

"Masalahnya adalah permasalahan psikologis, selain jumlah air masih banyak juga harga air masih murah," tukasnya.

Sementara itu, Peneliti Utama Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Ir Nusa Idaman Said, M.Eng, menyoroti masih banyaknya klinik-klinik kesehatan, termasuk puskesmas, di Indonesia yang belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai. 

Menurut dia, sebanyak 9.000-an klinik kesehatan di Tanah Air  membuang begitu saja limbah medisnya ke sungai, bahkan selokan air di permukiman masyarakat.

"Misalkan ada pasien yang terkena hepatitis, jika tidak punya IPAL ini sangat berbahaya, karena bisa saja limbah itu masuk mencemari sumur warga," terangnya.

Ia menyesalkan pemerintah yang baru mewajibkan keberadaan IPAL bagi rumah sakit-rumah sakit, sementara klinik-klinik kesehatan tidak diharuskan memiliki instalasi vital tersebut. 

Untuk itu lah, Pusat Teknologi Longkungan BPPT menciptakan instalasi IPAL domestik yang diperuntukkan bagi klinik-klinik kesehatan dan puskesmas, dengan biaya terjangkau. 

"Biaya pembuatan IPAL tersebut tidak mahal kalau dilihat manfaatnya. Hanya sekitar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per unit," terang dia. 

Lebih lanjut Ir Nusa Idaman menjelaskan, keunggulan dari instalasi IPAL domestik ini antara lain tahan terhadap fluktuasi jumlah air limbah maupun fluktuasi konsentrasi, mudah perawatannya serta murah biaya operasionalnya karena konsumsi listrik untuk blower-nya hanya 40 watt. Sementara air hasil pengolahan IPAL tersebut bisa dimanfaatkan  kembali.

Ke depan, BPPT akan mendorong agar setiap rumah maupun usaha memiliki instalasi pengolahan limbah agar tidak mencemari lingkungan di sekitarnya, terutama sungai.

Sumber : http://www.rri.co.id/post/berita/159422/teknologi/bppt_kembangkan_teknologi_daur_ulang_limbah_domestik.html


Presiden Jokowi mengunjungi sejumlah lokasi di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Tangerang Selatan. Di salah satu gedung, Jokowi menyempatkan diri melihat drone 'alap-alap' terbang.

Lokasi take off ini digelar di Gedung Teknologi 2 BPPT‎, Tangsel, Senin (13/4/2015). Di sebuah landasan sepanjang 250 meter, pesawat tanpa awak itu sukses terbang meninggalkan landasan. 

Jokowi juga ditemani oleh mantan Presiden BJ Habibie dan putranya, Ilham Habibie. Sejumlah menteri dari Kabinet Kerja juga hadir menemani Jokowi.

Drone tersebut bisa terbang empat jam nonstop. Dia juga sanggup terbang hingga 6 ribu kaki. 

Di gedung ini juga terdapat beberapa drone dengan berbagai ukuran.‎ Namun tidak semuanya ikut diterbangkan.

Sumber : http://news.detik.com/read/2015/04/13/123608/2885550/10/di-puspiptek-jokowi-nonton-drone-alap-alap-terbang


Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengunjungi Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), di Tangerang Selatan, Banten. Dalam kunjungan ini Jokowi menyaksikan peragaan pesawat drone atau tanpa awak buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi  (BPPT). 

Pantauan Liputan6.com, Jokowi yang didampingi Presiden ke-3 RI BJ Habibie itu tampak serius mendengarkan penjelasan dari salah seorang pegawai Puspiptek, mengenai peragaan penerbangan drone bernama alap-alap itu. Setelah mendengar penjelasan itu, Jokowi menyaksikan penerbangan drone di sebuah lapangan take off, yang khusus diperuntukkan bagi uji coba Drone.  

Setelah bersiap terbang di landaskan sepanjang 200 meter itu, drone itu pun terbang dikendalikan salah seorang petugas BPPT. Pesawat tanpa awak itu sukses terbang meninggalkan landasan dan mengelilingi wilayah udara sekitar Puspiptek. 

Dalam keterangan petugas Puspiptek yang disampaikan kepada Jokowi, Drone Alap-alap itu mampu terbang selama 4 jam nonstop dengan jangkauan terbang hingga 6 ribu kaki. 

Selain melihat penerbangan Drone Alap-alap, Jokowi juga melihat beberapa pesawat drone produksi BPPT, seperti Drone Gagak dan Belibis. "Produk-produk ini telah dipesan Pak, oleh (Kementerian) Pertahanan dan saat ini masih sedang diproduksi," kata petugas tersebut.

Sumber : http://news.liputan6.com/read/2212741/jokowi-tinjau-penerbangan-3-pesawat-tanpa-awak-di-puspitek


Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau Puspiptek yang berada di Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan, Senin (13/4).

Kehadiran Presiden yakni untuk mengikuti acara National Innovation Forum Tahun 2015 di Gedung Widya Bhakti Puspiptek. 

Rencananya, kegiatan itu akan dihadiri oleh menteri kabinet kerja seperti Menristek dan pendidikan Tinggi Mohammad Nasir maupun para kepala Daerah di Provinsi Banten seperti Plt Gubernur Banten Rano Karno dan juga Wali Kota Tangerang Selatan Airi Rachmi Diany.

Selain itu Presiden dijadwalkan mengikuti penandatanganan beberapa MoU pemanfaatan teknologi antara sektor akademik dengan sektor bisnis serta pameran National Innovation Expo yang menampilkan berbagai hasil riset dan inovasi yang siap untuk dikomersialisasikan.

Selanjutnya, Joko Widodo pun akan meninjau ruang kendali utama dan teras reaktor nuklir yang dimiliki oleh Badan Nasional Tenaga nuklir atau Batan yang juga berada di kawasan Puspitek Tangerangselatan.

Sebelum mengikuti acara National Innovation forum di Puspiptek Tangerang selatan, Presiden juga sempat mengunjungi pasar modern BSD Serpong untuk menemui masyarakat maupun pedagan yang sedang beraktivitas di pasar modern BSD.

Usai melaksanakan kunjungan kerja di Tangerang Selatan, Presiden Joko widodo dan rombongan dijadwalkan melanjutkan kunjungan kerjanya menuju Pasar Kemis Kabupaten Tangerang untuk meninjau Pabrik PT Agarindo Bogatama.

Pantauan di lapangan, Wali Kota Tangerang Selatan dan Plt Gubernur Banten sudah menunggu kehadiran rombongan Presiden di Pasar Modern BSD Serpong.

Sumber : http://sp.beritasatu.com/home/presiden-jokowi-kunjungan-kerja-ke-tangerang/83991


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT