• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan status "Siaga Darurat Banjir" bagi Jakarta dan sekitarnya. Menanggapi hal itu itu, sejumlah instansi terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), serta TNI-AU melaksanakan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC). Teknologi tersebut dengan menyemai NaCL (garam dapur yang diolah menjadi tepung) untuk disebarkan dalam awan sebagai operasi modifikasi cuaca.

Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo mengatakan, TMC bisa merekayasa cuaca dari hujan menjadi tidak hujan, maupun sebaliknya. Awan-awan yang tumbuh di Jakarta, lanjut dia, juga bisa dipercepat proses hujannya agar tidak menjadi awan yang besar. Metode ini juga bisa mengurangi masa udara yang masuk ke Jabodetabek agar hujan yang terjadi tidak terlalu besar.

Keunggulan lainnya, dapat mengganggu proses pertumbuhan awan Jabodetabek yang bergerak meninggalkan daerah aliran sungai, dan tidak menjadi hujan di Jabodetabek. Penyebaran garam dieksekusi dengan menggunakan pesawat terbang jenis Hercules dan Casa 212-200. Ia menjelaskan, teknologi ini sebelumnya telah digunakan pada 2013 lalu. Saat itu, proses itu berhasil mengurangi curah hujan sebesar 20 hingga 50 persen.

Untuk melaksanakan TMC itu, pemerintah pusat dengan Pemprov DKI Jakarta telah mengalokasikan Rp 28 miliar. Rp 20 miliar dari Pemprov DKI Jakarta dan Rp 8 miliar dari BNPB. Anggaran itu dialokasikan untuk pelaksanaan TMC sepanjang yang dibutuhkan.

Sumber : http://www.centroone.com/news/2014/01/1y/jakarta-darurat-banjir-bnpb-bppt-siapkan-modifikasi-cuaca/



Penanggulangan bencana banjir menjadi salah satu fokus utama Pemerintah DKI Jakarta setiap kali musim hujan tiba. Bencana banjir di Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2013 mendorong pemerintah pusat dan daerah setempat melakukan antisipasi dengan berbagai langkah. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif telah melaporkan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyo mengenai persiapan potensi nasional untuk mendukung pemerintah daerah setempat. Menyikapi hal tersebut, Presiden RI juga telah memerintahkan Kepala BNPB untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif yang dibantu oleh TNI/Polri dan kementerian/lembaga terkait. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksikan bahwa curah hujan tinggi akan terus mengguyur wilayah DKI Jakata dan sekitarnya hingga Februari mendatang. Melihat kondisi ini, BNPB meminta kepada UPT Hujan Buatan – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mempersiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. 

TMC merupakan upaya untuk melakukan intervensi terhadap proses yang terjadi dalam awan dan lingkungannya. Pada konteks penanggulangan banjir di Jakarta dan sekitarnya, TMC digunakan untuk mengurangi curah hujan yang berlebih sehingga potensi banjir dapat dihindari. Pelaksanaan TMC ini secara teknis akan dilakukan oleh BPPT dengan dibantu TNI AU. Saat ini BPPT telah mendirikan pos operasi TMC di Halim dan Pondok Cabe. TNI AU telah memberikan dukungan pesawat jenis Hercules dalam operasi penyemaian NaCL di udara.  

Terkait dengan hal tersebut, BNPB dan BPPT menggelar pembukaan persiapan operasi TMC yang diselenggarakan di Gedung Suma II Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta pada Selasa (14/01). Rencananya operasi TMC akan disiagakan selama dua bulan, terhitung pada 14 Januari 2014 hingga 14 Maret 2014. Namun demikian pelaksanaan operasi ini masih harus menunggu keluarnya pernyataan Pemerintah DKI Jakarta dalam menetapkan Status Siaga Darurat Banjir. 

BNPB telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20 miliar untuk pelaksanaan operasi TMC di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Operasi TMC ini dilakukan atas kerjasama antara BNPB dan BPPT dan didukung oleh BMKG, TNI AU dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sumber : http://www.bnpb.go.id/news/read/1826/bnpb-dan-bppt-persiapkan-operasi-tmc


Tim modifikasi cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengaku telah mematangkan persiapan untuk menggelar redistribusi hujan dan hujan buatan sebagai bagian upaya kesiapsiagaan bencana. 

Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT, Florentinus Heru Widodo mengatakan, sejauh ini tim TMC BPPT sudah melakukan berbagai persiapan dan pengembangan metode terbaru dalam penyemaian garam di udara ketika melakukan hujan buatan.  

"Tim sudah siap, namun untuk keputusan melakukan redistribusi hujan di DKI Jakarta, pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum mengeluarkan status siaga darurat," katanya di Jakarta, Selasa (7/1) malam.  

Sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sudah memberikan tugas TMC kepada tim TMC BPPT belum mengeluarkan anggaran redistribusi hujan saat musim penghujan seperti ini berguna untuk mengurangi potensi  banjir di DKI Jakarta.  

Selain itu, tim TMC BPPT di tahun 2014 ini sudah mendapatkan kontrak dari PLN Sumatera Utara April mendatang tepatnya di Koto Panjang dan Danau Singkarak untuk pengisian waduk.  

Di samping itu PLN Kalimantan Selatan juga sudah melakukan kontrak dengan tim TMC BPPT. Selain itu juga dengan pemerintah Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah dan Barat untuk antisipasi asap akibat kebakaran hutan di musim kemarau mendatang.

Dalam rencana kegiatan TMC tahun 2014, tim TMC BPPT mengembangkan teknologi baru dengan peralatan Consule Mekanisasi Seeding berupa kontainer yang ditempatkan di pesawat Hercules.  

Penggunaan kontainer untuk aktivitas penyemaian garam ini mampu mencegah kerusakan pesawat yang keropos terkena garam.  

"Kami dari BPPT, BNPB dan TNI AU telah membuat peralatan Consule Mekanisasi Seeding untuk TMC di pesawat Hercules. Sistemnya tinggal membuka pintu lalu kontainer dibuka untuk mengeluarkan bahan semai," ucapnya. 

Dahulu lanjutnya, dalam aktivitas penyemaian menggunakan wadah seperti rumah-rumahan. Saat hendak menyemai garam, pintu belakang pesawat dibuka, sehingga terjadi turbulensi dan bahan semai berceceran kemana-mana sehingga bisa mengenai badan pesawat dan berpotensi keropos. 

TMC memiliki beragam manfaaat. Jika TMC untuk meminimalisir banjir terdiri dari beberapa metode yakni sistem redistribusi hujan.  

Metode ini akan menghujankan awan-awan sebelum jatuh di Jakarta, misalnya dihujankan dahulu di laut agar tidak mengganggu daratan.  

Teknik selanjutnya adalah mengganggu awan di Jakarta atau metodologi kompetensi, sehingga pertumbuhan awan terhambat.  

Dalam teknik ini dilepaskan bahan semai yang ukurannya sangat kecil untuk menangkap masa udara di Jakarta sehingga menganggu pertumbuhan awan kuat. 

Konsekuensi teknik ini curah hujan kecil namun durasinya diperlebar. Sedangkan tanpa itu, jika hujan disertai guntur dan petir berpotensi hujan lebat serta menyebabkan banjir.  

Metodologi ini dilakukan dengan  menyemaikan garam (NaHcL). Pesawat digunakan untuk menyemai garam dapur powder atau bubuk.  

Sedangkan flare yang dibakar yang juga mengandung unsur garam dapur menggunakan Ground Based Generator (GBG).  

Prinsip kerjanya, ketika GBG dihidupkan muncullah inti-inti kondensasi atau butir-butir uap air sehingga mengganggu pertumbuhan awan. 

Inti kondensasi dari generator akan berkompetensi dengan inti kondensasi di udara dalam menyerap uap air. Metode kompetisi ini bisa disebut juga memandulkan awan.

Sumber : http://www.suarapembaruan.com/home/tim-modifikasi-cuaca-bppt-siap-antisipasi-bencana-di-2014/47609


Satu pesawat Cassa milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan membantu kegiatan modifikasi cuaca di wilayah Jakarta, kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan BPPT Heru Widodo

"Selasa depan akan ada penambahan pesawat," ujarnya di Jakarta, Sabtu.

Operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) guna mengurangi potensi banjir di Jakarta akan dilakukan selama sekitar dua bulan, yakni mulai 14 Januari hingga 14 Maret 2014. 

Pemerintah mengalokasikan anggaran senilai Rp20 miliar untuk TMC yang ditargetkan dapat mengurangi potensi banjir hingga 35 persen.  

Saat ini TMC dilakukan oleh satu pesawat Hercules milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan hanya sekali penerbangan dalam sehari menyemai garam.

Bahan semai berupa garam sebanyak 42 ton juga telah tersedia. Garam (NaCH) digunakan untuk menahan awan agar tidak menjadi awan hujan.

"Penerbangan masih kurang karena pesawat kita cuma satu. Kita minta minimal tiga. Sekarang satu pesawat hanya satu-dua kali terbang jadi prosentasi dibandingkan jumlah awan masih belum memadai,"  katanya.

Diharapkannya, modifikasi cuaca bisa dilakukan sama seperti 2013 yang dapat melibatkan pesawat terbang sebanyak lima-enam kali dalam sehari.  

Selain karena kurangnya pesawat dan peralatan, Heru menambahkan bahwa bencana yang terjadi hampir di sebagian besar wilayah Tanah Air mengakibatkan pesawat yang ada tidak bisa difokuskan seluruhnya untuk menangani banjir Jakarta.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/414705/cassa-bppt-bantu-modifikasi-cuaca


Hujan deras sejak Sabtu 11 Januari lalu mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah ibukota. TNI Angkatan Udara (TNI AU) menyiapkan 1 unit helikopter Colibri untuk memantau secara langsung daerah mana saja yang mengalami bencana banjir.

"Kami akan memberikan informasi yang menyeluruh kepada Pemda, BNPB/BPPT dan masyarakat agar menjadi masukan dalam memberikan bantuan kemanusian kepada saudara yang mengalami musibah banjir," ujar Komandan Lanud Halim Marsekal Pertama TNI Sri Pulung, Jakarta, Senin (13/1/2014).

Sri Pulung mengatakan, TNI AU bekerjasama dengan BNPB dan BPPT akan melakukan modifikasi cuaca mengadakan hujan buatan dengan cara menebarkan Garam (NaCl) sehingga awan menjadi hujan sebelum masuk Jakarta. "Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk dari Operasi Militer Selain Perang (OMSP)," tegasnya.

Adapun Rute yang dipantau dari udara adalah wilayah Condet, Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Cipinang Melayu dan kembali lagi ke Halim Perdanakusuma dengan ketinggian kurang lebih 300 sampai dengan 700 feet.

"Dari pantauan udara, titik daerah yang terlihat paling parah adalah daerah Kampung Melayu. Terlihat dengan jelas jalur terputus dari Kampung Melayu ke arah Jatinegara," kata Sri Pulung. (Rmn/Mut)

Sumber : http://news.liputan6.com/read/799405/pantau-banjir-jakarta-tni-au-terbangkan-1-helikopter-colibri


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT