1742
Hits

Tingkatkan Nilai Tambah, BPPT Beri Sentuhan Teknologi Bagi Pelaku Industri Kreatif Batik

Guna mendorong penggunaan lilin batik (malam) berbasis sawit kepada para pengrajin dan stakeholder industri kreatif batik, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Pusat Teknologi Agroindustri (PTA BPPT) menggelar Sosialisasi dan Workshop Malam Batik Berbasis Sawit Kepada UKM Batik berkerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di sentra-sentra batik Indonesia melalui Webinar Kemitraan UKM Batik Sawit (08/4).

 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyambut baik dan mengapresiasi workshop malam batik berbasis sawit ini karena pernah berkecimpung dibisnis kelapa sawit yang membuka begitu banyak lapangan perkerjaan bagi masyarakat Indonesia.

 

Menurut Sandi, pihaknya akan terus mendukung upaya pelestarian batik dan inovasi guna kolaborasi industri sawit sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya yang sudah 11 tahun menjadi kebangaan Indonesia serta termasuk kedalam sektor yang didominasi  industri kecil menegah dan menjadi perhatian khusus. Saat ini, ada 101 sentral batik di Indonesia serta 47.000unit usaha yang serapan tenaga kerjanya lebih dari 200.000 orang.

 

Selain itu, batik juga merupakan penggerak dan pemacu roda perekonomian serta sebagai lokomotif Indonesia keluar dari pandemi dan keterpurukan ekonomi. Kedepan, kita ingin ekomomi kreatif dapat lebih berkualitas dan berkelanjutan. Semoga malam batik berbasis sawit ini dapat berkontribusi besar pada produksi batik Indonesia, pungkasnya.

 

Sementara, Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan sosialisasi ini bertujuan mengenalkan produk inovasi teknologi berbahan baku turunan minyak sawit berupa produk “Bio-Pas” pengganti paraffin dalam malam/lilin batik, kepada masyarakat khususnya komunitas pelaku industri kreatif batik.

 

Lebih lanjut menurutnya, tantangan industri batik kedepan adalah bagaimana produk batik dapat menyesuaikan dengan perubahan tuntutan pasar yang terjadi di era industri saat ini mulai memasuki revolusi industri 4.0. yang akan bersentuhan dengan beragam teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), wearables, robotika canggih, 3D printing, Big Data, Cloud System.

 

Karenanya, inovasi bio-pas sebagai upaya peningkatan penyerapan minyak sawit nasional selain penyediaan bahan baku yang bersumber dari produk terbarukan bagi industri batik.  Semua ini dilakukan dalam rangka menjalankan peran BPPT sebagai lembaga pemerintah yang berfungsi sebagai lembaga pengkajian dan penerapan teknologi serta hilirisasi teknologi agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, ujar Hammam.

 

Untuk itu, dalam ekosistem inovasi teknologi, BPPT bersama-sama para stakeholder seperti perguruan tinggi, komunitas, pelaku industri, media massa, Pemerintah Pusat maupun Daerah bersinergi guna menumbuh kembangkan perekonomian, jelasnya.

 

Dikesempatan yang sama, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan menyebut, kebutuhan paraffin batik pada tahun 2019 adalah 36.000 ton yang melibatkan lebih dari 55.000 perusahaan batik skala kecil maupun menengah.

 

Keunggulan paraffin batik ini menurut Soni karena terbuat dari bahan yang dapat diperbarui, halal, ramah lingkungan dan dapat meningkatkan nilai tambah tanaman sawit. Pembuatan malam batik berbahan baku sawit ini, merupakan kegiatan inovasi teknologi BPPT yang diawali beberapa tahun lalu.

 

Diawali penyusunan formula malam batik dan diujikan di Balai Besar Kerajinan dan Batik-Kementerian Perindustrian di Jogyakarta, kemudian dilanjutkan pengenalan produk inovasi ini kepada pengrajin pada industri kreatif batik guna memperoleh masukan dalam menyempurnakan kualitas malam batik berbahan baku sawit ini.

 

Diharapkan masyarakat industri batik dapat lebih berdaya dalam menghadapi tantangan yang ada dan menjadikan BPPT sebagai bagian solutif dalam mengatasi permasalahan nasional serta penghela pertumbuhan perekonomian masyarakat di tingkat lokal, regional maupun, nasional.

 

Sebagai informasi, webinar dihadiri sekitar 500 peserta terdiri dari Kementerian, Asosiasi dan komunitas seperti Kementerian Koodinator Perekonomian, APOLIN (Asosiasi Olekimia Indonesia), MAKSI (Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia), GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit), PTPN Holding, Asosiasi Pengrajian dan Pengusaha Batik Indonesia, Peneliti di Badan Litbang serta Perguruan Tinggi. (Humas BPPT)