6722
Hits

Sagu Juga Mampu Menjadi Sumber Pangan Nasional


"Swasembada beras juga menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kebutuhan yang semakin meningkat seiring pertambahan penduduk, alih fungsi lahan persawahan untuk kepentingan lain seperti pemukiman, fasilitas umum dan industri. Selain itu, ketersediaan air untuk persawahan juga menghadapi ancaman dengan meningkatnya kebutuhan air untuk rumah tangga dan industri. Belum lagi menghadapi gangguan akibat perubahan iklim global yang banyak mengakibatkan gagal panen, misalnya bencana banjir dan kekeringan," kata Listyani, di acara Talkshow Festival Pangan Sagu Nusantara 2014, (3/5).

Masalah di atas, tambah Listyani, telah membawa pada kebutuhan yang tinggi untuk mengembangkan sumber pangan lain yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Harapan besar dari potensi sumber pangan lain yang ada di Indonesia adalah sagu.

BPPT sebagai lembaga kaji terap teknologi memiliki tugas untuk melakukan pengembangan teknologi pengolahan hasil pertanian menjadi bahan makanan. Saat ini, BPPT sedang bersinergi dengan Dirjen Perkebunan, Kementerian Perindustrian dan Pemerintah Daerah Sorong Selatan, mengembangkan pilot project untuk pemberdayaan UKM produksi pati sagu di Dusun Sayal Kabupaten Sorong Selatan serta pengembangan produsen produk pangan dari sagu.

"Dengan pilot project ini diharapakan konsep pengembangan sagu (khususnya di Papua) dapat digunakan sebagai referensi pola pemberdayaan UKM sagu dan pola kerjasama petani dan pengusaha secara nasional," ujar Listyani.

Listyani juga menyampaikan, ada tiga kunci utama dalam pengembangan sagu di Indonesia. Pertama, harus ada industri setingkat perusahaan untuk mengelola sagu. Kedua, hilirisasi pengolahan sagu dan memperkaya varian-varian sagu. Ketiga, mendorong masyarakat untuk menyukai pangan dari sagu. "Jadi, pada intinya kalau mau mengembangkan sagu harus ada industrinya, proses teknologi sagu, dan harus bisa membawanya ke pasar," tuturnya.

Listyani mengingatkan agar pemangku kebijakan terkait harus segera menaikkan pamor sagu, meningkatkan produksi sagu, dan mengembangkan industrinya dengan intervensi teknologi. 

"Kita harus waspada agar produk sagu tidak 'dicuri' atau dikembangkan oleh negara lain. Konon kabarnya negara Malaysia telah mengembangkan gula berbasis sagu dengan rendemen mendekati 100 persen. Mari kita bersama-sama melakukan riset yang berkolaborasi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah (ABG) dalam pengembangan sagu sebagai sumber pangan nasional," tutup Listyani. (tw/SYRA/Humas)