4484
Hits

Penuhi Kebutuhan Daging Nasional, BPPT Terapkan Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit

Administrator
23 Oct 2019
Layanan Info Publik

 

Kebutuhan terkait pasokan daging sapi yang sangat tinggi pada tiap daerah, tentunya membuat pemerintah harus bijak dalam menemukan solusi cerdas untuk menekan impor. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya protein hewani menyebabkan konsumsi protein hewani, khususnya daging sapi meningkat juga.

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama lima tahun ini telah berupaya untuk meningkatkan produktivitas peternakan melalui penerapan konsep integrasi sapi-sawit. Pembiakan sapi di lahan perkebunan kelapa sawit dapat memberikan aliran pendapatan tambahan bagi pemiliknya dan dapat mengurangi biaya produksi serta meningkatkan produktivitas.

 

Guna mewujudkan swasembada daging sapi, BPPT bersama dengan Kemitraan Indonesia-Australia tentang Ketahanan Pangan di Sektor Daging Merah dan Sapi (Partnership) menggelar konferensi internasional tentang Integrated Cattle & Oil Palm Production (ICOP) Conference 2019, di Jakarta (23/10). Forum ini membahas hasil penelitian, peluang dan tantangan integrasi sapi dan kelapa sawit serta untuk mendorong pelaku industri dalam melakukan integrasi sapi dan kelapa sawit yang menguntungkan.

 

Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan bahwa saat ini BPPT tengah mengkaji potensi pemanfaatan lahan perkebunan sawit untuk diintegrasikan dengan peternak sapi, khususnya peternak rakyat. Dikatakannya, permintaan daging sapi nasional  saat ini terus meningkat, namun peningkatan itu tidak diimbangi dengan peningkatan produksi daging sapi dalam negeri, sehingga ketersediaan daging sapi secara nasional tentunya masih kurang.

 

Hammam menyebut, Indonesia saat ini memiliki 14,03 juta hektar perkebunan sawit dengan 4,4 juta areal yang berpotensi untuk diintegrasikan dengan ternak sapi. Namun saat ini baru 132.000 hektar perkebunan sawit yang sudah diintegrasikan dengan 66.000 ekor sapi.

 

Melalui ICOP Conference 2019 Hammam berharap bisa menghasilkan rekomendasi dari para pemangku kepentingan terkait kebijakan serta pengimplementasian dalam pengintegrasian sapi-sawit. Sehingga akan diperoleh rekomendasi kebijakan dan implementasi pada integrasi kelapa sawit dan sapi dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemerintah, industri peternakan, perkebunan kelapa sawit swasta, serta perusahaan milik negara (BUMN), jelasnya.

 

Sementara, Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Wisnu Wijaya Soedibjo yang juga selaku Co-chair Indonesia Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector mengungkapkan pihaknya melalui salah satu program Partnership telah mengujicobakan integrasi sapi-sawit sejak tahun 2016. Salah satu potensi usaha pembiakan sapi di Indonesia adalah dengan memanfaatkan lahan-lahan yang sudah ada, termasuk lahan perkebunan sawit karena dapat memberikan pendapatan tambahan serta serta meningkatkan produktivitas, kata Wisnu.

 

Wisnu juga mendukung pengembangan sapi di Indonesia, mengingat permintaan daging sapi yang meningkat sementara tidak dibarengi dengan pertumbuhan sapi, diharapkan kedepan populasi sapi di Indonesia dapat meningkat. Di acara tersebut juga diluncurkan inovasi-inovasi berbasis teknologi di sektor pembiakan sapi. BPPT meluncurkan aplikasi SI PINTER untuk pencatatan dan identifikasi ternak dengan perekaman RFID dan GPS tracker untuk memantau ternak dengan tepat dan cepat.

 

Sedangkan Partnership melalui Program IACCB meluncurkan beberapa perangkat yang dapat digunakan oleh peternak rakyat maupun industri berskala besar dalam perencanaan keuangan dan pengelolaan usaha. Inovasi tersebut adalah CALFIN, spreadsheet untuk mendukung investor dan pelaku usaha pembiakan sapi dalam membuat keputusan investasi. CALPROS, spreadsheet bagi peternak kecil atau baru untuk memantau kegiatan operasional dan produktivitas sapi indukan beserta keturunannya serta CALPROF, software manajemen ternak untuk pelaku usaha pembiakan sapi yang lebih besar untuk mendukung kegiatan operasional pemeliharaan ternak sapi sehari-hari, terutama pembiakan, penggemukan, dan pengolahan pakan.

 

Sebagai informasi, ICOP Conference 2019 juga menghadirkan Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan, Musdhalifah Machmud Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Perekonomian, General Manager Sawit Kinabalu Sdn Bhd Malaysia, Manager Numundo Plantation & Beef Operations New Britain Palm Oil, Papua New Guinea Jeff McInnerney, Strategic Advisor, Indonesia Australia Commercial Cattle Breeding Program Indonesia Paul G M Boon serta para peneliti, pejabat pemerintah dan praktisi industri.  (Humas/HMP)