441
Hits

Melalui Pemanfaatan Teknologi Biogas Berikan Kontribusi Positif Terhadap Lingkungan dan Energi

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kukuhkan tiga Profesor Riset di bidang konversi energi, geologi lingkungan, dan teknologi pascapanen, 8 Agustus 2021 di Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo, Jakarta.

 

Dalam acara pengukuhannya, Irhan Febijanto Profesor Riset bidang Konversi Energi menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul Penerapan Teknologi Biogas Dengan Skema Pasar Karbon Sebagai Pendukung Industri Kelapa Sawit Yang Berkelanjutan. (Humas OR PPT)

 

Prof. Irhan menuturkan, bahwa pemanfaatan teknologi biogas memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan energi terbarukan namun adanya beberapa kendala menyebabkan nilai keekonomian menjadi rendah hingga tidak dapat diterapkan

 

Adapun skema pasar karbon digunakan untuk meningkatkan nilai keekonomian, sehingga terlaksananya proyek teknologi biogas akan mendukung industri kelapa sawit yang berkelanjutan serta akan berkontribusi terhadap bauran energi terbarukan, perbaikan lingkungan dan terwujudnya Net Zero Emission (NZE), ujarnya.

 

Perkembangan teknologi biogas di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1970-an melalui teknologi penguraian kotoran hewan ternak dan manusia untuk menghasilkan biogas diskala rumah tangga maupun komunal. Biogas yang dihasilkan dapat mensubtitusi bahan bakar rumah tangga seperti kayu bakar dan elpiji.

 

Prof. Irhan menyebut, Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar didunia yang menghasilkan limbah padat dan limbah cair dari proses ekstraksi minyak kelapa sawit yang cukup melimpah perlu diolah serta dimanfaatkan agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.

 

Secara fisik limbah cair kelapa sawit merupakan limbah yang berwarna coklat bersuhu tinggi dan bersifat asam dengan kandungan zat organik yang tinggi. Oleh karena itu menurut Prof. Irhan perlu dilakukan proses pengolahan limbah terlebih dahulu dengan open ponding system dengan kandungan zat organik berada dibawah ambang batas sebelum dibuang kelingkungan.

 

Adapun melepas biogas ke atmosfir akan menyebabkan pemanasan global yang akan memicu perubahan iklim. Untuk itu, agar biogas tidak lepas bebas ke atmosfer perlu dibangun biogas capture system yang digabungkan dengan teknologi pengurai limbah cair secara anaerobic dengan mengguakan teknlogi kolam tertutup, Continuously Stirred Tank Reactor (CSTR), Filter Anaerobic, Fluidizes and Expand Beds, Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB) dan Reaktor Expanded Granular Sludge Bed (EGSB), jelasnya.