4471
Hits

Beri Sentuhan Teknologi, BPPT Dorong Peningkatkan Nilai Tambah Komoditas Lokal

Administrator
10 Oct 2020
Layanan Info Publik

Indonesia sebagai salah satu pengekspor minyak atsiri terbesar di dunia, diperkirakan 12 jenis minyak atsiri Indonesia yang diekspor ke pasar internasional dari 80 minyak atsiri di dunia. Minyak Nilam (Patchouli oil) dari Aceh adalah bintang bagi ekspor minyak atsiri di Indonesia yang memasok sekitar 85-90 % pangsa pasar minyak nilam global yaitu sekitar 2000 ton/tahun.

 

Dikatakan Kepala BPPT Hammam Riza di acara webinar dengan tema Pengembangan Komoditas Unggulan Nilam Aceh Untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Peningkatan Ekspor. Acara tersebut diprakarsai Komunitas Nilam Aceh Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syah Kuala (10/10).

 

Selama ini minyak nilam mentah Indonesia diekspor kebeberapa negara lain untuk diolah menjadi minyak nilam terfraksinasi, pengolahan minyak nilam Indonesia belum banyak dilakukan untuk memenuhi spesifikasi kadar patchouli alkohol, kadar asam, dan appearance dalam aroma dan warna.

 

Hammam menambahkan bahwa terdapat berbagai kendala inovasi untuk peningkatan nilai tambah minyak nilam yang merupakan suatu tantangan di antaranya inovasi minyak nilam belum banyak berkembang, adanya gap kualitas minyak nilam membuat harga nilam tidak stabil dan butuh penguasaan teknologi untuk peningkatan nilai tambah minyak nilam.

 

Penguasaan teknologi itu adalah fraksinasi (proses pemisahan senyawa) untuk meningkatkan kemurnian minyak nilam dengan sistem vakum tinggi dan otomatisasi yang dapat mengatasi masalah harga yang tidak stabil.

  

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi telah memberikan bantuan mesin fraksinasi kepada ARC Unsyiah. Melalui mesin tersebut, kata Hammam bisa diambil single oil dalam minyak nilam, minyak nilam sendiri terdiri atas 35 komponen, salah satunya patchouli alcohol.

 

Patchouli alcohol dicari-cari industri parfum karena zat ini bisa mengikat wangi. Aroma yang harusnya hilang dalam 1 jam hingga 2 jam, bisa bertahan lebih lama karena patchouli alcohol mengintervensi titik keseimbangan uap.

 

Karenanya, alat ini menjadi berkah bagi petani nilam Aceh karena daun nilam yang mereka dulu jual sebagai minyak nilam mentah kini dapat diolah langsung menjadi minyak nilam yang sudah difraksinasi dengan harga jual tidak terlalu fluktuatif dan lebih tinggi.

 

Selain itu, dengan mengolah daun nilam langsung di Unsyiah, Indonesia dapat menjual larutan dasar parfum langsung ke merk parfum dunia tanpa melalui pengolahan di luar negeri.

 

Untuk meningkatkan nilai tambah dari minyak ini, bisa menggunakan paradigma baru bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan dan teknologi itu bukan ditujukan untuk pembangunan nasional saja melainkan untuk melakukan litbangjirap yang merupakan bentuk penelitian pengembangan pengkajian dan penerapan landasan ilmiah dalam perencanaan pembangunan nasional, pungkasnya.

 

Sementara Rektor Universitas Syah Kuala (Unsyiah) Samsul Rizal menuturkan, nilam Aceh memiliki potensi yang tinggi untuk masuk pasar internasional, namun selama ini nilam Aceh hanya diekspor sebagai bahan baku saja. Pihaknya saat ini telah menandatangani kerja sama dengan beberapa perusahaan dan lembaga untuk membentuk suatu mata rantai industri nilam yang baik dari hulu ke hilir.

 

Membangun bisnis nilam di Aceh perlu dilakukan langkah-langkah strategis dengan menerapkan konsep bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan begitu, akan tercipta rantai industri yang kuat dan saling mendukung. Kualitas nilam Aceh hingga saat ini tak tergantikan dibandingkan negara lain contohnya hingga saat ini Perancis masih mengimpor nilam dari Indonesia.

 

Guna mewujudkan ekonomi Aceh yang sukses dipasar internasional menurutnya, Unsyiah telah melakukan riset nilam mulai dari penanamam sampai produksi, bukan hanya nilam Aceh saja yang harus dikembangkan tetapi komoditas lain seperti padi dan kopi pun perlu diperhatikan sebagai produk unggulan.

 

Tanpa dukungan tanpa kerjasama dan keterbukaan yang paling penting adalah bersama-sama melakukan apa yang terbaik mulai dari level atas (pemerintah) maupun dikalangan petani sendiri.

 

Diharapkan melalui acara webinar ini dapat menjadikan Aceh sebagai Global Brand untuk meningkatkan dan menghilangkan kemiskinan dan peningkatan ekspor dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik setiap tahun melalui Nilam Aceh. (Humas BPPT).