Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Dukung Instruksi Presiden RI, Hentikan Penggunaan Merkuri pada Pertambangan Rakyat

 
Presiden RI, Ir. Joko Widodo pekan lalu pimpin Rapat Terbatas mengenai penghapusan penggunaan merkuri pertambangan rakyat di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, 9 Maret 2017. Presiden pada Ratas juga memberikan tujuh instruksi terkait hal tersebut kepada jajarannya.
 
 
 
Instruksi pertama dari Kepala Negara adalah meminta untuk dilakukannya pengaturan kembali tata kelola pertambangan rakyat dan pertambangan emas skala kecil yang berada di luar maupun di dalam kawasan hutan. Selanjutnya, Presiden menginstruksikan agar penggunaan merkuri pada tambang-tambang rakyat harus segera dihentikan.
 
 
Berdasarkan kajian dan data yang dimiliki oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mayoritas penambangan emas skala kecil atau rakyat, masih mempergunakan teknik amalgamasi. Teknik amalgamasi adalah dengan menggunakan merkuri (Hg). Padahal untuk penambangan skala besar atau industri, teknik amalgamasi telah ditinggalkan karena selain berbahaya juga tidak efisien, dan ongkos produksi besar.
 
 
“Tercatat 850 lokasi penambangan emas skala kecil dan terus menerus memakai teknik merkuri,” kata Dadan M. Nurjaman Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral BPPT melalui surat elektronik. 
 
 
Penggunaan merkuri pada berbagai industri termasuk pertambangan rakyat dan pertambangan emas skala kecil, diungkap Dadan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada kesehatan. Banyaknya kasus penggunaan bahan kimia berbahaya tersebut di sejumlah pertambangan rakyat membuat pemerintah membuat kebijakan segera mengambil tindakan.
 
 
 
 
"Penggunaan merkuri di pertambangan rakyat telah menimbulkan dampak pencemaran yang sangat berbahaya. Bukan saja berbahaya bagi kesehatan 250 ribu penambang, tapi juga berdampak pada kesehatan keluarga, terutama anak-anak, serta kesehatan masyarakat yang hidup di sekitar tambang," rincinya.
 
 
BPPT terus mendorong agar pengolahan tambang emas tidak memakai merkuri. Selama dua tahun, BPPT telah melakukan kajian, inovasi teknologi pengelolaan emas yang bebas merkuri dan akan diterapkan kepada pertambangan skala kecil.
 
 
Lebih lanjut Dadan mengatakan sebenarnya ada alat pengolahan dalam pertambangan emas yang tidak membahayakan. Misal untuk emas sekunder yang terdapat di sungai maka dapat mempergunakan alat seperti shaking table  atau meja goyang, karpet untuk menyaring butiran-butiran emas.
 
 
Adapun untuk emas primer, butuh ekstra keras. Untuk menghasilkan emas tanpa menggunakan merkuri tidak cukup digiling halus. 
 
“Kita berupa untuk mencari reagen untuk memisahkan emas secara aman. Pendekatan reagen yang berhaya harus ada antisipasi bagaimana pengolajannya supaya dampaknya tidak merusak lingkungan,” tuturnya.
 
Tahun ini akan diuji coba pengelolaan penambangan emas tanpa merkuri di Pacitan, dan Banyumas, yang  bekerjasama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM-RI).
 
Merkuri tergolong logam yang berbahaya dan beracun. Tingkat bahaya itu tidak hanya bagi si penambang namun juga lingkungan. Bagi penambang, dari proses penguapan atau pembakaran merkuri, biasanya menghasilkan uap dan uap itu apabila terhirup maka sangat berbahaya untuk jangka panjang. Dampaknya adalah merusak sistem syaraf dan kelumpuhan serta dapat menyebabkan kematian. Salah satu bahaya merkuri adalah penyakit Minamataatau Sindrom Minamata.
 
Dikutip dari Wikipedia,   Sindrom Minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom ini seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran.
 
Pada tingkatan akut, gejala ini biasanya memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan akhirnya mati.Pada tahun 1950, 3 ribu terdampak Sindrom Minamata. Dari jumlah itu, 1.780 orang meninggal.  
 
Adapun untuk lingkungan, limbah merkuri dibuang ke laut, sungai, atau terserap kemudian ikan menjadi terkontaminasi. Begitupula merkuri dibuang dan diserap oleh tanah.
 
“Tanpa kita sadari, distribusi pencemaran merkuri sudah  dianggap tanpa batas artinya melebar kemana-mana. Tidak hanya terbatas di daerah itu saja tetapi melebar jauh ke perairan bebas bahkan internasional. Pencemaran di Indonesia mengakibatkan pencemaran di dunia,” tutup Dadan. (Humas/HMP)
 
Ed. SP
FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id