Articles

{rokbox}images/stories/rdprestasi2.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/rdprestasi3.jpg{/rokbox}

"Itu bukan prestasi saya, Sesungguhnya, penghargaan ini adalah untuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Tidak mungkin saya mendapat penghargaan ini tanpa dukungan dari seluruh pihak di BPPT. Dari bawah saya didukung oleh para perekayasa yang unggul. Dari samping kiri-kanan didampingi biro-biro lainnya yang gigih. Dari atas pun diarahkan oleh pimpinan secara konsisten.

Saya kira, inilah ilustrasi yang sangat tepat untuk menggambarkan semangat BPPT First atau 'Utamakan BPPT'. Secara pribadi, saya tidak sedikit pun merasa lebih hebat dari rekan-rekan. Yang hebat itu rekan-rekan kerja di sekitar saya", ungkap Ridwan Djamaluddin, Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana BPPT, sesaat setelah menerima penghargaan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN), sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan kinerja luar biasa 2010.

Dikutip dari situs BKN.go.id, disebutkan bahwa Prestasi Kinerja Luar Biasa adalah prestasi kerja yang sangat menonjol yang secara nyata diakui dalam lingkungan kerjanya, sehingga PNS yang bersangkutan secara nyata menjadi teladan bagi pegawai lainnya.

Penghargaan tersebut berawal dari keterlibatannya dalam program BUOY Tsunami Indonesia, yang merupakan bagian dari pengembangan sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia. Disebutkan bahwa pria kelahiran Bangka, 47 tahun lalu ini berhasil memimpin tim pembangunan dan operasionalisasi Buoy Tsunami Indonesia.

Rendah hati dan penuh semangat, itulah Ridwan, dia selalu menganggap anugerah ini tidak pantas diberikan untuk dirinya sendiri, ‚Tim BUOY Tsunami Indonesia ini memang luar biasa! Sekurang-sekurangnya ada 32 perekayasa dari 9 unit kerja dari 3 kedeputian. Semua bekerja dengan dedikasi dan komitmen yang hebat. Yang juga hebat, para pimpinan unit kerja terkait yang mendukung penuh program ini, mereka pun sepantasnya mendapat penghargaan‚ ujarnya.

Masa-masa program Doktoralnya di Texas A&M University, Amerika Serikat ini semakin membuka wawasan Ridwan bahwasanya banyak hal dari negara maju yang bisa di aplikasikan di Indonesia. Hal itulah yang membuat dia meyakini bahwa Indonesia pun bisa melakukan perekayasaan pembuatan sampai pengoperasian alat deteksi tsunami, atau lebih dikenal dengan sebutan BUOY Tsunami Indonesia. "Sampai saat ini pun negara di dunia yang bisa membuat BUOY Tsunami, hanya berjumlah hitungan jari. Sudah sepantasnyalah kita orang Indonesia berbangga hati mempunyai alat deteksi tsunami, hasil rekayasa putra bangsa sendiri", tambahnya.

Jika dibandingkan, harga pasaran satu unit buoy dan Ocean Bottom Unit (OBU)-nya di dunia mencapai 500 ribu dollar AS, belum termasuk biaya peluncuran ke tengah laut dengan kapal riset dan biaya perawatan, namun karena buatan dalam negeri harganya bisa dikurangi cukup banyak. Rangkaian buoy tsunami tersebut, juga sangat penting untuk melindungi puluhan juta masyarakat Indonesia di pesisir dan ratusan masyarakat pesisir di samudera Hindia.

Meski banyak kendala dalam pembuatannya, sebagai Kepala Program Pembangunan dan Operasional BUOY Tsunami, Ia selalu berusaha membuat seluruh anggota tim bekerja secara fokus untuk mencapai tujuan bersama yang sudah disepakati. Sistem Buoy Tsunami Indonesia ini pun berhasil di aplikasikan hanya dalam tempo 1 tahun dan berhasil meraih penghargaan 101 Inovasi Paling Prospektif 2009.

BUOY Tsunami Indonesia

Sistem Buoy Tsunami terdiri dari dua unit penting yaitu OBU yang dipasang di dasar laut dan Tsunami Surface Buoy yang dipasang di permukaan laut. OBU secara aktif mengirim data melalui underwater acoustic modem ke Tsunami Buoy yang terpasang di permukaan laut yang berperan sebagai penerima data dari OBU kemudian Tsunami Buoy mentransmisikan data tersebut via satelit ke pusat pemantau tsunami Read Down Station (RDS) yang berada di Gedung I BPPT Lantai 20.

Buoy yang dipasang di dekat sumber gempa dan tsunami bekerja berdasarkan gelombang tsunami atau anomali elevasi muka air laut yang dideteksi oleh sensor yang ditempatkan di OBU. Alat inilah yang berfungsi merekam kedatangan gelombang tsunami. Dari OBU, data dikirim ke Buoy, kemudian dari buoy dikirim ke satelit untuk diteruskan ke stasiun penerima di Jakarta yaitu di BPPT dan BMKG.

Dalam kondisi normal buoy mengirim data tiap satu jam, namun jika terjadi tsunami, buoy akan mengirim data tiap satu menit. Waktu pengiriman data dari OBU sampai ke stasiun penerima adalah 1-2 menit. Dengan karakteristik kegempaan di wilayah laut Indonesia, info dari buoy diharapkan dapat diterima dalam waktu 5-15 menit setelah gempa, namun tergantung lokasi buoy terhadap pusat gempa. Dengan sistem ini masyarakat punya cukup waktu untuk evakuasi. BPPT juga terus berusaha untuk mewujudkan pemasangan 23 buoy sebagai peralatan peringatan dini tsunami tersebut di pada setiap 250 km panjang pantai di Samudera Hindia, kawasan Indonesia.

Lulusan Magister dari ITC (International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation) Belanda, jurusan Geomorfologi ini, yang juga sempat terpilih sebagai salah satu dari sembilan orang wakil Indonesia untuk berdiskusi langsung dengan mantan Presiden Amerika Serikat, George W Bush, juga menyampaikan beberapa rekomendasi untuk Indonesia dalam menghadapi bencana alam. Ia mengingatkan supaya fungsi pemantauan harus terus menerus dilakukan, karena waktu dan tempat bencana tidak akan pernah diketahui secara pasti. Kemudian kesiapsiagaan masyarakat akan mitigasi bencana harus lebih ditingkatkan. Kedua hal inipun harus terkait erat dengan dukungan Iptek dalam pelaksanaannya.

Ridwan, yang menokohkan BJ. Habibie sebagai panutannya dalam hal pekerjaan, tidak pernah berpikir untuk bekerja dengan pamrih, dia menitipkan pesan kepada semua untuk selalu bekerja dengan sebaik-baiknya, karena disadari ataupun tidak, orang akan selalu menilai kinerja kita. (SP/R/humas)

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed