Articles

{rokbox}images/stories/rl1.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/rl4.jpg{/rokbox}

Rumput laut merupakan salah satu komoditas strategis dalam bidang kelautan di samping udang dan tuna. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia memiliki luas area untuk kegiatan budidaya rumput laut mencapai 1.110.900 ha, tetapi pengembangan budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan seluas 222.180 ha atau 20% dari luas areal potensial. Jenis rumput laut yang dikembangkan di Indonesia antara lain seperti Kappaphycus alvarezii (cottonii), Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp.

‚Meskipun peran Indonesia dalam kontribusi bahan baku rumput laut sudah diakui internasional, namun masih perlu peningkatan industri pengolahan rumput laut dalam negeri. Tahun 2009, dengan jumlah produksi rumput laut 14.300 ton kering, yang telah dimanfaatkan menjadi end products baru sebanyak 20 items. Tentu saja hal ini masih sangat sedikit dibandingkan dengan produksi bahan baku yang dapat kita hasilkan. Pemerintah selama ini berusaha mengembangkan industri rumput laut nasional yang sejalan dengan program pembangunan sektor dan pengembangan komiditi lainnya, terutama dalam hal pro-job, pro-poor dan pro-growth‚, kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, Jana T Anggadiredja yang juga merupakan Ketua Indonesian Seawed Society (Masyarakat Rumput Laut Indonesia) saat jumpa pers di BPPT, Kamis (18/3).

‚Tim Rumput Laut BPPT, bekerjasama dengan Indonesian Seaweed Society dan Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) saat ini sedang melakukan kajian dan perumusan strategi pengembangan industri rumput laut nasional secara berkelanjutan. sebagai bahan masukkan bagi kementerian terkait, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Riset dan Teknologi serta para pelaku usaha. Selain itu membuat ‚cetak biru‚ pengembangan industri rumput laut nasional yang berkelanjutan dengan strategi pencapaiannya dalam 5 sampai 10 tahun kedepan, juga merupakan hal yang mendesak untuk dilakukan‚, lanjutnya.

Mengenai sasaran capaian tahun 2014, Jana menjelaskan akan dilakukan beberapa peningkatan jumlah produksi, ekspor maupun end products yang dihasilkan. ‚Pada 2014 mendatang, diharapkan telah tersedianya peta kesesuaian lahan budidaya rumput laut, peta ketersediaan sumber alam untuk jenis-jenis sargasum, gelidium, pterocladia dan ptilophora. Kami juga mentargetkan peningkatan produksi cottonii mencapai 300.000 ton kering, sacol dan spinosum 30.000 ton kering dan gracilaria 60.000 ton kering. Kemudian pada tahun 2014 nanti, kami juga mengharapkan akan terjadi penyerapan hingga 25% produksi carageenophyte dan 60% produksi agarophyte oleh industri dalam negeri. Selain itu, jumlah nominal ekspor carrageenophyte diharapkan menjadi 250.000 ton kering dan peningkatan ekspor agarophyte menjadi 20.000 ton kering. Capaian lainnya yang kami inginkan adalah terbangunnya pusat riset dan pengembangan rumput laut tropis dengan peralatan dan sumberdaya manusianya di Indonesia‚.

Menjadi tuan rumah

Pada kesempatan yang sama, Ketua ARLI, Safari Azis Husain, mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan International Seaweed Symposium (ISS) XXI pada bulan April 2013 nanti di Bali. ‚ISS XXI memiliki arti penting bagi Indonesia, karena menunjukan Indonesia diakui secara internasional bukan saja sebagai produsen bahan baku tetapi juga sebagai produsen hasil olahan, Selain tentunya sudah ada pengakuan pula dari segi ilmiah‚.

ISS diselengarakan setiap 3 tahun sekali oleh organisasi yang dinamakan International Seaweed Association (ISA) yang beranggotakan para peneliti, pengusaha, pengambil kebijakan, para politikus dan individu-individu yang concern terhadap pengembangan riset, penerapan hasil riset dalam industri, produksi rumput laut (seaweed) dan hasil olahannya. Bulan Februari 2010 lalu, baru saja dilangsungkan ISS ke XX di Ensenada Mexico. Sebelumnya, ISS ke XIX dilaksanakan di Kobe, Jepang pada bulan Maret 2007. Peserta ISS terdiri dari berbagai negara, baik negara produsen maupun negara konsumen.

Pada umumnya, symposium menyajikan hasil-hasil riset dan kajian tentang seaweed. Selain itu dilakukan pula Exhibition produk-produk seaweed dan Bussiness Forum.

Indonesian Seaweed Society (Masyarakat Rumput Laut Indonesia), ARLI dan BPPT yang berkonsorsium dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian beserta asosiasi lainnya, yaitu Ikatan Fikologi Indonesia (IFI) dan Asosiasi Pengelola Petani Rumput Laut Indonesia (Aspperli), secara bersama-sama akan menjadi bagian dalam penyelenggaraan ISS XXI.

‚Dengan kehadiran para narasumber dari beberapa negara, diharapkan dapat menciptakan alih teknologi pengolahan rumput laut. Kami berharap ke depan, Indonesia tidak hanya menjadi eksportir bahan mentah rumput laut, tetapi menjadi negara terbesar ekspor hasil olahan rumput laut. Kegiatan ISS ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan dalam rangka meningkatkan investasi bisnis rumput laut di Indonesia, meningkatkan penguasaan teknologi budidaya dan pengolahan rumput laut untuk memproduksi dengan nilai tambah yang lebih tinggi, meningkatkan kerjasama dan networking antar pelaku bisnis, meningkatkan ekspor produk rumput laut Indonesia serta memperlihatkan eksistensi Indonesia pada percaturan rumput laut dunia‚, tegas Safari.

Terkait dengan penyelenggaraan ISS tersebut, Jana menghimbau kepada seluruh peneliti yang menggeluti rumput laut untuk terus melakukan riset dan pengembangannya. "Hasil riset yang bagus nantinya akan kami tampilkan pada ajang tersebut, dengan harapan akan ada investor yang mau bergabung dan ikut mengembangkan. Agar rumput laut Indonesia menjadi lebih terkemuka. (YRA/humas)

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed