Articles

{rokbox}images/stories/kerapu.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/kerapu2.jpg{/rokbox}

Dengan garis pantai terpanjang di dunia yaitu 81.000 km dan luas laut yang mencapai 5,8 juta km2, menjadikan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam sumberdaya kelautan, terutama sektor perikanan. Salah satu komoditi laut yang potensial untuk dikembangkan di indonesia adalah Ikan Kerapu (coral reef fishes).

Ikan Kerapu merupakan ikan laut yang hidup di terumbu karang dan memiliki harga jual yang relatif tinggi yaitu mencapai US$ 20 (Rp 200.000,-) untuk setiap kilogramnya. Tingginya harga jual tersebut menyebabkan eksploitasi sumberdaya kerapu yang tidak terkendali serta membahayakan ekosistem perairan khususnya terumbu karang. Untuk menghindarkan terjadinya kepunahan terhadap populasi ikan kerapu di alam, maka upaya mengalihkan usaha penangkapan ke usaha budidaya kerapu di air payau merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan.

Bertempat di Marketing Centre Badan Otorita Batam, Pusat Teknologi Produksi Pertanian (PTPP) BPPT melakukan kegiatan diseminasi hasil-hasil Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) Kelautan Kerapu pada 30 November 2009.

Hadir dalam acara Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Wahono Sumaryono, Direktur PTPP Nenie Yustiningsih, Deputi Menteri Bidang Dinamika Masyarakat Kementerian Riset dan Teknologi Carunia Mulya, Kepala Balai Agribisnis Badan Otorita Batam Tato Wahyu dan para Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Program RUSNAS Kelautan ‚ Kerapu serta perekayasa dan peneliti dari BPPT. Tujuan RUSNAS Kelautan adalah meningkatkan produksi kerapu hasil budidaya melalui pengembangan teknologi pemuliaan untuk menghasilkan induk kerapu unggul, teknologi pakan, produksi vaksin dan obat serta teknologi budidaya dan pascapanen.

Pada kesempatan yang sama dilakukan pula penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Induk Unggul Kerapu Tikus Generasi Kedua (F2) Hasil Selective Breeding dari program RUSNAS Kelautan Kerapu antara BPPT dan Depertemen Kelautan dan Perikanan (DKP).

Selanjutnya, dilakukan penyerahan simbolis calon induk unggul (F2) ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) sebanyak 120 ekor dari Direktur PTPP BPPT Nenie Yustiningsih selaku Pembina Lembaga Pengelola Program RUSNAS Kerapu kepada Direktur Perbenihan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Ketut Sugama dan Kepala Pusat Riset Perikanan Budidaya Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Endhay Kusnendar.

Calon induk unggul generasi kedua (F2) hasil pengembangan teknologi selective breeding RUSNAS Kerapu tersebut nantinya akan dialihkelolakan kepada 4 balai di lingkungan Ditjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP)-DKP yang mewakili wilayah Barat sampai dengan Timur Indonesia. Adapun wilayah yang akan mengelola Kerapu F2 ini antara lain Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee Aceh, Balai Budidaya Air Payau Situbondo, Balai Budidaya Laut Lombok dan Balai Besar Riser Budidaya Laut Gondol Bali.

Selain untuk menjaga kesinambungan hasil-hasil RUSNAS Kerapu, diseminasi calon induk unggul F2 ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) tersebut juga dimaksudkan untuk melestarikan sumberdaya genetik ikan kerapu, yang nantinya diharapkan dapat menghasilkan calon induk unggul ikan kerapu F3 dan turunannya. Lebih jauh lagi, diseminasi ini dimaksudkan untuk mencegah kepunahan sumberdaya genetik ikan kerapu tikus tersebut apabila terjadi serangan penyakit secara sistemik di satu wilayah tertentu. (TPP/TAB/YRA/humas)





Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed