LPNK

Category: Berita Teknlogi Hankam,Transportasi & Manufakturing

Meskipun Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber bahan baku melimpah terutama karet alam, yang merupakan bahan baku pembuatan pipa apung, ironisnya sampai saat ini Indonesia masih menjadi importir pipa apung. Melihat kondisi demikian, BPPT telah melakukan riset pipa apung untuk segera digunakan di industri pengerukan dan perminyakan, sebagai media alir material dari kapal tanker atau keruk ke daratan maupun sebaliknya untuk ditawarkan kepada dunia usaha.

Riset pipa apung telah dilakukan BPPT sejak tahun 2003 lalu. Dimulai dengan survei ke instansi-instansi baik user maupun produsen. Dari sisi produsen kami melihat apakah sudah ada industri di Indonesia yang memproduksi karet. Sedangkan dari sisi user, untuk mengetahui seberapa banyak pipa apung yang dibutuhkan, jelas Perekayasa Utama dari Pusat Teknologi Industri Manufaktur BPPT, Samuel Pati Senda.

Menurutnya, berdasarkan dari hasil studi dinyatakan belum ada industri yang mampu memproduksi pipa apung dalam negeri. Berdasarkan hal tersebut, BPPT berinisiatif untuk membuat perencanaan dalam melakukan penelitian pembuatan pipa apung dengan bahan baku dalam negeri. Dalam proses pengembangannya, BPPT telah membuat pipa apung berdasarkan komponen yang sudah ada sebelumnya lalu meredesain (reverse engineering). Dari hasil kajiannya, BPPT mengoptimalkan bahan baku dalam negeri dengan menggunakan karet alam. Selama ini masih menggunakan karet sintetik yang masih harus diimpor, ungkapnya.

Perbedaan utama hasil kaji BPPT terletak pada modifikasi dari desain strukturnya. Pipa apung yang diproduksi dibuat berlapis-lapis dan berdiameter dalam sekitar 6-26 inci dengan panjang 6-12 meter per unit. Selain karet, produk pipa apung membutuhkan material pendukung diantaranya kawat baja, kawat sling (kawat berukuran kecil) dan flanges ansi serta media pengapung (sponge) untuk menjaga tetap terapungnya pipa saat dialiri material seperti pasir atau minyak yang tergantung pada berat jenisnya (BJ). Pipa apung buatan Indonesia memiliki kandungan lokal sekitar 90%-95%. Hanya karet sintetisnya yang masih diimpor, papar Samuel.

Di tahun 2008, BPPT telah menghasilkan pipa apung untuk mengalirkan pasir yang digunakan oleh PT. Tambang Timah yang sudah diujicobakan di Malaysia untuk proyek pengerukan selat sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal. Selanjutnya tahun 2010 dengan target membuat pipa apung khusus minyak, telah dilakukan ujicoba  aplikasi pipa apung yang dikirim ke Balikpapan. Disana dilakukan uji coba bertingkat antara lain uji darat dan uji laut, tambahnya.

Saat uji coba di darat, Samuel menyampaikan telah dialirkan minyak di darat selama kurang lebih sebulan untuk mengecek ada tidaknya kebocoran. Setelah terbukti tidak terjadinya kebocoran lalu diujicobakan di laut yang berlokasi di Lawe-Lawe dengan mengalirkan minyak sebanyak 100.000 galon kurang lebih selama 3 bulan.

Samuel menegaskan desain pipa apung untuk material pasir dan minyak tentunya berbeda. Untuk material pasir dibutuhkan karet yang harus tahan gesekan, sedangkan untuk minyak dibutuhkan karet yang didalamnya harus tahan minyak sehingga yang digunakan adalah karet sintetik yang berasal dari minyak bumi.

Dalam proses pembuatannya, Samuel mengaku masih ada problem lain pada media pengapung yang dipasang dimana harus lebih kecil dari material yang dialirkan atau dari tekanan air laut agar dapat mengapung. Media pengapung dibuat dari karet sintetik dengan berat jenis sebaiknya lebih kecil dari 0,2gr/cm3, untuk mendapatkan itu sangat sulit sedangkan untuk impor sangat mahal sekali. Fokus kedepannya, akan diperbaiki kekurangan sebelumnya pada pipa apung yaitu mengurangi kelenturan yang teralu tinggi. Saat ini pipa apung, sudah memasuki proses sertifikasi dengan merumuskan SNI dari BSN sejak tahun 2010 dengan mengadopsi dari standar internasional, karena syarat utama industri perminyakan untuk menggunakan pipa apung harus bersertifikasi internasional. Selain itu pipa apung buatan Indonesia berhasil memenuhi persyaratan Oil Company International Marine Forum (OCIMF)-91, terangnya.

Saat ini uji coba hasil riset BPPT mulai diterapkan di sejumlah perusahaan minyak dan pertambangan nasional diantaranya PT. Timah dan PT. Pertamina. Jika Indonesia sukses memproduksi pipa apung, diharapkan dapat membuka peluang bagi industri nasional untuk menjual produk lokal dengan nilai tambah yang tinggi, tegas Samuel. (KYRAS/humas)

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed