Lain-Lain

Category: Berita Layanan Info Publik

Dewan Riset Nasional (DRN) diharapkan dapat berperan serta dalam pengembangan dan pembangunan iptek, dengan memperhatikan dinamika perkembangan iptek maka diperlukan penyelarasan peran dan reposisi kelembagaan iptek dalam upaya mendukung percepatan peningkatan daya saing bangsa. Hal tersebut seperti yang telah diamanatkan dalam RPJPN 2005-2025 dan RPJMN 2010-2014.

 

Dalam masa yang akan datang DRN diharapkan dapat lebih berperan dengan kewenangannya yang lebih luas sesuai dengan tema Sidang Paripurna II yakni Revitalisasi Dewan Riset Nasional dalam Rangka Penguatan Sistem Inovasi Nasional yang dilaksanakan di gedung Graha Widya Bhakti Puspiptek Serpong (15/12). Hal ini dikarenakan saat ini peran DRN dinilai masih belum optimal dan kewenangannya masih sangat terbatas.

Sidang kali ini merupakan tahun terakhir keanggotaan atau kepengurusan DRN priode 2009-2011. Dalam sidang ini juga akan memberikan masukan dan rekomendasi untuk DRN priode 2012-2014 agar terjadi kesinambungan dalam melaksanakan tugas. Hadir pada sidang peripurna tersebut, Presiden RI ke 3 BJ Habibie, Sesmenristek Mulyanto, Ketua DRN Andrianto Handojo, kepala LPNK Ristek,anggota DRN serta para peneliti.

Mulyanto yang pada kesempatan tersebut mewakili Menristek mengatakan dalam sambutannya bahwa abad 21 adalah abad keunggulan, dan kunci sukses untuk mencapai keunggulan adalah inovasi. "Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan,kemiskinan dan untuk membantu pertumbuhan menjadi bangsa yang terhormat, maju dan kompetitif," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden RI ke 3 BJ Habibie mengatakan bahwa meskipun kekayaan bangsa Indonesia yang berupa sumber daya alam sangat melimpah, namun bangsa kita miskin penghasilan. "Indonesia memiliki wilayah dan jumlah penduduk yang besar, namun kerdil dalam produktivitasnya dan daya saingnya, disamping juga meskipun kita merdeka secara politik namun terjajah secara ekonomi. Disisi lain bangsa ini lebih mengandalkan SDA daripada SDM dan lebih berorientasi jangka pendek dari pada jangka panjang, serta lebih mengutamakan citra daripada karya nyata dan kita juga lebih menyukai jalan pintas seperti korupsi,kolusi, penyelewengan dll daripada kejujuran dan kebajikan", ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, ada kesenjangan antara kualitas SDM, kesenjangan pendidikan, kesenjangan produktivitas dan kesenjangan iptek. "Akibat kesenjangan tersebut maka saat ini terjadi kurangnya lapangan kerja, pendidikan dan penelitian terbatas yang disebabkan kualitas SDM serta produktivitas dan daya saing rendah. Diharapkan kesenjangan tersebut dapat dikoreksi karena menjadi penghambat utama produktivitas dan daya saing Indonesia", tegasnya. (SYRA/humas)

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed