Articles
Category: Press Release 2011
Bumi ini selalu bergerak, atau yang dikenal dengan istilah dynamic earth. Jepang, merupakan negara kepulauan yang dikelilingi empat lempeng yang selalu bergerak, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Philipina, Lempeng Pacific dan Lempeng Amerika Utara. Semakin besar desakan antar lempeng yang akhirnya tidak mampu lagi ditoleransi itulah yang menimbulkan gempa dengan skala Mw (Moment Magnitude) 8.9, seperti yang baru saja terjadi di Sanriku, Jepang Jumat (11/3) lalu. Bisa dikatakan bahwa gempa yang terjadi di Jepang disebabkan oleh subduksi lempeng atau tabrakan lempeng.
Terkait dengan topik tersebut, Biro Umum dan Humas BPPT dan Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT berinisiatif mengadakan Jumpa Pers untuk mengupas lebih detil tentang Gempa Jepang, penyebabnya, serta dampaknya terhadap lingkungan kebumian, khususnya di Indonesia.
Patahan yang berlangsung selama 100 detik, dengan luas wilayah sekitar 120 km x 240 km tersebut membangkitkan gelombang seismic sebesar Mw 8.9 atau setara dengan sejuta kali bom atom Hiroshima. Sebelumnya, di daerah yang sama juga pernah terjadi beberapa gempa besar, seperti yang terjadi pada tahun 1896 dengan kekuatan Mw 8.1 dan tahun 1933 sebesar Mw 8.4. Di sisi lain, berdasarkan data, gempa di Jepang tersebut efeknya belum mampu memicu terjadinya gempa serupa di Zona lain, khususnya di Indonesia.
Akibat dari gempa yang terjadi adalah berubahnya permukaan bumi (dasar laut dan daratan) atau yang dikenal dengan co-seismic deformation, yakni uplift (kenaikan) sebesar 3. 05m dan subsidence (penurunan) sebesar 0.8m.
Perubahan bentuk permukaan itulah yang membangkitkan tsunami di Jepang. Tsunami ini jangan dilihat berdasarkan tinggi gelombang, tapi energi dorong yang dihasilkan dari gelombang tersebutlah yang harus diwaspadai. Efek tsunami Jepang yang berhamburan ke segala arah yang terdeteksi oleh Ina TEWS akan dibahas juga dalam jumpa pers tersebut.
Bencana tidak dapat kita tolak dan hindari. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi bencana bila terjadi. Contohnya adalah dengan menanamkan sikap tanggap bencana sejak dini, penguatan struktur bangunan juga perlu diperhatikan.

