Articles

Category: Berita Teknologi Sumberdaya Alam & Kebencanaan

{rokbox}images/stories/dsc_0074.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/dsc_0096.jpg{/rokbox}

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, beras merupakan komoditas utama dari konsumsi. Seiring bertambahnya jumlah populasi penduduk, tingkat konsumsi masyarakat juga semakin meningkat. Oleh karena itu, untuk mendukung tercukupinya ketersediaan pangan diperlukan adanya ketahanan pangan yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangan nasional.

Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (PTISDA) BPPT sesuai dengan kompetensinya telah mengembangkan teknologi radar cuaca Hydrometeorological ARray for Isv-Monsoon AUtomonitoring (HARIMAU) yang mempunyai dampak besar terhadap kepentingan nasional seperti ketahanan pangan. Menurut Direktur PTISDA BPPT Muhamad Sadly, bahwa sesuai dengan fungsi unit TISDA yang bertugas melakukan pengkajian dan penerapan dan melakukan inovasi, BPPT telah mengembangkan teknologi tersebut untuk peramalan organisme pengganggu tumbuhan.

Pada kesempatan yang sama Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Jana T Anggadiredja mengatakan, ‚Kegiatan ini merupakan salah satu upaya BPPT dan Departemen Pertanian RI dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Semoga dengan diadakannya workshop ini, serta adanya penerapan teknologi Radar Harimau tersebut, maka manfaat bagi kepentingan nasional khususnya dalam hal ketahanan pangan akan dapat terwujud‚.

Workshop yang berlangsung di BPPT pada 5 November 2009 bertema ‚Aplikasi Teknologi Radar Cuaca Untuk Peramalan Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT)‚, diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam (PTISDA) Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT bekerjasama dengan Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Departemen Pertanian RI. Acara dihadiri oleh para perekayasa PTISDA BPPT, NEOnet BPPT, Departemen Pertanian wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTT, perwakilan dari BMKG dan Bappeda DKI Jakarta.

Yonny Kusmaryono, ahli pertanian IPB yang bertindak sebagai keynote speaker, dalam paparannya menjelaskan bahwa iklim, selain menjadi faktor didalam menentukan sistem pola tanam dan jenis komoditas, juga berpengaruh terhadap penyakit dan serangan hama seperti organisme pengganggu tumbuhan. ‚Curah hujan, suhu, kelembaban dan radiasi matahari merupakan bagian dari iklim yang mempunyai pengaruh langsung terhadap berkembangnya OPT ini‚, katanya.

‚Masalah ketahahan pangan adalah tantangan kita semua di masa depan. Dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk Indonesia yaitu sekitar 1,25% per tahun maka teknologi harus mampu menjamin ketahanan pangan nasional,‚ kata Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Departemen Pertanian Ati Wasiati.

Ati menambahkan, terdapat empat strategi dalam pembangunan tanaman pangan yaitu: (1) peningkatan produktivitas, (2) perluasan area tanam, (3) pengamanan produksi, dan (4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan akan diperoleh dengan dilakukannya peningkatan produksi beras nasional. (YRAS/humas)

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed