Articles

Category: Berita Teknlogi Hankam,Transportasi & Manufakturing

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjalin kembali kerjasama dengan PT. PLN Persero yang dituangkan dalam penandatangan MoU mengenai pengkajian dan penerapan teknologi pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan teknologi dalam bidang ketenagalistrikan, pagi tadi di BPPT (25/11). MoU ini merupakan kelanjutan dari kerjasama yang telah dibina oleh kedua lembaga tersebut sejak 2009. Dan melalui kerjasama ini, BPPT ingin mendorong munculnya daya saing industri manufaktur di bidang ketenagalistrikan demi mencapai kemandirian bangsa, ungkap Kepala BPPT, Marzan A Iskandar sesaat setelah penandatangan MoU.

Selanjutnya dikatakan, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA) diidentifikasi menjadi solusi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi atau tingkat ketersediaan listrik bagi penduduk di sejumlah daerah dan pulau-pulau terpencil yang saat ini belum tersentuh penerangan listrik, seperti di Flores dan Irian. BPPT mengembangkan teknologi dengan membuat prototipe dan pengujian serta siap pakai. Sekarang PLN siap memanfaatkannya sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat," ucapnya. 

Dijelaskan bahwa melalui hasil uji coba yang telah dilakukan, ditaksir PLTS dan PLTA mampu menghasilkan listrik dengan harga Rp 3.000 perKwh. Tentu nilai yang sangat kompetitif di daerah yang sebelumnya harus mengeluarkan biaya akses listrik Rp 5.000 perKwh. Di sisi lain, BPPT juga berusaha keras agar PLTS hadir di Indonesia dengan adanya industri solar cell atau sel surya dalam negeri. Diperkirakan tahun 2025 Indonesia butuh sekitar 2,1 gigawatt energi listrik dari PLTS atau setara 20 megawatt per tahunnya. "Tapi sampai saat ini industri solar cell belum ada di Indonesia dan kita hanya mengimpornya. Indonesia harus menjadi tuan rumah energi berbasis matahari," ujarnya. 

Senada dengan Kepala BPPT, Nur Pamudji, Direktur Utama PT. PLN Persero mengatakan bahwa MoU ini bukan yang pertama kalinya dilakukan antara BPPT dan PT PLN (Persero). Sebelumnya kerja sama di bidang energi batubara sudah dilakukan dengan laboratorium BPPT di Puspitek Serpong, Tangerang Selatan untuk menguji pembakaran batubara. Menurutnya PLN sedang menghadapi persoalan yang areanya sangat lebar sekali. Ada sebagian wilayah Indonesia yang sudah maju seperti Jawa dan Bali, tapi ada sebagian wilayah lain yang belum memiliki listrik seperti Nusa Tenggara, Maluku, Bojonegoro dan Jember.

Saat ini tengah dikembangkan suatu kajian bersama dengan beberapa Perguruan Tinggi seperti ITB dan ITS, khususnya kajian teknologi reverse engineering yang bertujuan untuk meningkatkan aviability dan reliability unit pembangkit. Manfaatnya Bagi PLN yaitu untuk mendapatkan material yang berkualitas dengan harga yang kompetitif, sekaligus peningkatan efisiensi, kata Direktur Utama PLN.

Selain MoU, dilakukan pula Perjanjian Kejasama (PKS) antara BPPT dengan PLN Pusat Pemeliharaan Ketenagalistrikan tentang kerekayasaan teknologi peralatan kelistrikan pembangkit listrik skala kecil. Ditandatangani oleh Direktur Pusat teknologi Industri Manufaktur BPPT, Erzi Agson Gani  dan Budi Susanto selaku  Kepala PT PLN (Persero) pusat pemeliharaan Ketenagalistrikan.

Penandatangan PKS kedua dilakukan antara B2TKS BPPT dengan PT PLN (Persero) Puslitbang Ketenagalistrikan yang ditandatangani oleh Kepala B2TKS Tri Wibowo dan Kepala PT PLN Puslitbang Ketenagalistrikan Fatri Falanu. Ruang lingkup PKS mengenai saling bertukar informasi tentang teknologi khususnya hal-hal yang terkait dengan ketenagalistrikan, bersedia menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan yang berkaitan dengan pengembangan ketenagalistrikan serta memberikan pendidikan dan pelatihan yang terkait dalam bidang ketenagalistrikan. (KYRAS/humas)

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed