Articles
Category: Berita Teknlogi Hankam,Transportasi & Manufakturing
Pada tahun 2010 produksi padi nasional ditargetkan sekitar 67 juta ton, dan diharapkan tumbuh 3,22 persen pertahun, sehingga produksi padi nasional mencapai 70,6 juta ton pada tahun 2011 serta diharapkan meningkat menjadi 76 juta ton pada tahun 2014. Berdasarkan data BPS, saat ini alih fungsi lahan di tanah air mencapai luasan 110 ribu ha. Pengurangan itu terlihat dari perbandingan luas lahan baku tahun 2002 yang masih mencapai 7.748.840 ha dan tahun 2011 yang tinggal 6.758.840 ha. Apabila tidak ada penambahan lahan pertanian tanaman pangan, khususnya padi, maka jumlah panen tidak akan meningkat dan mengancam ketahanan pangan nasional.
Terkait ketahanan pangan, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pada Konferensi Ketahanan Pangan, 24 Mei 2010 lalu, bahwa kita perlu terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan. Hal itu diperkuat dengan Inpres No. 5 Tahun 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional Dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim Dalam Rangka Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan.
Presiden menegaskan bahwa setiap pemimpin, baik yang ada di pusat maupun di daerah harus mengetahui situasi pangan terkini. Pemerintah pusat harus menguasai situasi pangan nasional, dan pemerintah daerah harus menguasai situasi pangan di daerahnya. Kita semua harus juga mengetahui pertumbuhan demand, berapa banyak kita memerlukan beras, padi, jagung, kedelai, daging sapi dan komoditas pangan yang lain. Dengan mengetahui tren kenaikan demand, maka bisa disusun rencana yang baik, termasuk strategi dan program aksi yang tepat untuk meningkatkan produksi pangan nasional.
Inovasi Pupuk SRF
Meningkatkan produksi pangan jelas membutuhkan media tanam yang sesuai. Tanaman padi, dalam hal ini membutuhkan pupuk unggulan yang mempunyai bermacam kelebihan. BPPT bekerjasama dengan PT. Pupuk Kaltim yang dimulai tahun 2005 telah menghasilkan inovasi pupuk lepas lambat yang disebut SRF (Slow Release Fertilizer). Dengan menggunakan pupuk SRF, pemberian pupuk hanya satu kali selama masa tanam hingga panen sehingga dapat mengurangi ongkos kerja, dan efisiensi pupuk sekitar 30%.
BPPT turut berperan dalam peningkatan ketahanan pangan nasional. Pupuk SRF ini kita tujukan untuk meningkatkan pendapatan petani. Karena hanya sekali digunakan selama masa tanam, serta ramah lingkungan, selain itu penggunaan SRF dapat meningkatkan hasil panen tanpa perlu menambah luas lahan, ungkap Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar pada Sosialisasi dan Panen Hasil Demplot Pupuk SRF pada Tanaman Padi di Badung, Bali (19/10).
Prototipe produk SRF yang dihasilkan melalui pilot plant SRF di BPPT telah berhasil dilakukan analisis dan uji mutu serta uji lapang antara lain uji inkubasi, uji rumah kaca, eksplot dan demplot pada sentra-sentra produksi padi di 15 Kabupaten yang tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi dan Bali. Pelaksanaan uji bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanah (Kementerian Pertanian), Balai Besar Padi, Institut Pertanian Bogor dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) setempat.
Hasil demplot seluruhnya baik, rata-rata hasil yang dicapai sama dengan atau lebih besar dari penggunaan pupuk secara konvensional. Sebagai contoh, penggunaan pupuk di daerah Badung secara konvensional 200 kg Urea dan 200 kg Pupuk NPK PHONSKA per hektar, sedangkan menggunakan pupuk SRF hanya membutuhkan 325-350 kg per hektar, jelas Marzan.
Selain itu, lanjut Marzan, data terakhir dari Kabupaten Badung menunjukkan bahwa perhitungan hasil panen yang menggunakan pupuk SRF adalah 9,7 ton/hektar, sedangkan penggunaan pupuk konvensional adalah 8,8 ton/hektar. Apabila produktivitas padi nasional dapat ditingkatkan dari 5 ton/hektar menjadi 9 ton/hektar maka swasembada dan swasembada berkelanjutan dapat dipertahankan bahkan akan terjadi surplus lebih dari 4 juta ton setiap tahun.
Selama ini bekerjasama dengan BPPT, kami telah mengembangkan pertanian ramah lingkungan yang dilaksanakan dalam bentuk demplot dengan dua perlakuan. Pertama yaitu pencampuran SRF NPK Plus dan urea serta yang kedua yaitu pencampuran antara SRF NPK Mikronutrisi dengan urea. Tujuannya adalah untuk efisiensi penggunaan pupuk antara 30-50% dengan penggunaan hanya sekali dalam satu musim tanam, ungkap Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, I GAK Sudaratmaja pada kesempatan yang sama.
Dari produksi padi yang dihasilkan, lanjutnya, menunjukkan bahwa dengan SRF NPK Plus produksi padi lebih tinggi dibanding cara konvensional, hampir mencapai 10,34%. Aplikasi dilakukan sekali pada saat tanam. Meskipun pada periode 2 minggu pertama sampai hari ke 30 dari hasil pengamatan badan warna daun terlihat agak kuning, tetapi setelah 30 hari warnanya langsung hijau dan beberapa bulan kemudian.
Sementara itu, menurut Ahmad Jufri, perekayasa dari Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT selain pada padi, penggunaan SRF juga saat ini sedang diujicobakan pada tanaman cabai di polybag. Dan ternyata perkembangannya cukup baik. Target ke depan adalah tanaman perkebunan seperti jagung dan kedelai, jelasnya.
Dari pihak PT Pupuk Kujang, selaku mitra dalam pengembangan SRF yang dilengkapi dengan hayati organik menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengembangkan pupuk tersebut untuk meningkatkan produktivitas petani. Ini juga merupakan salah satu bentuk CSR kami kepada masyarakat, tegasnya.
Diharapkan dengan penggunaan pupuk yang lengkap ini secara serentak dapat memperbaiki kondisi tanah (pembenah tanah) dan dapat mengurangi dampak penggunaan pupuk Anorganik (kimia) serta dapat mengurangi dampak lingkungan. Semoga dengan menggunakan SRF tersebut produksi padi dapat meningkat sehingga masyarakat senang dan petani pun mendapatkan keuntungan tambahan. Dan tentunya harapannya ke depan pertanian kita akan terus meningkat, ujar Kepala BPPT. (SYRA/humas)
Artikel Terbaru
- PERLU KAJIAN KOMPREHENSIF TENTUKAN PENYEBAB RUNTUHNYA JEMBATAN KUTAI KARTANEGARA - 01/12/2011 06:07
- BPPT AUDIT JEMBATAN KUTAI KARTANEGARA - 29/11/2011 05:50
- BPPT-PLN: DORONG DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR BIDANG KETENAGALISTRIKAN - 28/11/2011 02:59
- SINERGI UNTUK KEMANDIRIAN INDUSTRI PIPA APUNG NASIONAL - 28/11/2011 02:41
- SENTUHAN TEKNOLOGI UNTUK PERAJIN TENUN SUMATERA SELATAN - 31/10/2011 07:03
Artikel Lainnya
- TINGKATKAN SAFETY TRANSPORTASI BATUBARA DENGAN TEKNOLOGI MEGAFLOAT DAN PUSHER BARGE SYSTEM - 19/10/2011 04:00
- DUKUNG PEMBANGUNAN KABUPATEN CILACAP DENGAN TEKNOLOGI - 26/04/2011 11:35
- GUBERNUR JAMBI: BERSAMA BPPT, CAPAI JAMBI EMAS 2015 - 01/04/2011 02:35
- FGD BENTUK KOMITMEN REALISASI PENGEMBANGAN PESAWAT N219 - 21/03/2011 02:30
- BPPT DUKUNG KEMENHAN MEREVITALISASI INDUSTRI PERTAHANAN NASIONAL - 17/03/2011 08:46

