Articles

Category: Press Release 2012

Pola makan masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke telah mengalami perubahan pasca diterapkannya swasembada beras, bantuan beras untuk kalangan miskin dengan kebijakan impor beras. Dahulu, makanan pokok orang Maluku dan Papua adalah sagu, penduduk Gunung Kidul mengkonsumsi singkong dan jagung cantel, sementara penduduk Grobogan memiliki beras jagung, sebagai pangan pokok masyarakat Tasikmalaya mengkonsumsi umbi garut. Kini, semua tinggal ceritera. Sekarang makanan pokok orang Indonesia adalah beras.

Kebijakan impor terigu di akhir tahun ’70-an, gempuran promosi beberapa industri pangan dengan produk andalan “mie” dan sifat tepung terigu yang “serba bisa” serta kemudahan untuk memperolehnya, mengendorkan keinginan kita untuk bertahan dengan sumber pangan lokal. Sekarang semua sepakat untuk mengatakan makanan pokok kedua masyarakat Indonesia adalah terigu, yang notabene mayoritas diimpor.

Masalah pangan adalah masalah kedaulatan, dan karenanya kita harus mandiri menyediakan dan tidak boleh menggantungkan ketersediaan pangan pada negara lain. Dengan demikian, pemberdayaan potensi lokal haruslah menjadi prioritas.

Impor Pangan

Walaupun produksi beras kita dari tahun ke tahun terus meningkat, namun dalam kurun 15 tahun (1996 – 2010), rata-rata impor mencapai 5,32% dari produksi dalam negeri. Sementara itu memenuhi gaya hidup dan pola makan yang terlanjur tercipta,  100% atau lebih dari 5 juta ton biji gandum dan tepung terigu kita impor. Pada tahun 2011, + US $ 30 juta (BPS, 2012) tabungan devisa kita telah mensubsidi petani gandum  di berbagai negara.

Potensi Sagu Papua

  1. Sagu (Metroxylon sp) merupakan sumber karbohidrat  yang potensial, sekitar 50% tanaman sagu dunia  atau 1.128 juta ha tumbuh di Indonesia (Flach1983), dan 80% dari jumlah tersebut berkembang di Provinsi Papua.
  2. Sekitar 40% dari jumlah tegakan sagu di Papua  merupakan tanaman produktif yang siap panen.
  3. Hutan sagu yang dimanfaatakan saat ini hanya  sekitar 1% (Universitas Negeri Papua, 2010).
  4. Produktivitas sagu yang belum dibudidayakan (hutan sagu alam) 40-60 batang/ha/tahun atau 10 ton pati sagu/ha/tahun, sehingga potensi sagu  hutan sagu Indonesia bila diolah mempunyai potensi 6,5 juta ton/th. Sedangkan potensi ini akan meningkat dua kali apabila hutan sagu sudah dapat dibudidayakan.
  5. Belum ada industri besar yang telah melakukan aktivitas bisnis, usaha skala kecil dilakukan masyarakat untuk makanan tradisional.
  6. Belum ada institusi yang membina pengembangan industri sagu.

 

Tantangan Pengembangan Industri Sagu Papua

  1. Infrastruktur tidak memadai (karena umumnya hutan sagu  berada pada daerah sangat terpencil).
  2. Masyarakat adat Papua belum dapat diyakinkan tentang keuntungan pengembangan sagu.
  3. Contoh keberhasilan pengelolaan hutan sagu menjadi industri yang menguntungkan di Papua belum ada
  4. Peran teknologi dalam pengelolaan industrialisasi sagu (pengelolaan hutan sagu) berkelanjutan, belum nyata.

 

Kesepakatan Bersama BPPT dan PT. Austindo Nusantara jaya Agri Papua (PT. ANJ Agri Papua)

  1. Tujuan Kesepakatan Bersama : mengembangkan dan memanfaatkan teknologi industri berbasis pati sagu untuk mendukung ketahanan pangan

Ruang lingkup :

  1. Desain dan rancang bangun peralatan produksi pasta  dari tepung sagu
  2. Desain dan rancang bangun proses dan peralatan bleaching tepung sagu
  3. Desain dan rancang pemanfaatan limbah biomasa industri sagu untuk energi listrik
  4. Pengembangan teknologi industri pengolahan pati sagu dan produk pangan hilirnya
  5. Pembinaan UKM dan pemasyarakatan UKM pengolahan pati sagu dan produk hilirnya

 

  1. PT. ANJ Agri Papua, saat ini merupakan satu-satunya investor di Papua yang telah menata hutan sagu menjadi kebun sagu seluas 40.000 hektar. Saat ini sedang dibangun dan dalam proses konstruksi pabrik pengolahan pati sagu 30.000 ton/bulan (akan berproduksi akhir tahun 2012).

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed