Articles
Category: Berita Teknologi Agroindustri & Bioteknologi
{rokbox}images/stories/tabprak.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/tabprak1.jpg{/rokbox}
‚Sebagai Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK), BPPT harus bisa menjawab tantangan permasalahan teknologi. Kita menyadari dimasa mendatang, tantangan yang dihadapi akan semakin besar, untuk itu diperlukan usaha dan komitmen yang kuat dari kita semua‚, demikian antara lain dikatakan Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) Wahono Sumaryono saat membuka acara Pra Rapat Kerja (Raker) Kedeputian TAB di Gedung Laboratorium Pengembangan Teknologi Industri Agro dan Biomedika (LAPTIAB) PUSPITEK, Serpong (4/02).
Dalam laporannya, Ketua Panitia Pra Raker Bambang Marwoto menyampaikan, ‚Sesuai tema Dengan Reformasi Birokrasi Kita Optimalkan Pemanfaatan Teknologi Bersama Mitra Kerja Untuk meningkatkan Daya Saing Industri, kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya meningkatkan peran Kedeputian TAB dalam mendukung perekonomian nasional‚.
Selain itu lanjut Bambang, Pra Raker yang akan berlangsung selama dua hari (4 dan 5 Februari), juga menghadirkan narasumber dari dunia industri. ‚Kehadiran narasumber dari dunia industri ini sangat penting bagi kita untuk mendapatkan informasi tentang apa yang sedang berkembang dan menjadi tren di dunia industri‚. Adapun narasumber yang hadir adalah GM Manufacturing Food PT Unilever Indonesia Maulana W Jumantara, Head of Agronomy Research Division PT Agra Agro Lestari Satyoso Hardjotedjo dan Presiden Komisaris PT Meiji Indonesia Ahaditomo.
Direktori berbasis kompetensi
‚Salah satu kendala yang ditemui dunia industri untuk mengembangkan riset produknya adalah sulitnya menemukan ahli-ahli yang tepat sesuai dengan riset yang kita kerjakan. Untuk itu, perlu adanya suatu buku atau direktori, yang memuat nama-nama ahli dengan bidang kompetensinya masing-masing‚, ungkap Maulana dalam presentasinya.
Direktori tersebut menurut Maulana, akan menjadi kemudahan tersendiri baik bagi dunia industri dan juga bagi dunia penelitian. ‚Dengan adanya direktori, akan tercipta sinergi positif antara kedua belah pihak. Dalam dunia industri, cara mengukur keberhasilan adalah dengan mengukur GDP negara. Apabila volume penjualan mampu melampui GDP negara, kita baru dibilang berhasil‚, katanya.
Lebih jauh Maulana mengatakan, Indonesia memiliki begitu banyak potensi yang dapat dikembangkan, kemudahan bahan baku dan tenaga kerja yang berkapabilitas adalah contoh dari sekian banyak potensi yang ada. ‚Sama halnya dengan kegiatan riset. setiap pengembangan suatu produk juga akan selalu menemui kesulitan. Agar produk kita bisa diterima dengan baik di masyarakat, kita harus bisa menyesuaikan dengan keinginan masyarakat. Buatlah apa yang bisa diterima‚, tegasnya.
Berbicara mengenai peluang pasar, Satyoso menjelaskan bahwa potensi Indonesia di industri kelapa sawit sangatlah besar. ‚Saat ini, kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan dunia akan Crude Palm Oil (CPO) mencapai 46%. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara terbesar penghasil CPO di dunia, dengan konsumen terbesar China dan India‚.
Untuk itu lanjut Satyoso, peluang untuk Indonesia untuk mengembangkan CPO masih sangat terbuka luas. ‚Terutama dalam pengembangan teknologi yang dipakai‚, tambahnya.
Menjawab hal tersebut, Wahono mengatakan BPPT memandang permasalahan tersebut sebagai tantangan permasalahan teknologi yang harus dihadapi. ‚Peluang-peluang untuk melakukan kerjasama pengembangan teknologi di industri CPO terlihat jelas‚.
Farmasi di Indonesia
‚Teknologi pembuatan obat jadi akan sangat berhubungan erat dengan konsumsi obat jadi, untuk itu sebelum melakukan penelitian dan pengembangan, harus terlebih dahulu memproyeksikan jangka panjang‚, papar Ahaditomo.
Dengan melakukan proyeksi jangka panjang, menurut Ahaditomo, akan dapat membuat penelitian dan pengembangan produk menjadi lebih terarah. ‚Misalnya setelah melihat kondisi real dan proyeksi ke depan, BPPT memutuskan untuk lebih fokus pada pengembangan untuk alimentary dan metabolism, atau pada pengembangan systemic anti-infectives‚.
Ahaditomo menilai, untuk bisa masuk ke dalam pasar internasional, industri-industri di Indonesia harus bisa memenuhi standar-standar dari negara lain, termasuk dalam teknologi yang digunakan. ‚Indonesia perlu membuka peluang untuk bekerjasama dengan foreign strategic partners, seperti untuk bidang biological molecules‚, contohnya. ‚Dengan itu, target molecules untuk export market, selain untuk domestic market dapat terwujud‚, tambah Ahaditomo. (YRA/humas*)
Artikel Terbaru
- KOMISI VII DPR KUNJUNGI AGRO TECHNO PARK DI SUMATERA SELATAN - 25/06/2010 07:56
- DIFUSI TEKNOLOGI SIDAT UNTUK PEMBERDAYAAN POTENSI DAERAH - 11/05/2010 08:02
- PERLU PENGUATAN KEMAMPUAN LABORATORIUM DALAM NEGERI - 16/04/2010 13:39
- KEBERPIHAKAN PADA OBAT HERBAL - 22/03/2010 01:04
- DEPUTI TAB: RUMUSKAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF TERHADAP MASYARAKAT DAN INDUSTRI - 10/02/2010 06:47
Artikel Lainnya
- PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI OBAT BAHAN ALAM BPPT MENARIK MINAT PENELITI ASING - 03/02/2010 05:34
- BPPT AKAN MERILIS IKAN NILA SALIN 20 - 18/01/2010 01:00
- VAKSIN VIBRIO UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN NASIONAL - 13/01/2010 01:37
- KEPALA BPPT: TARGET BPPT 2010 , SISTEM KEREKAYASAAN DILAKSANAKAN SELURUH UNIT KERJA - 12/01/2010 03:57
- PROSPEK BUDIDAYA IKAN KERAPU DI AIR PAYAU - 11/01/2010 01:52

