Articles

Category: Berita Teknologi Agroindustri & Bioteknologi

{rokbox}images/stories/sp1.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/sp4.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/sp3.jpg{/rokbox}

Indonesia memiliki potensi hasil perikanan yang berlimpah, diantaranya terdapat komoditas perikanan unggulan yang potensial untuk dikembangkan secara optimal di laut maupun darat. Peningkatan konsumsi ikan secara nasional adalah faktor kunci dari keberhasilan program penguatan pemasaran produk perikanan dalam negeri. Ketersediaan induk unggul dan benih bermutu kepada masyarakat pembudidaya juga menjadi satu faktor penentu keberhasilan dalam meningkatkan produktivitas usaha budidaya, khususnya budidaya air tawar.

Ikan Nila merupakan spesies budidaya air tawar yang dikenal luas di masyarakat, dan telah menjadi andalan komoditas perikanan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan peningkatan ekspor komoditas perikanan. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang dapat diproduksi secara massal, mudah dipelihara, dan produk daging ikan Nila dalam bentuk fillet sangat diminati pasar dunia, sehingga memiliki pasar ekspor yang luas di pasar internasional.

Prospek ikan Nila yang positif di pasar internasional ditunjukkan dengan konsumsi ikan Nila di Eropa dan Amerika yang senantiasa menunjukkan kenaikan. Amerika Utara contohnya, pada tahun 2004 telah mengimpor ikan Nila sebanyak 112.945 ton. Sudah seharusnya situasi itu dimanfaatkan oleh Indonesia yang berpotensi besar untuk menjadi pengekspor ikan Nila. Pemerintah pun perlu memberikan stimulus dan insentif sebagai pemacu semangat petaninya.

Stimulus tersebut diwujudkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam kegiatan ‚Diseminasi Benih Ikan Nila Unggul Monosex Jantan GMT-GESIT‚, yang diadakan di Agro Techno Park (ATP) Palembang, Sumatera Selatan (16/1). BPPT pada acara ini menyerahkan 250.000 ekor benih ikan Nila unggul monosex jantan GMT (Genetically Male Tilapia), anakan dari ikan Nila unggul super jantan GESIT (Genetically Indonesian Supermale Tilapia) kepada 25 petani Kabupaten Muara Enim dan Ogan Ilir, Propinsi Sumatera Selatan masing-masing 10.000 ekor/petani.

Sebagai produk teknologi baru, para pembudidaya masih banyak yang belum mengetahui bahwa ikan Nila GMT yang berkelamin jantan, lebih cepat tumbuh dibandingkan jenis betinanya. ‚ Oleh karena itu upaya pemasyarakatan guna mempercepat perluasan pengembangan dan pemanfaatan benih ikan Nila Gesit di masyarakat perlu terus ditingkatkan,‚ ujar Marzan A. Iskandar, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dalam sambutannya.

Ikan Nila GESIT sendiri merupakan hasil kaji terap tim perekayasa dan peneliti dari BPPT dan beberapa instansi terkait seperti DKP, dan Fakultas Perikanan IPB. Sentuhan teknologi berhasil mewujudkan perbaikan mutu genetika dan dinamakan ikan Nila GESIT ini, yang telah di launching pada akhir 2006. Ikan Nila GESIT ini apabila dikawinkan dengan betina normal akan menghasilkan anakan, berupa benih unggul yang sekitar 96-100% adalah monosex jantan GMT. ‚Anakan ini memiliki ukuran seragam dan akan tumbuh lebih cepat dibandingkan populasi ikan Nila biasa,‚ jelas Marzan mengenai keunggulan dari ikan Nila GESIT tersebut.

‚Serah terima ini sendiri merupakan sebuah upaya memberikan percontohan tentang alih teknologi pertanian ke masyarakat. Pemerintah juga akan terus berusaha melakukan fungsi ‚ fungsi pemberdayaan terhadap petani dalam rangka meningkatkan kualitasnya,‚ ujar Suharna Surapranata, Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Menristek juga menyatakan kepada Pemerintah Daerah untuk terus memberikan semangat kepada para petani untuk terus bekerja untuk meningkatkan kualitasnya. ‚ Perhatian dari pemerintah, saya kira akan tetap dipertahankan dan ini harus dimanfaatkan sebagai insentif, dan stimulus,‚ tambahnya.

Sudah saatnya juga bagi para pelaku IPTEK untuk ikut mencermati, merasakan, dan memikirkan permasalahan yang dimiliki masyarakat guna ikut mencari solusi pemecahan masalah melalui berbagai kegiatan riset. Untuk mewujudkannya, diperlukan peran semua pihak mulai dari pemerintah, akademisi, peneliti dan perekayasa, serta industri dan masyarakat.

‚Kami sangat respek terhadap kegiatan ini, bahwa hasil kaji terap teknologi BPPT sudah mencakup sampai ke kehidupan masyarakat. Mewakili masyarakat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, saya mengucapkan terima kasih,‚ ujar Eddy Yusuf , Wakil Gubernur Sumsel.

Sudah menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan kesempatan yang luas bagi masyarakat, dan sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat juga untuk mengambil kesempatan tersebut. ‚Masyarakat harus mampu mengembangkan dirinya sehingga mampu untuk mandiri, dan meningkatkan usaha dan produktivitasnya,‚ tambah Eddy.

Pengembangan Ikan Nila

Sesuai dengan Roadmap pengembangan ikan Nila ungul, saat ini BPPT sedang mengembangkan strain unggul ikan Nila salin 20. Ikan jenis ini nantinya bisa hidup pada perairan yang memiliki salinitas 20 permil. Pengembangan ikan Nila jenis ini juga ditujukan untuk mendukung pemanfaatan lahan tambak yang selama ini tidak dimanfaatkan secara optimal atau terbengkalai. Luas lahan di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 1,2 juta ha, dan baru dimanfaatkan sekitar 35 persennya saja.

‚BPPT, akan terus mengembangkan ikan Nila unggul strain baru melalui perbaikan dan pengayaan genetik, sehingga secara periodik dapat di lepas ke masyarakat. Kami pun berharap Ikan Nila Salin 20 dapat di release pada tahun 2011, dan semoga launching-nya nanti bisa dilakukan di ATP ini kembali,‚ ungkap Kepala BPPT.

Selain ikan Nila GESIT, pada acara yang berlangsung di Kawasan ATP Palembang tersebut, juga diserahkan produk pertanian hasil kaji terap teknologi lainnya. ‚Sapi yang telah di inseminasi buatan, benih kedelai, benih jagung, disampaikan ke petani sebagai sebuah alih teknologi pertanian, dan semoga dapat dikembangkan secara optimal. Terima kasih kepada BPPT yang tekal memberikan kontribusinya kepada pembangunan,‚ tutup Menristek. (SP/humas)

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed