Articles

Category: Press Release 2012

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang optimis dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7,6% akan mendorong peningkatan kebutuhan energi domestik. Diperkirakan kebutuhan energi domestik akan meningkat pesat mencapai 3 kali dari tingat kebutuhan pada 2010, tetapi di sisi lain kurang dapat diimbangi oleh produksi energi yang hanya mencapai 1.9 kali dalam kurun waktu 2010-2030. Melihat kondisi demikian, apakah yang akan terjadi dengan situasi energi Indonesia hingga tahun 2030?

 

Sebagai upaya untuk memberikan gambaran permasalahan dan tantangan energi dalam mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi nasional yang secara bersamaan mengupayakan terjaminnya ketahanan energi nasional, BPPT telah menyusun Buku Outlook Energi Indonesia (OEI) 2012 yang bertemakan “Pengembangan Energi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Energi Nasional”.  Mengantisipasi program MP3EI, pada OEI 2012 pertumbuhan ekonomi dibuat dalam 2 skenario, yaitu skenario dasar dengan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 7,6% dan skenario MP3EI dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 10,4% per tahun, sementara jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2030 mencapai 301,67 juta jiwa pada kedua skenario.

 

Sesuai skenario MP3EI, kebutuhan energi diperkirakan akan lebih pesat menjai 4,3 kali dari tahun 2010. Dalam jangka pendek, kedua skenario tidak memproyeksikan perbedaan yang signifikan, tetapi pada tahun 2030, kebutuhan energi sesuai skenario MP3EI diperkirakan akan mencapai 1,5 kali kebutuhan energi yang diperkirakan sesuai skenario Dasar, yakni mencapai 4.400 juta SBM. Pada tahun 2030, kebutuhan energi utama terjadi di sektor industri yang diperkirakan tetap dominan mencapai 43% diikuti sektor transprotasi sebesar 35%.

 

Di masa depan, kontribusi impor energi semakin diperlukan. Sesuai skenario Dasar, impor energi meningkat dari 18,9% pada tahun 2010 menjadi 35,7% pada tahun 2030 atau besarnya meningkat menjadi 6 kali lipat dari 250 juta SBM (2010) menjadi 1464 juta SBM (2030). Skenario MP3EI memperkirakan laju pertumbuhan impor energi yang lebih besar (rata-rata 11,7% per tahun) atau besarnya meningkat 9 kali lipat terhadap tahun 2010, yaitu menjadi 2.270 juta SBM dengan rasio kontribusi impor mencapai 36,9% dari total penyediaan energi. Jenis energi yang akan mendominasi impor adalah minyak bumi dan BBM (86%), diikuti oleh LNG (10%) dan LPG (4%). Sesuai skenario Dasar, impor LNG mulai diperlukan untuk mengisi kekurangan pasokan pada tahun 2019 dan akan lebih cepat menjadi 2016 sesuai skenario MP3EI.  

 

Hingga tahun 2030, batubara akan menjadi komoditas utama (andalan) energi di masa depan dengan kontribusi pasokan energi domestik mencapai 38% dan terutama digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan industri. Pangsa gas bumi akan mengalami penurunan hingga di bawah 10% pada tahun 2030, sedangkan pangsa EBT diperkirakan akan meningkat menjadi 17,5% akibat pertumbuhan yang pesat (rata-rata 8,5% per tahun). Sesuai skenario MP3EI, EBT akan memiliki pangsa penyediaan yang lebih kecil akibat pertumbuhan yang lebih lambat daripada pertumbuhan energi total, namun secara kuantitatif lebih meningkat dibandingkan skenario Dasar, yakni 970 juta SBM atau naik . Jenis EBT yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan di masa depan adalah bahan bakar nabati (BBN) dan listrik dari energi panas bumi.

 

Prakiraan pemanfaatan tenaga listrik total di semua sektor pada tahun 2015 adalah sebesar 123,7 TWh untuk skenario Dasar dan 129,5 TWh untuk skenario MP3EI. Secara keseluruhan, selama periode 2010-2030, pemanfaatan tenaga listrik total diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan hingga mendekati 6 kali, yaitu akan mencapai 846 TWh pada tahun 2030 atau tumbuh sebesar 9,1% per tahun. Selanjutnya untuk skenario MP3EI akan mencapai 1.233 TWh pada tahun yang sama, atau tumbuh sebesar 11,2% per tahun. Kapasitas pembangkit listrik nasional diproyeksikan akan meningkat hingga 5 kali. Pertumbuhan kapasitas pembangkit sesuai skenario Dasar terjadi dengan laju rata-rata 8,2% per tahun dari 33,2 GW (2010) menjadi 162 GW (2030). Sesuai skenario MP3EI, kapasitas pembangkit listrik tersebut akan tumbuh jauh lebih tinggi, sekitar 10%, dimana pada tahun 2030 diproyeksikan akan mencapai 228 GW.

 

Pembangunan infrastruktur penyediaan energi akan diperlukan untuk mendukung ketahanan energi dimasa depan seperti penambahan kapasitas pembangkit listrik, kapasitas kilang minyak, kilang LNG, terminal LNG dan pelabuhan batubara.

 

Pada hari Selasa, 23 Oktober 2012 bertempat di Ruang Komisi Utama, BPPT mengadakan peluncuran buku Outlook Energi Indonesia 2012. Buku Outlook Energi Indonesia 2012 adalah hasil studi Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi (PTPSDE) BPPT mengenai strategi penyediaan energi jangka panjang di Indonesia. Buku Outlook Energi Indonesia 2012 memberikan gambaran permasalahan energi hingga tahun 2030 yang meliputi kondisi kebutuhan dan penyediaan energi, minyak bumi dan bahan bakar cair, gas bumi, batubara serta ketenagalistrikan hingga tahun2030.


Buku ini merupakan kontribusi BPPT dalam memberikan gambaran energi dimasa mendatang dalam kaitannya dengan penetrasi teknologi energi dan kebutuhan infrastruktur energi dalam rangka mendukung diversifikasi sumberdaya energi yang berkelanjutan di masa mendatang.

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed