“Dalam soal kelapa sawit, BPPT bukan hanya berperan sebagai technology provider, namun juga melakukan intermediasi, audit teknologi, Technology Clearing House,pengkajian teknologi serta solusi teknologi. Kalau program ini diintroduksi di masyarakat, maka diharapkan permasalahan terkait produksi sawit di masyarakat dapat diatasi dan nilai tambah usaha sawit rakyat berkembang sehingga nilai tambah akan dinikmati petani,” ungkap Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Listyani Wijayanti saat membuka acara Expose Teknologi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Mini di LAPTIAB Puspiptek Serpong (7/2).
Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara BPPT Enjiniring dengan Business Inovation Center dalam rangka mensosialisasikan hasil inovasi teknologi rancang bangun PKS mini BPPT berkapasitas 5 dan 10 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam. Acara tersebut menghadirkan pembicara antara lain Perekayasa Pabrik Kelapa Sawit BPPT, Indra Budi Susetyo dan Hermawan Kusbudiarto, Operation Director PT Tracon.
Pada kesempatan yang sama, dalam keterangannya dengan beberapa media cetak, Direktur Pusat Teknologi Agroindustri BPPT, Priyo Atmaji mengatakan bahwa pengembangan teknologi PKS mini tersebut dalam rangka membantu petani kelapa sawit atau pemilik perkebunan kecil agar mampu memproduksi CPO sendiri. Rancangan PKS mini tersebut berkapasitas 5 dan 10 ton tandan buah segar (TBS) per jam. “selama ini PKS yang ada di Indonesia masih berskala besar dengan kapasitas 30 ton TBS per jam dan memerlukan area perkebunan yang cukup luas hingga 6000 hektare. Padahal secara individual perkebunan rakyat tidak mencapai luasan yang mampu memenuhi PKS tersebut. Untuk itu BPPT berupaya membantu dengan membangun PKS mini dengan kapasitas 5-10 ton TBS per jam ini,” jelasnya.
"Untuk PKS mini, perkebunannya cukup seluas 1.000 hingga 1.500 hektare saja. Petani jauh lebih dekat menyetor ke pabrik mini ini dibandingkan dengan pabrik besar. Lebih dekat jaraknya membuat sawit yang diolah selalu dalam keadaan segar. Karena harga sawit bisa jatuh bila tidak segera diolah jadi CPO,” lanjutnya.
Sejak tahun 2001 BPPT sudah mulai mengembangkan PKS Mini dengan kapasitas2 ton TBS per jam yang dibangun di Kabupaten Kampar dan dilanjutkan dengan PKS berkapasitas 5 TBS per jam yang dibangun di Kabupaten Bengkalis, Riau. PKS Mini ini dirancang agar cocok untuk melayani tidak saja perkebunan rakyat, tetapi juga perusahaan perkebunan sawit dengan kebun yang terpencar-pencar dengan luasan masing-masing kebun yang relatif kecil.
Pabrik CPO BPPT, jelas Priyo, membutuhkan lahan 2 hektare, dekat sumber air, ada akses pembuangan limbah cair dan ada akses jalan atau sungai yang mampu dilewati beban TBS dan CPO minimal 40 ton. “Proses yang digunakan dalam PKS mini adalah proses kontinyu dengan peralatan yang mudah dalam pengoperasian dan perawatannya. Selain itu bahan bakar PKS mini sama sebagaimana pada PKS umumnya yaitu serabut dan cangkang sawit. PKS mini telah dirancang dan dikembangkan dalam satu sistem peralatan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomi. Pabrik CPO terdiri dari beberapa unit, seperti penerimaan buah, sterilisasi, perontokan buah, ekstraksi, pemurnian, pengeringan minyak, pengambilan serabut, nut dan kernel, unit penyimpanan CPO serta unit pengolahan limbah dan pembangkit listrik serta kantor, bengkel, lab dan pengolahan air,” jelas Priyo. (TRAYS/humas)