Articles

Category: Berita Layanan Info Publik

Secara umum dalam Buku Outlook Energi BPPT membahas kontribusi BPPT dalam memberikan gambaran dan tantangan permasalahan energi di masa mendatang yang merupakan cermin dari kebijakan dan peraturan serta kondi makro yang ada saat ini. Tidak hanya itu, Outlook Energi juga memaparkan secara detil mengenai permasalahan kelistrikan di Indonesia, mulai dari produksi listrik hingga pada infrastruktur pembangkit listrik.

Berkaitan dengan hal itu, Kepala BPPT, Marzan aziz Iskandar menanggapi dari sisi penggunaan energi. Dalam wawancara eksklusif dengan media, Ia mengatakan pemanfaatan energi masih belum menunjukkan secara signifikan, karena dengan adanya kebijakan subsidi bahan bakar dan listrik dapat menyebabkan secara langsung atau tidak langsung mengarah pada ketidakberpihakan pada upaya-upaya konservasi atau penghematan energi.

Kedepannya, sambungnya berdasarkan outlook energi tersebut diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan seperti pemerintah, industri, sektor komersial dan pengguna energi dapat memperbaiki kebijakan, perencanaan, pelaksanan serta penggunaan energi. Karena Outlook energi ini selalu diupdate setiap tahunnya secara objektif sehingga berperan sebagai early warning system.

Sementara itu pada permasalahan kelistrikan, katanya masih sangat didominasi batu bara. Oleh karena itu, kedepannya masih perlu pengkajian agar penggunaan minyak harus sesegera mungkin disubsitusikan dengan Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti PLTS, angin, panas bumi skala kecil, dan arus laut.

Marzan kembali menekankan bahwa semua potensi yang dapat membangkitkan listrik itu seharusnya dikaji lebih lanjut untuk dilihat kemungkinannya pemanfaatannya. Di bidang kelistrikan ini masih banyak hal-hal yang harus diperbaiki dan disempurnakan dimasa mendatang tegasnya.

Di Indonesia, sebenarnya memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan untuk energi kelistrikan diantaranya geothermal, surya, microhydro, arus laut serta angin meskipun di indonesia kecepatannya tidak begitu besar sehingga output yang dikeluarkan hanya mencapai 1 MW tidak sebesar di eropa yang dapat mencapai 5 MW jelasnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, saat ini sudah berkembangnya dan tersedianya teknologi seperti turbin-turbin angin dengan kecepatan rendah tetapi dapat mengeluarkan daya yang cukup baik. BPPT pun sedang mengkaji untuk melihat pemanfaatan teknologi di daerah-daerah yang membutuhkannya tambahnya.

Pemanfaatan EBT, didukung pula dengan dikeluarkan Peraturan Presiden No 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres tersebut sudah dinyatakan bahwa sasarannya untuk mewujudkan energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025 dengan mengkonsusmsi EBT ungkap Marzan.

Upaya mewujudkannya, kata Marzan harus sesegeranya menyusun dan menetapkan langkah-langkah real, dan dalam program ini pemerintah harus menjadi lokomotif dengan mengambil semua perhitungan untung dan ruginya serta mengumpulkan informasi untuk mendapatkan prioritas dan keberpihakan serta sampai adanya keyakinan dari semua pihak bahwa EBT adalah suatu keharusan paparnya.

Harapan kedepannya EBT harus menjadi prioritas, dan suatu saat nanti pastikan EBT dapat mencapai porsi yang besar tutup Marzan. (KYRAS/humas)

Add comment


Security code
Refresh

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed