Articles

Category: Press Release 2011

Peningkatan produksi ikan dari hasil penangkapan  saat ini sulit terwujud seiring produksi ikan melalui penangkapan telah mengalami stagnasi. Penyediaan ikan melalui budidaya tentunya menjadi pilihan utama untuk mengakselerasi peningkatan produksi.  Indonesia yang kini dihadapkan pada kondisi kritis ketersediaan pangan, tidak dapat bergantung pada pangan karbohidrat saja. Kita pun memerlukan sumber protein hewani terutama ikan.

Perkembangan pengetahuan gizi juga menekankan pentingnya ikan bagi kesehatan terutama untuk meningkatkan kecerdasan yang diperlukan oleh kita untuk menjadi bangsa yang unggul.  Dengan demikian peningkatan produksi ikan secara berkelanjutan merupakan tantangan utama bagi kita semua.

Tantangannya tentu tidak ringan, isu perubahan iklim global dan degradasi lingkungan mempengaruhi ketersediaan pangan protein dari ikan. Lahan budidaya di perairan air tawar cenderung menyempit akibat desakan pemanfaatan untuk industry dan pemukiman.  Sementara itu diperkirakan sekitar  30 - 40% dari total 1,2 juta hektar lahan pertambakan dalam kondisi terlantar tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.  Di Propinsi Jawa Barat hanya 40% dari 75.000 hektar lahan pertambakan yang dimanfaatkan untuk budidaya udang dan ikan bandeng.

Selain itu permasalahan di tingkat pelaku budidaya seperti  lahan budidaya yang tidak termanfaatkan, rendahnya produktifitas lahan akibat tidak tersedianya induk dan benih yang berkualitas unggul, dan harga pakan yang semakin tinggi tetapi tidak diikuti dengan perbaikan kualitas pakan serta permasalahan gagal panen akibat serangan penyakit juga merupakan tantangan yang harus segera dicarikan solusinya. 

Menghadapi hal demikian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai institusi “Pusat Unggulan Teknologi” memberikan solusi dalam bentuk inovasi teknologi melalui Program “Pengkajian dan Penerapan Teknologi Produksi Ikan Nila Salin Unggul” yaitu \

ikan nila yang memiliki kemampuan toleransi tinggi untuk tumbuh dan berkembang pada perairan dengan salinitas > 20 ppt. Dengan demikian ikan nila yang biasa dibudidayakan pada perairan tawar,  juga dapat dikembangkan pada perairan payau.

 

Selain Ikan Nila Salin Unggul, BPPT juga menyiapkan pakan suplemen protein rekombinan pertumbuhan untuk pemacuan pertumbuhan ikan nila dan vaksin DNA Streptococcus untuk memberikan daya tahan yang tinggi pada ikan nila terhadap serangan bakteri Streptococcus. Keduanya  yang merupakan hasil terbaru dalam inovasi teknologi “Genetika Terapan” BPPT, bertujuan untuk memperkuat usaha budidaya ikan nila Salin yang dapat memasuki tahapan industri.  Kegiatan ini telah memasuki tahap akhir pengujian dan uji multilokasi yang akan dituntaskan pada tahun 2012 untuk kemudian diajukan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk merilisnya, sebagai lembaga yang berwenang merilis galur atau varietas ikan baru di Indonesia.

 

Untuk mendapatkan tingkat pemanfaatan hasil rekayasa teknologi secara maksimum, BPPT yang mengutamakan kemitraan memberikan apresiasi yang besar kepada calon mitra pengguna yang pada kesempatan ini telah menyatakan keinginannya sebagai mitra pelaksana maupun mitra pengguna.  Beberapa calon mitra tersebut adalah; Koperasi GAPURA-Perhimpunan Petani Tambak Pantura yang akan mengembangkan “Kawasan Budidaya Ikan Nila Salin” di Kabupaten Karawang. Kemudian Pemerintah Kabupaten Bantaeng yang akan mengembangkan Pusat Pembenihan Ikan Nila Unggul untuk mendukung pengembangan budidaya ikan nila di Propinsi Sulawesi Selatan dan industry dan ekspor produk olahan. Selain itu ada juga PT. Nusa Ayu Karamba yang bermitra untuk pengujian pakan protein petumbuhan dan vaksin DNA pada  budidaya ikan system Karamba Jaring Apung di perairan laut. Beberapa calon mitra lainnya seperti Pemerintah Kabupaten Kampar dan Koperasi Primer Nasional Masyarakat Perikanan Terpadu Indonesia juga akan bekerjasama dalam Pengembangan Ikan Nila.

 

Pengembangan paket ikan nila SALIN dengan pakan rGH dan vaksin DNA Streptococcus  merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia. Diharapkan hal ini akan memacu pertumbuhan produksi ikan sebagai sumber pangan protein hewani bagi masyarakat sekaligus untuk tujuan peningkatan ekspor melalui pemanfaatan 30-50% lahan pertambakan di sepanjang pantai yang selama ini terlantar.   Keberhasilan program kegiatan ini akan menjadi kontribusi BPPT tidak hanya dalam mendukung program nasional ketahanan pangan tetapi sekaligus mempromosikan sumber pangan yang unggul dan memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim global.

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed