Articles

Category: Press Release 2011

Apakah yang akan terjadi dengan situasi energi Indonesia pasca tahun 2030? Pada saat itu, Indonesia diperkirakan sudah menjadi negara pengimpor energi (net energy importing country) karena produksi energi domestik sudah tidak dapat lagi memenuhi konsumsi dalam negeri. Di satu sisi, kebutuhan energi domestik meningkat pesat mencapai 4,2 kali dari tingat kebutuhan pada 2009 tetapi di sisi lain kurang dapat diimbangi oleh produksi energi yang hanya mencapai 2 kali terhadap kondisi saat ini.

 

Pada tahun 2030, diperkirakan impor energi (semua jenis) akan mencapai 1,05 milyar setara barel minyak (SBM). Jenis impor akan didominasi oleh impor BBM (57%), kemudian diikuti oleh minyak mentah (36%) dan LPG (6,8%), sementara jumlah impor batubara sangat kecil. Hal ini disebabkan karena adanya kesenjangan antara kebutuhan energi domestik terhadap kemampuan produksi energi domestik. Namun demikian, pada tahun 2030 diperkirakan produksi energi dari sumber-sumber EBT berpeluang mencapai 524 juta SBM atau naik 12,4 dari kondisi saat ini. Jenis EBT yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan di masa depan adalah bahan bakar nabati (BBN) dan listrik dari energi panas bumi.

 

Untuk energi jenis minyak bumi, diperkirakan akan terjadi defisit yang mencapai 387 BM barel (atau sedikit melebih 1 juta barel per hari), untuk jenis BBM defisit diperkirakan mencapai 614 juta SBM pada tahun 2030. Sementara itu, cadangan gas bumi sudah menipis. Batubara diperkirakan akan menjadi sumberdaya energi utama bagi Indonesia. Pada tahun 2030, diperkirakan tingkat konsumsi batubara domestik mencapai 470 juta ton.

 

Kebutuhan LPG pada tahun 2030 akan meningkat mencapai 12 juta ton dimana sekitar 9 juta ton perlu dipenuhi dari impor. Sementara itu, konsumsi listrik diperkirakan akan naik hampir 7 kali (6,6) atau tumbuh sebesar 9,4% per tahun dari 135 TWh tahun 2009 menjadi 890 TWh tahun 2030. Tingginya produksi listrik memerlukan pembangunan kapasitas pembangkit listrik hampir mencapai 6 kali lipat, dari 34 GW pada tahun 2009 menjadi 180 GW pada tahun 2030, atau tumbuh dengan laju rata-rata 6,5% per tahun. Pembangkit listrik berbahan bakar batubara merupakan jenis pembangkit listrik yang dominan dengan pangsa 73% sehingga keandalan pasokan batubara menjadi penting dalam menjamin kelangsungan penyediaan listrik.

 

 

 

Pada hari Rabu, 14 Desember 2011 bertempat di Ruang Emerald, Crowne Plaza Hotel, BPPT akan mengadakan peluncuran buku Outlook Energi Indonesia 2011. Buku Outlook Energi Indonesia 2011 adalah hasil studi Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi (PTPSDE) BPPT mengenai strategi penyediaan energi jangka panjang di Indonesia. Buku Outlook Energi Indonesia 2011 memberikan gambaran permasalahan energi hingga tahun 2030 yang meliputi kondisi kebutuhan dan penyediaan energi, minyak bumi dan bahan bakar cair, gas bumi, batubara serta ketenagalistrikan hingga tahun 2030 dengan mempertimbangkan penerapan teknologi yang layak secara ekonomi, handal, dan dapat diterima oleh masyarakat.

 

Tema khusus yang diangkat pada buku Outlook Energi Indonesia 2011 adalah Energi masa depan di sektor transportasi dan ketenagalistrikan.  Buku ini merupakan kontribusi BPPT dalam memberikan gambaran energi dimasa mendatang dalam kaitannya dengan penetrasi teknologi energi dan kebutuhan infrastruktur energi dalam rangka mendukung diversifikasi sumberdaya energi yang berkelanjutan di masa mendatang. (PTPSDE/humas BPPT)

Berbagi

FacebookTwitterLinkedinRSS Feed